Pertanian dan Trend Generasi Milenial

Pangannews.id

Rabu, 28 Juli 2021 23:41 WIB

news
Foto : Pertanian dan Trend Generasi Milenial.

PanganNews.id Jakarta - Oleh : Rizal Khaerul Insan

Petani manusia milenium

Gerr Leonhard (2021) memprediksi bahwa sepanjang tahun 2015-2025 akan ada 1 sampai dengan 1,5 miliar pekerjaan manusia yang akan digantikan melalui otomatisasi mesin. Salah satu dampak globalisasi adalah adanya perwujudan kampung besar yang disebut Global Village (McLuhan, 1964). Dalam pandangannya, kampung besar merepresentasikan berbagai jalinan relasional antar berbagai latar manusia dari berbagai penjuru dunia. Kampung global ini hadir melalui proses interaksional manusia yang dibantu melalui pemanfaatan perangkat digital. Salah satunya melalui medium internet. Kehadiran internet berpenetrasi ke dalam berbagai kepentingan keseharian aktivitas manusia. Internet mensubstitusi aktivitas keseharian manusia yang awalnya mesti serba ‘bertatap muka’ menjadi serba ‘bermedia’. Dalam pandangan Yasraf Amir Piliang (2018) inilah yang disebut sebagai dunia yang dilipat, dimana adanya hyperrealitas yang terbentuk melalui penggambaran kehidupan yang bersifat virtual. Sementara dalam pandangan Zeff Zaleski (2016) inilah yang dinamakan dengan cyberspace. 

Arus globalisasi bukan hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi saja (technospace), tetapi juga mempertemukan etnis (ethnospace), arus informasi (mediaspace), arus finansial (finanspace) dan juga perbenturan ideologi (ideospace). Dengan kata lain, globalisasi mempertemukan berbagai kepentingan, peluang dan ancaman. Hal ini berlaku hampir di sebagian besar aktivitas manusia. Dalam aspek sosial, pendidikan, budaya dan transaksi ekonomi. Dalam bidang pekerjaan misalnya, U.S Department of Labor report (2020) menyatakan bahwa diestimasi bahwa hampir 65 persen murid sekolah dasar di dunia akan bekerja pada bidang pekerjaan yang belum pernah ada hari ini. Gejala ini dapat dilihat dari adanya tren kecenderungan generasi muda yang berada pada kategori milenial dan zilenial mencintai bidang pekerjaan seperti konten kreator, youtuber, analis data, digital marketer, dan lain sebagainya. Sementara, peminatan terhadap pekerjaan-pekerjaan pada generasi sebelumnya seperti guru, dokter, akuntan, peternak dan mungkin pertanian cenderung berkurang. Oleh karenanya, perlu perumusan strategi dan upaya untuk menguatkan kecenderungan minat generasi muda terhadap bidang-bidang pekerjaan yang berkaitan erat dengan upaya-upaya ketahanan pangan, seperti perkebunan, pertanian dan peternakan. 

Internet dan Kemampuan Masa Depan

Secara historis, internet merupakan media baru (new media) yang membawa perubahan signifikan dalam aktivitas keseharian manusia. Memasuki abad ke-20, komersialisasi penggunaan internet berlangsung dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Internet dipandang tidak hanya mempermudah aktivitas manusia, tetapi juga menawarkan cara-cara baru dalam upaya pemenuhan kebutuhan kehidupan manusia. John Hartley (2004) menyatakan bahwa internet menjadi public domain yang memproduksi konten-konten kreatif. Dalam hal ini, kehadiran internet memengaruhi leading sector kehidupan manusia. Setidaknya, pengaruh ini dapat dirasakan dalam dua hal: Pertama, adanya deteritorialisasi budaya. Hal ini berarti teknologi internet mempersempit jarak dan waktu. Sekat-sekat geografis menjadi hilang dan semua mampu membangun interaksi dalam ruang-ruang aktivitas yang bersifat virtual. Kedua, adanya industrilisasi digital. Hal ini ditandai dengan adanya pemanfaatan perangkat digital dalam aspek-aspek vital aktivitas manusia. Internet menjadi ruang produksi industri konten yang menjejali arus komunikasi manusia dalam berbagai kepentingan hajat kehidupan. 

