Menelisik Kebijakan Bank Vaksin WOAH untuk Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

Pangannews.id

Rabu, 22 Juni 2022 13:08 WIB

news
Foto : Drh. Pudjiatmoko, Ph.D, Medik Veteriner Ahli Utama, Direktorat Kesehatan Hewan.

PanganNews.id Jakarta - Oleh Drh. Pudjiatmoko, Ph.D, Medik Veteriner Ahli Utama, Direktorat Kesehatan Hewan

Penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali mewabah di Indonesia menyebabkan kerugian besar bagi negara dan peternak. Hal ini disebabkan biaya untuk pembebasan PMK di Indonesia pada masa lalu menghabiskan ratusan miliar rupiah, dan untuk memperoleh pengakuan bebas PMK dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (World Organization for Animal Health / WOAH) atau OIE pada tahun 1990 perlu waktu puluhan tahun. Wabah PMK di Inggris pada tahun 2001 mengakibatkan kerugian bagi sektor pertanian sekitar £3,1 miliar (Rp 53,36 triliun).

Aphthovirus sebagai penyebab PMK sangat cepat menular dari hewan satu ke hewan lainnya. Virus ini menimbulkan lepuh di mulut, sela-sela jari kaki pada hewan berkuku belah atau genap, seperti sapi, kerbau, babi, kambing dan domba. Tingkat morbiditas (penularan) PMK pada populasi ternak yang seluruhnya rentan mencapai 80-100%, sedangkan tingkat mortalitas (kematian) cenderung rendah pada ternak dewasa (1–5%), dan mencapai 20% pada ternak muda.

Kementerian Pertanian telah mencanangkan upaya pengendalian wabah PMK. Salah satu upaya utama dalam pengendalian wabah ini adalah melakasanakan program vaksinasi massal. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian perlu melakukan pengadaan vaksin yang dibagikan kepada peternak untuk vaksinasi hewan rentan terhadap PMK disekitar wabah.

Vaksin PMK yang digunakan harus cocok dengan virus PMK yang tersebar di peternakan Indonesia sehingga ternak yang divaksin akan memperoleh kekebalan yang cukup agar dapat tahan terhadap serangan infeksi virus PMK. Untuk itu Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya dan Balai Beasar Veteriner (BBVet) Wates telah mengidentifikasi isolat virus yang ditemukan di Jawa Timur dan Aceh. Virus tersebut termasuk serotipe O, topotipe ME-SA, lineage Ind-2001. Serotipe ini umumnya tersebar di wilayah Asia Tenggara. Sehubungan dengan penyiapan program vaksinasi PMK ini, kita perlu menelisik Kebijakan Bank Vaksin WOAH dalam Pengendalian dan pemberantasan Penyakit Mulut dan Kuku di dunia.

Memerangi penyakit hewan lintas batas termasuk PMK merupakan mandat Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH). Salah Satu Rencana Strategis WOAH adalah menetapkan prioritas kegiatan yang dapat memberikan kontribusi pada Visi Global WOAH yakni “Melindungi Hewan dan Melestarikan Masa Depan Umat Manusia” dalam rangka “Menuju Kemakmuran Ekonomi, Kesejahteraan Sosial dan Lingkungan”.

Sasaran strategis utama fokus pada program pengamanan kesehatan dan kesejahteraan hewan melalui peningkatan manajemen risiko yang tepat. Salah satu sasaran ini adalah pengendalian dan pemberantasan penyakit lintas batas tertentu, yang merupakan misi utama WOAH, selaras dengan kontribusi pada Visi Global WOAH.

Pembangunan Berkelanjutan PBB

Efek positif penanggulangan penyakit hewan sangat banyak, tersebar luas dan lintas generasi, termasuk juga peningkatan ketahanan pangan dan keamanan pangan, pengurangan biaya kesehatan, peningkatan pendapatan dan manfaat ekonomi lainnya bagi masyarakat secara global, serta perdagangan domestik dan internasional yang aman dan berkelanjutan.

WOAH menetapkan program pengendalian dan pemberantasan penyakit yang punya arti penting secara ekonomi dan sosial meliputi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Anjng Gila (Rabies) dan Peste des Petits Ruminants (PPR). Program pengendalian dan pemberantasan ketiga penyakit tersebut selaras dengan strategi internasional, yang telah disahkan oleh negara-negara Anggota WOAH.

