PanganNews.id Jakarta - Oleh : Entang Sastraatmadja
Pangan dan kehidupan merupakan dua kata yang sangat penting dalam melakoni perjalanan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Pangan adalah kebutuhan hidup yang paling mendasar. Tanpa pangan membuat kehidupan menjadi terganggu. Itu sebab nya, kita tidak boleh bermain-main dengan urusan pangan. Apalagi jika memandang sebelah mata dalam pengembangan pangan ke depan.
Tatkala menyampaikan pandangan dalam Webinar Gerakan Konsumsi Pangan Lokal di Perhotelan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan Kementerian Pertanian terus mendorong pangan lokal petani, meningkatkan kualitas produk supaya bisa diterima di semua kalangan lapisan masyarakat. Juga meningkatkan teknologi pangan lokal untuk stamina tubuh dan perluas jaringan pangan lokal sampai ke mancanegara.
Setidak nya ada tiga isu yang dikemukakan Mentan terkait pengembangan pangan lokal ke depan. Pertama, Pemerintah akan terus mendorong pangan lokal petani, kedua, Pemerintah akan terus meningkatkan kualitas produk pangan lokal sehingga diterima oleh semua kalangan masyarakat dan ketiga, Pemerintah akan terus meningkatkan teknologi pangan lokal.
Seperti yang tertuang dalam Undang Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, yang dimaksud dengan Pangan Lokal adalah makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal. Pangan lokal tersedia di sekitar kita. Tinggal sekarang bagaimana memanfaatkan nya. Itu sebab nya, sangat tepat bila Mentan mengajak kepada semua pihak untuk memanfaatkan peluang yang ada.
Pangan Lokal masuk Hotel, sebetul nya bukan hal yang baru dalam dunia perhotelan. Kalau kita sempat berkunjung ke Hotel bintang 4 di Kabupaten Garut misal nya maka kita akan disuguhi minuman bandrek sebagai "ucapan selamat datang" nya. Kita tahu bandrek adalah minuman khas masyarakat Jawa Barat yang menggunakan tanaman jahe sebagai bahan utama nya. Jahe adalah pangan lokal yang banyak tersefia di Tatar Sunda ini.
Tidak hanya itu. Bila kita pun sempat menginap di salah satu hotel bintang 4 di Cirebon, maka di sudut hotel tersebut tersedia conter yang menyuguhkan aneka makanan yang berbahan dasar pangan lokal. Disana akan ditemukan minuman khas orang Sunda yakni bajigur. Minuman yang dibuat dari gula merah dicampur satipati kelapa dan dibumbui oleh buah cengkaleng. Minuman ini sangat cocok dikonsumsi malam atau pagi hari.
Di conter tersebut dapat juga dinikmati makanan ringan seperti pisang goreng, gehu, bala-bala, comro dan lain sebagai nya. Gehu adalah makanan yang paling dicari pada waktu malam hari tiba. Gehu yang merupakan akronim toge dan tahu kemudian dikemas sedemikian rupa, lalu digoreng dan dikonsumsi dengan cabe rawit, merupakan cemilan yang menjanjikan bagi peminat nya. Begitu pun dengan Comro yang merupakan singkatan dari "oncom di jero".
Dengan telah berkembang nya Pangan Lokal di beberapa hotel berbintang menjadi konsumsi para pengunjang hotel, sebetul nya tidak terlampau sukar untuk mewujudkan nya. Justru yang menjadi pertanyaan kita bersama adalah bagaimana dengan keberlanjutan nya ? Inilah kelemahan kita selama ini. Kita memang cukup dikenal sebagai bangsa yang pintar dalam melahirkan sebuah program, namun tidak cerdas untuk merawat nya.
Hal semacam ini penting disampaikan, karena berdasarkan pemantauan yang ada, ternyata banyak hotel yang semula menyediakan conter pangan lokal, ujung-ujung nya menghilang dengan sendiri nya. Suasana ini terjadi dengan begitu saja. Kita sendiri hanya mampu bertanya kepada rumput yang bergoyang, ketika masuk hotel dan mencari hidangan pangan lokal yang belum lama masih bisa kita nikmati.
Kita sendiri tidak tahu persis, mengapa hal semacam ini dapat terjadi. Apakah disebabkan oleh desain perencanaan nya yang tidak matang atau karena kegiatan tersebut disusun berbasiskan keproyekan ? Perencanaan yang berkualitas, tentu harus ada Grand Desain selama 10 tahun ke depan terkait dengan Gerakan Konsumsi Pangan Lokal masuk Hotel ini. Sedangkan yang berhubungan dengan pendekatan proyek, sebaik nya kita rubah dengan pendekatan gerakan.
Sebagai sebuah gerakan, kegiatan konsumsi pangan lokal masuk hotel, tentu tidak akan dibatasi oleh kurun waktu tertentu. Selama masyarakat membutuhkan, maka gerakan ini akan terus berlanjut. Hal ini berbeda dengan keproyekan. Bila usia proyek nya habis, maka bubar pulalah program tersebut. Kita sudah banyak pengalaman proyek-proyek yang digarap Pemerintah tampak tidak pernah tuntas.
Untuk itu, selain diteken nya MoU antara Pemerintah dengan Dunia Usaha Perhotelan diatas, sebaik nya disiapkan pula Grand Desain Gerakan Konsumsi Pangan Lokal Masuk Hotel. Dalam Grand Desain itu yang dirumuskan sekurang-kurang nya dalam kuryn waktu 10 tahun, sudah dipikirkan bagaimana program ini dapat berkelanjutan sesuai dengan perguliran jaman. Lalu apa yang menjadi maksud dan tujuan nya, serta bagaimana pula manajemen pengelolaan nya.
Pengalaman buruk yang selama ini terjadi, seperti kegiatan yang sifat nya sporadis atau hanya ada pada waktu pencanangan dan beberapa hari berikut nya saja, tentu harus mampu dijawab dan disolusikan oleh Grand Desain ini. Itu sebab nya, Grand Desain yang dibuat perlu dilengkapi dengan Peta Jalan pencapaian nya. Road Map inilah yang akan menuntun kepada kita untuk selalu taat asas terhadap yang kita komitmenkan.
Semangat mendorong pengembangan konsumsi pangan lokal masuk hotel, jelas tidak mungkin akan berhasil bila hanya ditangani oleh Pemerintah Pusat semata. Sinergitas dan kolaborasi diantara pemangku kepentingan, betul-betul sangat dibutuhkan. Salah satu hal yang tak kalah penting nya untuk digarap adalah bagaimana dengan keterlibatan Pemerintah Daerah di lapangan.
Dalam tataran pelaksanaan di lapangan, sinergitas sangat dibutuhkan. Setidak nya, Pemerintah Pusat, jelas harus menggandeng Provinsi dan Kabupaten/Kota, karena hotel yang ada berada Kabupaten/Kota. Peran Pemda sangat diperlukan untuk mendampingi, mengawal, mengawasi dan mengamankan program yang dikembangkan.
Selain itu, keterlibatan komunitas di daerah juga jangan dilupakan. Bahkan kehadiran teman-teman akademisi, mutlak dibutuhkan, khusus nya dalam pengembangan teknologi pangan yang berubah sangat cepat. (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.