Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Panggung Pertanian

Bagikan
Foto : Ketuan Harian DPD HKTI, Entang Sastraatmadja.
Foto : Ketuan Harian DPD HKTI, Entang Sastraatmadja.

PanganNews.id Jakarta - Oleh : Entang Sastraatmadja

Panggung adalah sepetak tempat dari hamparan yang luas, dimana permukaannya dibuat lebih tinggi dari permukaan yang lain. Panggung biasanya dibuat sebagai tempat seseorang menunjukkan diri dalam sebuah acara. Dalam pertunjukan grup musik tentu harus disediakan panggung yang cukup luas.

Apalagi jika grup musik tersebut berkelas dunia. Namun ada juga panggung yang disiapkan cukup sederhana, khusus nya dalam rangka mengkapanyekan program seorang calon anggota legislatif. Yang cukup menggigit adalah soak panggung sandiwara. Inti nya dalan melakoni kehidupan, kita selalu dihadapkan pada sikap kepura-puraan. 

Contoh konkrit nya, ketika ada musibah banjir bandang di suatu daerah, lalu ada rombongan yang nemberi bantuan kepada masyarakat yang tertimpa bencana, di tempat musibah rombongan tersebut menunjukan mimik sedih, bahkan berlinang air mata tatkala pimpinan rombongan menyampaikan sambutan nya. 

Ironis nya, setelah rombongan pamit dan kembali naik bis, di dalam bis mereka tertawa ria sambil berkaraoke. Begitu cepat nya perubahan. Dari linangan air mata, menjadi tawa ria. Pakar sosiologi menyebut gambaran seperti ini adalah gaya hidup karikatif. Atau sering juga disebut penuh kepura-puraan.

Keperkasaan pertanian selama ini, baik ketika terjadi krisis multi-dimensi tahun 1997/1998 atau pun pada saat terjadi bencana kemanusiaan Covid-19, tentu perlu mendapat apresiasi khusus dari para pengambil kebijakan di negeri ini. Sektor pertanian butuh panggung yang diharapkan mampu menjaga dan memelihara keperkasaan yang digenggam nya. 

Ada beberapa pertimbangan, mengapa kita harus memposisikan pertanian agar tetap perkasa. Pertama, karena sektor pertanian melibatkan banyak warga bangsa, baik sebagai sumber kehidupan mau pun sumber penghidupan nya. Suasana ini perlu dipertahankan agar warga bangsa terbesar tetap dapat menyambung nyawa kehidupan. 

Kedua, sektor pertanian banyak digeluti oleh petani. Semua orang tahu persis, hingga kini nasib dan kondisi kehidupan petani, terutama petani berlahan sempit, terekam masih memprihatinkan. Mereka belum layak divonis sebagai bangsa yang merdeka dan bebas dari belenggu kemiskinan. Perlindungan dan pemberdayaan petani terlihat masih sebatas regulasi dan belum mampu dijadikan fakta kehidupan. 

Ketiga, dari sisi keberpihakan terhadap sektor pertanian, tampak mulai melemah. Pemerintah, terutama Pemerintah Daerah terlihat lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur dasar dalam politik anggaran nya ketimbang sektor pertanian. Keperkasaan sektor pertanian dianggap kurang mampu menghasilkan PAD secara signifikan. 

Di mata mereka sektor pertanian merupakan cost center. Padahal, fakta memperlihatkan betapa kokoh nya sektor pertanian dalam menghadapi bencana yang menyergap nya. Sektor lain tumbang, pertanian tetap ajeg. Kehebatan sektor pertanian, tidak terlepas dari kekuatan petani sebagai pelaku utama yang menopang bergerak nya sektor pertanian. Betul, petani itu keren.

Presiden Jokowi sebetul nya telah memberi panggung khusus untuk pertanian agar sektor yang disebut perkasa ini mampu memeranlan diri sebagai tulang punggung perekonomian bangsa. Paling tidak, ada tiga program pembangunan pertanian yang dititipkan Presiden kepada pata prmbantu nya. 

Pertama adalah pengembangan food estate di berbagai daerah. Semangat nya bagaimana bangsa ini memiliki ketersediaan pangan yang kuat dan berkualitas. Food Estate inilah yang menjadi jawaban nyata sekira nya bangsa-bangsa di dunia dihadapkan kepada krisis pangan global, seperti yang diisyaratkan oleh Badan Pangan Dunia (FAO). 

Ketersediaan pangan yang kokoh perlu segera digarap agar ketahanan pangan bangsa semakin kuat. Ketersediaan pangan yang dimaksud oleh UU No. 18 Tahun 2012 adalah yang dihasilkan oleh produksi petani dalam negeri dan sedapat mungkin kita harus mampu melepaskan diri dari ketergantungan importasi pangan.

Walau berdasarkan pengamatan, hasil Food Estate ada yang mengecewakan, bukan berarti kita harus berhenti. Kita jangan menyerah dengan begitu saja. Namun kegagalan itu harus menjadi pelajaran berharga untuk perbaikan dan penyempurnaan ke depan nya. Bukankah kegagalan bisa dijadikan pengalaman terbaik guna melakukan perbaikan ke depan ?

Kedua adalah program Koorporasi Petani. Presiden Jokowi berkeinginan agar petani jangan sampai tertinggal oleh kemajuan dan perkembangan teknologi informasi dan industri digital. Petani perlu terlibat secara aktif dalam Pertanian 4.0. Petani harus melepas kondisi subsisten nya ke arah profesional. 

Bangsa ini butuh petani pengusaha. Koorporasi petani sebagai kelembagaan ekonomi petani, penting menyiapkan diri agar tidak terhempas dari perubahan lingkungan strategis yang begitu cepat bergerak. Koorporasi Petani inilah yang dituntut untuk dapat mengisi isyarat jaman yang kita tengah berubah. 

Ketiga adalah Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045. Progran ini memang bernuansa masa datang. Kita masih punya waktu sekitar 23 tahun ke depan. Lumbung Pangan, bukan hal yang baru bagi kita. Sudah banyak program Lumbung Pangan yang dilahirkan Pemerintah. Tinggal sekarang, bagaimana merekam ulang program-program yang telah digulirkan, untuk kemudian dievaluasi, mana yang masih ada dan mana yang tinggal artefak nya.

Yang jelas, bila semangat ini dapat diwujudkan, betapa sumringah nya Ibu Pertiwi, karena dalam Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 100 tahun, diberi kado yang berkelas dunia. Kita mampu mewujudkan hal yang demikian. Kata kunci utama nya berada di kesungguhan untuk meraih nya. Betapa keren nya predikat Lumbung Pangan Dunia. Ini tidak kalah hebat ketika bangsa kita memproklamirkan diri sebagai bangsa yang dapat menggapai Swa Sembada Beras 1984.

Itulah 3 program yang diharapkan dapat meramaikan panggung pertanian kita. Kita yakin, para pembantu Presiden akan dapat meluruskan harapan Presiden ke arah kenyataan nya. Semoga panggung pertanian yang ada dihadapan kita akan mampu menjadi tontonan yang mengasyikan. Bukan menjemukan. (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal