Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Ketika Profesi Petani Tidak Menarik Lagi

Bagikan
Foto : Ketua Harian DPD HKTI Entang Sastraatmadja.
Foto : Ketua Harian DPD HKTI Entang Sastraatmadja.

PanganNews.id Jakarta - Oleh : Entang Sastraatmadja

Cukup banyak pihak yang mendefinisikan petani di negeri ini. Ada yang menyebut, petani adalah seseorang yang bergerak di bidang pertanian. Utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah, yang bertujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman. Harapan nya guna memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, petani berasal dari kata tani. Tani artinya mata pencaharian dalam bentuk bercocok tanam; mata pencarian dalam bentuk mengusahakan tanah dengan tanam-menanam. Bertani yaitu bercocok tanam; mengusahakan tanah dengan tanam-menanam. 

Mulai dari petani di sawah yang menanam padi, sampai ke petani sayur dan buah, mereka berperan penting menjaga agar kebutuhan bahan makanan kita tetap terpenuhi, tanpa pernah kekurangan. Para petani memanfaatkan tanah pertanian dengan menanam tanaman padi, buah-buahan, sayur-mayur, bunga, ataupun komoditi lainnya. 

Itu sebab nya, petani menjadi tulang punggung bagi perekonomian bangsa Indonesia. Namun siapa sangka ternyata kata Petani merupakan sebuah kepanjangan. Bung Karno-lah yang menyebutnya sebagai Penjaga Tatanan Negara Indonesia (Petani).

Namun begitu, ada pemikiran dalam suasana kekinian petani di negara kita, sekurang-kurang nya ada syarat yang melekat langsung kepada seseorang yang disebut petani. Pertama, diri nya memiliki lahan pertanian, dan kedua diri nya menggarap secara langsung lahan yang dimiliki nya itu. Lalu, bagaimana dengan Petani Milenial ? Inilah yang patut jadi bahan petenungan bersama. 

Selama Petani Milenial memiliki lahan dan mengerjakan nya sendiri lahan yang dimiliki nya, maka diri nya berhak menyandang atribut petani. Tapi, kalau diri nya tidak memiliki lahan sendiri atau malah diberi lahan untuk di garap atau dipinjam-pakaikan, maka secara tegas, bisa dikatakan mereka bukan petani, sekali pun mereka menggarap sendiri usahatani-nya.

Hal yang tidak jauh berbeda dengan mereka yang menggarap lahan pertanian milik orang lain. Mereka juga tidak pas disebut petani. Mereka lebih pantas disebut petani penyewa atau petani penyakap. Mereka menggarap sawah tapi tidak memiliki lahan pertanian. Mengacu kepada syarat petani, maka jelas mereka pun bukan petani.

Atas semua ini, jelas dapat disimpulkan, mereka yang selama ini dikenal dengan sebutan Petani Berdasi atau Petani Bersafari tidaklah terkategorikan petani. Sekali pun mereka memiliki puluhan hektar sawah, tapi tidak di garap nya sendiri, maka mereka tidak pantas dikatakan petani. Profesi sehari-hari nya adalah pengusaha sekaliber konglomerat.

Begitu pun dengan buruh tani. Walau pun mereka sehari-hari nya menggarap sawah atau bekerja di sawah, tapi mereka itu sama sekali tidak memiliki lahan sawah, maka mereka pun belum layak disebut petani. Buruh tani berkiprah di sawah milik orang lain, jelas tidak masuk ke dalam persyaratan seoramg petani. 

Lalu, bagaimana dengan Petani Milenial ? Apakah mereka ini dapat disebut petani atau setengah petani atau sama sekali bukan ? Jawab nya tegas, selama mereka memiliki lahan sendiri dan dikerjakan sendiri lahan nya itu, maka diri nya pantas disebut petani. Namun bila dia hanya menyewa lahan orang lain, sekali pun keseharian nya bekerja di sawah, maka diri nya bukan petani sebagaimana yang ada dalam kriteria diatas.

Pertanyaan nya adalah apakah para Petani Milenial ini banyak yang tertarik untuk mengelola usahatani padi atau mereka lebih suka menggarap hortikultura ? Atau malah ke peternakan atau perkebunan, bahkan perikanan mengingat nilai tambah ekonomi nya lebih tinggi dibandinglan dengan padi ?

Jujur saja berdasarkan pengamatan, jarang para Petani Milenial untuk berkiprah pada usahatani padi di sisi hulu. Mereka lebih tertarik menangani di sisi hilir. Hal ini wajar, karena nilai tambah ekonomi dalam agribisnis perberasan berada di sisi hilir. Tidak di hulu. Nilai tambah ekonomi dari perubahan gabah menjadi beras, lebih menguntungkan ketimbang dari padi menjadi gabah.

Begitulah tafsir tentang petani. Setiap orang bisa menyetujui dengan tafsir diatas atau pun tidak. Sampai saat ini potret kehidupan petani, khusus nya petani padi, benar-benar sangat memprihatinkan. Jeratan kemiskinan yang mendera kehidupan nya, betul-betul menyebabkan mereka hidup menderita. Mereka seperti yang kesusahan membebaskan diri dari kesengsaraan. 

Pertanian itu perkasa. Petani itu keren. Inilah kata-kata yang dilontarkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di berbagai kesempatan. Persoalan nya adalah apakah usahatani padi saat ini masih mengundang warga bangsa untuk menggeluti nya atau tidak, mengingat hingga sekarang tidak pernah ada jaminan kalau menjadi petani tidak akan hidup menderita ?

Enggan nya kaum muda untuk berprofesi sebagai petani, tentu hal ini identik dengan mimpi buruk bagi perjalanan pembangunan pertanian di negeri agraris. Mengapa hal ini bisa terjadi ?

Seburuk itukah citra pertanian di mata kaum muda ?

Apakah Pemerintah akan berdiam diri menghadapi suasana yang tengah terjadi ?

Ketidak-tertarikan kaum muda menjadi petani sebetul nya telah terlihat sejak 35 tahun lalu. Ada apa dengan pertanian kita ?

Bukankah bangsa ini memiliki kebanggsaan tersendiri dengan prestasi Swa Sembada Beras 1984 ? Mengapa rasa bangga itu memudar dengan sendiri nya ? Yang cukup penting untuk renungkan apa yang sebaik nya kita garap ketika profesi sudah tidak menarik lagi ? (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal