Pangannews.id Lampung - Dalam program aksi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian 2019-2024 telah ditetapkan bahwa salah satu capaian yang ingin diraih hingga 2024 adalah menumbuhkembangkan 2,5 juta Pengusaha Pertanian Milenial. Jika di-breakdown maka ditargetkan ada 500 ribu Pengusaha Pertanian Milenial yang harus “dicetak” dalam setahun melalui program BPPSDMP ini.
Di tengah stagnasi regenerasi pertanian, yang ditandai rendahnya minat generasi muda untuk terjun menjadi petani, program ini memberi angin segar yang sangat positif bagi kelangsungan masa depan pembangunan pertanian dan ketersediaan pangan. Hanya saja bagaimanakah secara operasional agar gagasan yang sangat luhur ini bisa berjalan dan terealisasi dengan baik? ini yang semesti dirumuskan dengan jelas.
Dalam beberapa keempatan, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian menyampakain bahwa Program “mencetak” pengusaha pertanian milenial ini ini aka banyak direalisasikan melalui kegeiatan di Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S). Kata kunci yang bisa saya tarik benang merah dari gagasan Kepala Pusat Pelatihan tersebut adalah pada keberadaan P4S yang telah memiliki komoditas unggulan yang akan dijadikan role model dan sentral bagi pengembangan SDM Petani Milenial melalui pelatihan, permagangan, demplot, demfarm dll. Gagasan ini sangat masuk akal dan harus mendapat dukungan semua pihak.
Tulisan ini adalah sekadar gagasan pelengkap kiranya bisa menjadi tambahan masukan agar secara tekis operasional gagasan mencetak generasi petani milenial yang sudah ditetapkan secara terukur dalam angka 2,5 juta tersebut lebih operasional lagi.
Peran Balai Pelatihan dan Widyaiswara
Jika kita ibaratkan Pasukan Perang, “Gugus tempur” utama di Pusat Pelatihan Pertanian adalah UPT Balai/Balai Besar Pelatihan Pertanian dengan Pasukan Intinya berupa personel Widyaiswara. Oleh karena itu dalam konteks mencetak Pengusaha Pertanian Milenial ini adalah sangat masuk akal jika UPT Balai/ Balai Besar Pelatihan dan Widyaiswaranya bisa dikerahkan secara maksimal dalam “OPERASI MENCETAK PENGUSAHA PERTANIAN MILENIAL” ini.
Ada dua” jalur operasi” yang menurut saya bisa ditempuh untuk ini. Yang pertana adalah adalah “jalur optimalisasi pelatihan dan yang kedua adalah jalur bantuan startegis untuk P4S. Berikut penjelasannya:
- Jalur Operasi Optimalisasi Pelatihan
Jalur ini sebenarnya memanfaatkan kegiatan pelatihan yang memang sudah biasa dan rutin dilakukan di UPT Balai/ Balai Besar Pelatihan Pertanian. Bisa dikatan=kan ini sebenarnya jalur operasi konvensional karena memang selama ini sudah berjalan.
Hampir semua jenis pelatihan untuk non aparatur bisa dimanfaatkan untuk tujuan operasi mencapai angka 2,5 juta pengusaha pertanian milenial ini. Sekedar ilustrasi, Pelatihan Sayuran Organik misalnya, pelatihan ini sebenarnya secara riil akan bisa melahirkan alumni pengusaha sayuran organik jika proses Pra dan Pasca pelatihannya bisa dikelola dan diarahkan dengan baik.
Dalam pandangan penulis, selama ini proses pelatihan berjalan sudah berlangsung baik. Hanya saja out come atau imbal hasil yang diharapkan pasca pelatihan memang hampir tak mendapatkan porsi perhatian yang layak: perkembangan alumi pelatihan setelah mendapat pembekalan kompetensi di Balai/ Balai Besar Pelatihan tidak termonitor dengan baik. Akibatnya dampak dan manfaat pelatihan yang selama ini telah dilaksanakan di lapangan menjadi tak terukur. Ke depan hal seperti ini tidak boleh terulang, apalagi ke depan pelatihan pertanian yang dilaksanakan di Balai/ Balai Besar Pertanian sangat diharapkan bisa ikut menyuplai angka di antara 2,5 juta Pengusaha Pertanian Milenial yang akan dicetak.
Dalam konteks ikut andil menyulai angka Pengusaha Pertanian Milenial melali jalur pelatihan, langkah-langkah berikut barangkali layak untuk ditempuh:
- Tentukan pelatihan apa saja yang akan di-plot untuk mencetak Pengusaha Pertanian Milenial.