Salah satu strategi pengendalian dan pemberantasan penyakit tersebut yaitu melaksanakan program vaksinasi massal. WOAH membangun Bank Vaksin yang dikelola dengan penerapan seperangkat prinsip panduan untuk memastikan efisiensi dan respons yang tepat terhadap permintaan negara Anggota WOAH. Terdapat lima prinsip panduan Bank Vaksin yang harus dipahami sebagai satu kesatuan utuh dalam rangka mendukung Anggota dan Mitra WOAH mencapai kesuksesan pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan tertentu untuk kemaslahatan penduduk sedunia. Lima prinsip panduan tersebut dijelaskan sebagai berikut.

1. Bank Vaksin WOAH mendukung implementasi strategi pengendalian penyakit internasional yang diadopsi oleh Anggota WOAH

WOAH mendirikan Bank Vaksin untuk mendukung strategi pengendalian penyakit global yang disahkan oleh Rapat Anggota WOAH. Vaksinasi diakui sebagai penentu keberhasilan strategi pengendalian penyakit. Pada 2018 terdapat tiga jenis vaksin yang disiapkan dalam Bank Vaksin yaitu vaksin PMK, Rabies, dan PPR. Bank Vaksin WOAH tidak menyiapkan vaksin-vaksin untuk penyakit lain yang tidak termasuk ke dalam strategi pengendalian global yang diadopsi oleh Anggota WOAH.

Berkenaan dengan Rinderpest, penyakit hewan pertama dan satu-satunya penyakit hewan yang telah berhasil diberantas di dunia, terkait mekanisme, keputusan dan tata kelolanya telah ditetapkan secara khusus dengan Global Rinderpest Action Plan (GRAP). GRAP mencakup Kerangka Kerja Operasional Cadangan Vaksin Rinderpest untuk membantu proses pengambilan keputusan dan penyiapan sarana untuk memproduksi vaksin dan mengakses vaksin jika terjadi kejadian luar biasa. Maka dari itu WOAH tidak menyiapkan bank vaksin Rinderpest. Namun WOAH terus terlibat secara aktif dalam kemitraan dengan FAO, selama fase pasca-pemberantasan Rinderpest.

2. Bank Vaksin WOAH dibentuk melalui proses seleksi yang transparan dan memastikan pasokan vaksin berkualitas tinggi

Penyediaan vaksin berkualitas tinggi merupakan syarat mutlak dalam mekanisme Bank Vaksin WOAH. Vaksin yang diproduksi harus sesuai dengan standar WOAH dan memenuhi persyaratan memasok negara penerima melalui Bank Vaksin WOAH. Sesuai dengan prosedur pengadaan, WOAH melakukan penawaran lelang internasional untuk memilih produsen vaksin yang paling cocok dan berpengalaman dalam penyediaan vaksin ke Bank Vaksin WOAH. Semua produsen vaksin dapat mengikuti penawaran lelang internasional tersebut. Kerangka acuan, dilampirkan pada penawaran lelang internasional, disusun bersama Pusat Referensi WOAH dan mitra terkait lainnya dan mempertimbangkan informasi terbaru tentang epidemiologi penyakit (misalnya strain). Pada proses seleksi untuk mengevaluasi pelelang yang masuk untuk merespon penawaran lelang internasional dilaksanakan oleh dua Panitia sebagai berikut:

Panitia Pembukaan Lelang: Panitia ini bertanggung jawab memverifikasi bahwa lelang yang diterima sesuai dengan prosedur yang diatur dalam penawaran internasional seperti penyerahan dokumen persyaratan lelang (sistem dua amplop, tanggal penerimaan, dll). Panitia membuat daftar identifikasi peserta lelang yang memenuhi persyaratan dan yang tidak memenuhi persyaratan.