Data We Are Social sampai Januari 2021 mencatat bahwa di dunia pengguna internet mencapai 4,8 miliar orang dari total populasi manusia. Di Indonesia sendiri, penetrasi pengguna aktif internet (internet active users) mencapai 202 juta jiwa dari keseluruhan total populasi mayarakat Indonesia. Dari total pengguna tersebut, 70 persen didominasi oleh generasi muda yang berada pada rentang usia 16-35 tahun. Bahkan rerata penggunaan internet masyarakat Indonesia dalam satu hari mencapai 7 jam 56 menit. Hal ini menandakan bahwa internet menjadi media komunikasi populer yang digunakan oleh hampir sebagian besar generasi muda dengan varian aktivitas penggunaan seperti akses media sosial, gaming, live streaming, broadcasting, dan lain sebagainya. 

Secara demografis, pertumbuhan generasi muda mencapai 53,81 persen atau sekitar 144,31 juta jiwa dari total populasi penduduk Indonesia pada tahun 2020 (BPS, 2020). Komposisi generasi muda Indonesia didominasi oleh kalangan milenial (mereka yang berusia antara 25 sampai 40 tahun) berjumlah 69,38 juta jiwa dan kalangan zilenial (mereka yang berusia antara 9 sampai 24 tahun) berjumlah 74,93 juta jiwa. Dua generasi ini dipandang merepresentasikan tren demografis bangsa Indonesia di masa depan. Karenanya, perencanaan pembangunan strategi nasional berorientasi pada upaya menumbuhkembangkan kecakapan generasi muda Indonesia dalam menghadapi tantangan digitalisasi kehidupan, baik pada level personal, antar personal dan komunal. Hal ini berkaitan juga dengan upaya-upaya penanaman mindset, mentality, skillset dan social skill di tengah industrialisasi digital masa depan. Salah satunya melalui penguatan literasi digital yang berdampak pada berbagai bidang kehidupan kebangsaan. 

Menurut laporan The Future Job Report dari US Department of Labor & Bureau of Labor Statistics, setidaknya terdapat lima kompetensi digital yang harus dimiliki oleh generasi muda di masa depan, antara lain: (1) Cognitive Abilities; (2) System Skills; (3) Complex Problem Solving; (4) Content Skills; dan (5) Process Skills. Kelimanya Merupakan 5 skills yang pertumbuhan permintaannya akan paling tinggi berdasarkan beberapa sektor industri, di mana sebelumnya sektor tersebut tidak banyak membutuhkannya. Skill pertama yang pertumbuhannya paling signifikan adalah complex problem solving dengan prosentase sebesar 36 persen. Kemampuan ini merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah yang asing dan belum diketahui solusinya di dalam dunia nyata. Peringkat kedua adalah social skill dengan prosentase 19 persen, merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi, negosiasi, persuasi, mentoring, kepekaan dalam memberikan bantuan hingga emotional intelligence. 

Peringkat ketiga adalah process skill dengan prosentase mencapai 18 persen. Yakni kemampuan terdiri dari: active listening, logical thinking dan monitoring self and the others. Peringkat keempat adalah system skill dengan prosentase 17 persen. Kemampuan ini merupakan kemampuan untuk dapat melakukan judgement dan keputusan dengan pertimbangan cost-benefit serta kemampuan untuk mengetahui bagaimana sebuah sistem dibuat dan dijalankan. Sementara peringkat kelima adalah cognitive abilities dengan prosentase sebesar 15 persen. Hal ini berkaitan dengan kemampuan yang terdiri dari antara lain: cognitive flexibility, creativity, logical reasoning, problem sensitivity, mathematical reasoning dan visualization. 

Kelima digital skill tersebut merupakan peminatan kemampuan dengan pertumbuhan yang paling tinggi di era industrialisasi digital. Hal ini dipandang akan berpengaruh terhadap berbagai upaya pemenuhan kebutuhan manusia. Kemampuan digital ini menjadi modal penting dalam membangun ekosistem digital di masa depan. Sehingga, percepatan digitalisasi kebudayaan memberikan dampak positif dalam upaya membangun digital culture yang sesuai dengan ekspektasi dalam pemenuhan hajat dan ketahanan hidup manusia. Dengan kata lain, kecakapan di era industrialisasi digital ini berdampak pada pelaksanaan aktivitas pekerjaan masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Baik pada aspek pendidikan dan pengajaran, tren ekonomi digital, agroteknologi pangan dan perkebunan, sampai dengan pada bidang pekerjaan baru yang banyak diminati generasi muda hari ini. 