Dari seluruh pelatihan yang sudah direncanakan tahun 2020 misalnya, semestinya ada beberapa belatihan yang memang fokus dirancang untuk mencetak Pengusaha Pertanian Milenial. Misalnya saja: Pelatihan Kewirausahan untuk Pemuda Tani, Pelatihan Hidroponik, Pelatihan Sayuran Organik, dll. - Untuk mematikan peserta tepat sasaran, dimana indikatornya diantaranya muda dan memiliki minat tinggi untuk menjadi pengusaha agribisnis, dan familiar dengag dunia IT, maka pendaftaran harus diopen secara on line. Jadi peserta daftar sendiri, bukan disuruh-suruh olah orang lain atau “suruhan” pihak Dinas Kabupaten. Jadi peserta mendaftar karena “ingin belajar”.
Dalam kaitan ini, sosialisasi hendaknya gencar dilakukan lewat media sosial baik Facebook, Twiter maupun Instagram yang dimiliki UPT Balai/Balai Besar Pelatihan Pertanian.
- Kurikulum Pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa sehingga aspek-aspek skil pengusaha atau kewirausahaan tercover, seperti skiLl penjualan, analisa usaha, negosiasi dll.
- Pada semua pelatihan yang telah ditetapkan sebagai pelatihan untuk mencetak Pengusaha Milenial Agribisnis peserta hendaknya diwajibkan menyusun RENCANA BISNIS (BUSINESS PLAN), baik baru atau pengembangan, sebagai dasar bagi pembinaan lebih lanjut pasca pelatihan.
- Pembinaan lebih lanjut yang dimaksudkan di sini adalah berupa Inkubasi Usaha pada Inkubator Agribisnis di UPT Balai Pelatihan. Widyaiswara penanggungjawab akademis pada setiap pelatihan hendaknya diberi kewenangan dan tanggung jawab untuk melakukan inkubasi kepada para alumni pelatihan ini, baik secara tim dengan dengan melibatkan widyaiswara lain atau dengan tim tenaga teknis selain Widyaiswara.
Ini poin pentingnya, peran widyaiswara sebagai konsultan dalam Inkubator agribisnis harus dihidupkan. Bahkan semestinya setiap Widyaiswara wajib sifatnya menginkubasi sejumlah pengusaha pertanian milenial. Jadi jelas, jika dari proses inkubasi ini bisa “pecah telor” lahir Pengusaha Pertanian Milenial baru, akan terlihat sumbangsih UPT Balai Pelatihan dan Widyiswara pada angka pada capaian 2,5 juta Pengusaha Pertanian Milenial yang direncanakan.
Dalam konteks menghidupkan Inkubator Agribisnis, SDM Widyaiswara maupun sarana pendukung di UPT Balai Petaihan haruslah dipersiapkan dengan baik.
- Selain inkubasi usaha di Inkubator Agribisnis UPT Balai Pelatihan, alternatif lain pembinaan lebih lajut alumni pelatihan adalah dengan permagangan di P4S yang sudah maju usahanya.
- Jalur Operasi P4S
Jalur operasi P4S untuk mencetak Pengusaha Pertanian Milenial sebenarnya sudah cukup gamblang disampaikan Kepala Pusat Pelatihan melalui paparannya beberapa waktu lalu (meskipun penulis tidak ikut rapat, pati ikut membaca bahan tayang yang dibuat)
- pada intinya adalah bagaimana P4S mampu memiliki produk unggulan dan sistem usaha yang baik sehingga layak menjadi percontohan bagi Calon Pengusaha Pertanian Milenial. P4S ini didorong bisa memerankan diri sebagai tempat pembelajaran bagi Calon Pengusaha Pertanian Milenial melalui pelatihan, permagangan, bahkan sebagai mitra “Bapak Angkat” bagi produk para “new comer” pengusaha pertanian milenial ini.
- Bagi P4S yang sudah mapan semestiya mereka terus memperbesar skala pasar mereka. Dalam kondisi seperti ini mereka tentu membutuhkan mitra produsen sebagai pemasok. Di sinilah titik temu antara new comer dan “Bapak Angkat” tadi.
- Dalam konteks agar pelatihan dan permagangan bisa berlangsung dalam kaedah pembelajaran yang tepat, maka UPT Balai Pelatiahan hendaknya menugaskan secara khusus kepada para Widyaiswara sebagai pendamping P4S yang selama ini memang sudah teregritasi dan terklasifikasi.
- Pendampingan yang dimaksud dalam hal ini adalah dalam hubungannya menyusun kurikulum, metodologi pembelajaran, serta evaluasi pelatihan. Melalui pendampingan akan juga termonitor hasil-hasil angka jumlah Pengusaha Pertanian Milenial yang telah bisa dihasilkan dari jalur P4S.
- Dalam hubungan ini Widyaiswara bisa mendampingi beberapa P4S.


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.