Persepsi Generasi Muda dalam Ketahanan Pangan

Salah satu pembidangan yang mendapat prioritas dalam upaya membangun ketahanan pangan di Indonesia adalah aspek pertanian. Ketahanan pangan berkaitan dengan strategi dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mendorong peningkatan tren perkebunan, pertanian dan peternakan di kalangan generasi muda. Merujuk pada data BPS mengenai Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018, jumlah rumah tangga usaha pertanian menurut kelompok umur, petani dengan usia diatas 35 tahun mencapai 24 juta jiwa. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan petani yang berusia dibawah 35 tahun yang hanya mencapai 3,2 juta jiwa. Di Jawa Barat sendiri, Pelaku utama pertanian semakin menurun sejalan dengan meningkatnya laju urbanisasi, hal ini disebabkan oleh pertumbuhan industri yangsangat cepat. Saat ini jumlah pelaku utama pertanian di Jawa Barat hanya 3,2 juta yang didominasi oleh petani diatas usia 35 tahun.

Rendahnya regenerasi petani tercermin dalam kurangnya motivasi generasi muda dalam bidang pertanian. Menurut Nizarudin dan Anwarudin (2019) rendahnya motivasi bertani ini disebabkan minimnya pengalaman generasi muda dan terbatasnya akses untuk bertani. Bahkan penelitiannya mengungkap bahwa tidak semua generasi muda yang notabene orang tuanya petani memiliki ketertarikan terhadap dunia pertanian. Selain itu, tingginya laju urbanisasi mempersempit peminatan terhadap bidang pekerjaan ini. Adanya kecenderungan generasi muda yang memilih menetap dan mencari pekerjaan di kota menyebabkan menurunnya tren bertani, seolah ‘menjadi petani itu tidak keren’. 

Setidaknya ada beberapa persepsi generasi muda terhadap pertanian, misalnya penelitian yang dilakukan oleh Werembinan et.al (2018) yang meneliti tentang persepsi generasi muda tentang pertanian di kelurahan Buha Kota Medan. Hampir 80 persen respondennya berasal dari keluarga petani. Disimpulkan bahwa 40 persen generasi muda menganggao bahwa pendapatan pada bidang pekerjaan pertanian lebih kecil, 40 persen menyatakan pekerjaan pertanian lebih melelahkan dan 80 persen generasi muda menyatakan tidak atau kurang berminat pada bidang pekerjaan ini. Hasil ini menunjukkan bahwa penurunan minat dan motivasi generasi muda terhadap bidang pertanian didasarkan pada beberapa alasan, antara lain: kurangnya lahan garapan pertanian, rendahnya apresiasi terhadap petani, mahalnya biaya produksi yang tidak berbanding lurus dengan lamanya waktu dan hasil, serta trend urbanisasi sebagai dampak industrialisasi digital. 

Sementara itu, penelitian Junaedi, Anwarudin dan Makhmudi (2020) menghasilkan tren positif. Dimana hampir 63 persen generasi muda menyatakan adanya peminatan terhadap kegiatan bertani. Hanya saja, baru 32 persen generasi muda yang benar-benar menjalankan aktivitas pertanian di Kecamatan Gantar Kabupaten Indramayu. Dalam pandangannya, bahwa meningkatnya peminatan generasi muda terhadap pertanian salah satunya karenanya adanya dukungan lingkungan sosial melalui penyuluhan dan kelompok tani. Dukungan lingkungan sosial ini berpengaruh terhadap kecenderungan generasi muda terhadap aktivitas pertanian dalam upaya memperkuat ketahanan pangan. Selain itu, program pemerintah dalam mendukung penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu daya tarik dalam meningkatkan peminatan terhadap aktivitas bertani. Dalam hal ini, ketersediaan lapangan garapan pertanian berdampak positif dalam memperkuat usaha pertanian di generasi muda. 

Kedua riset di atas memberikan gambarakan bahwa maju-mundurnya usaha pertanian harus diperkuat oleh berbagai dukungan. Tidak hanya tingginya minat dan motivasi secara internal, tetapi juga peran strategis dari lingkungan sosialnya akan berpengaruh terhadap peminatan generasi muda dalam bertani. Apalagi, Indonesia secara historis adalah negara agraris yang memiliki kekayaan alam melimpah. Hal ini menjadi modal untuk mengembalikan usaha dan peminatan generasi muda untuk memperkuat basis pangan di Indonesia. Tampaknya, industrialisasi digital harus memperhatikan aspek-aspek vital dalam meningkatkan tren bertani di kalangan generasi muda. Dalam hal ini, kecakapan digital generasi muda mesti diarahkan pada bidang-bidang real seperti kegiatan bertani. Dengan kata lain, digitalisasi juga harus menyasar bidang garapan pertanian, sehingga tren bertani di generasi muda menjadi tren positif dengan persepsi positif pula. Digitalisasi dalam bidang pertanian akan memperkuat peminatan dan motivasi generasi muda untuk memperkuat sektor pangan ini. 


Kolom Komentar

You must login to comment...