Panitia Seleksi Lelang Internasional: Panitia ini terdiri dari perwakilan dari Laboratorium Referensi WOAH, staf WOAH, pakar eksternal yang terkait, dan perwakilan donor (sebagai pengamat dan atas permintaan). Untuk penawaran lelang internasional penyediaan vaksin tertentu (contoh rabies), perwakilan WHO berpartisipasi dalam pertemuan panitia seleksi. Panitia ini memverifikasi kualifikasi teknis dan keuangan peserta lelang untuk memastikan bahwa peserta lelang memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan khusus dari kontrak yang diusulkan. Untuk setiap penawaran lelang internasional, WOAH dapat memilih satu atau lebih produsen vaksin, memastikan pasokan vaksin yang beragam jika diminta dalam jumlah besar. Setelah pemilihan produsen vaksin, WOAH menandatangani kontrak dengan pemenang lelang yang menetapkan kondisi yang mengatur penyediaan dan layanan vaksin, termasuk antara lain jenis vaksin, harga, penundaan atau jumlah. Bank Vaksin WOAH hanya menyediakan vaksin yang dipilih melalui penawaran lelang internasional WOAH. Akibatnya, beberapa formulasi vaksin atau strain, presentasi (ukuran botol, label) mungkin tidak tersedia melalui Bank Vaksin WOAH.

Vaksin dikirim ke bandara internasional utama di negara yang meminta vaksin. Transportasi diatur oleh produsen vaksin, memastikan rantai dingin tetap terjaga selama perjalanan. Pengalihan kepemilikan vaksin dan tanggung jawab untuk menjaga rantai dingin terjadi pada saat kedatangan di bandara internasional saat vaksin diambil oleh Anggota WOAH penerima manfaat. Anggota WOAH ini harus secara resmi mengkonfirmasi, sebelum menerima vaksin, bahwa mereka memastikan melakukan pemeliharaan rantai dingin. WOAH juga meminta Anggota WOAH yang mendapat manfaat Bank Vaksin WOAH agar memberikan informasi balik tentang penggunaan vaksin yang diterima. Laporan negara tersebut kepada WOAH setelah program vaksinasi selesai harus mengandung informasi tentang pemantauan pasca vaksinasi serta informasi relevan lain.

Ketika WOAH menerima informasi dari Bank Vaksin WOAH bahwa Anggota tersebut melakukan pengelolaan atau penggunaan vaksin secara buruk, dan terdapat penyalahgunaan sejumlah vaksin yang diterima, maka WOAH dapat menolak penyediaan vaksin pada waktu berikutnya ke negara tersebut. 

WOAH melaksanakan penawaran lelang baru setiap empat tahun atau sesuai kebutuhan, tergantung dana yang tersedia dalam mekanisme ini, untuk membuka kembali persaingan di antara produsen dan memastikan terdapat vaksin yang paling relevan tersedia di Bank Vaksin WOAH. Vaksin yang dikirimkan kepada Anggota WOAH melalui mekanisme Bank Vaksin WOAH hanya disediakan oleh produsen yang dipilih melalui penawaran lelang internasional WOAH. WOAH tidak mengelola donasi dari produsen vaksin atau dari Anggota WOAH (Anggota dapat mengelolanya secara bilateral).

WOAH tidak mengembangkan atau menerbitkan daftar vaksin/produsen yang memenuhi syarat atau produk prakualifikasi. WOAH mengakui bahwa produsen vaksin yang tidak memasok Bank Vaksin WOAH juga dapat menyediakan vaksin berkualitas tinggi sesuai dengan standar WOAH.

3. Bank Vaksin WOAH didorong kebutuhan nasional

Semua Negara Anggota WOAH dapat diberikan akses ke mekanisme dan layanan WOAH. Namun, prioritas diberikan kepada negara berkembang yang memiliki program pengendalian penyakit yang relevan namun tidak memiliki akses langsung ke vaksin (misalnya tidak ada fasilitas produksi nasional atau mengalami kesulitan dalam menerapkan prosedur pengadaan vaksin).

Untuk negara maju, akses harus dipertimbangkan berdasarkan kasus per kasus (darurat, keadaan khusus, dll) dan pembayaran langsung ke produsen vaksin oleh negara tersebut lebih disukai jika memungkinkan.

Semua Bank Vaksin WOAH telah didirikan sejalan dengan proyek yang didanai donor yang dikelola oleh WOAH. Proyek tersebut memberikan dukungan keuangan yang dialokasikan, yang mungkin khusus untuk penyakit dan/atau negara/kawasan. Namun dalam upaya untuk memperluas cakupan geografis, beberapa fleksibilitas telah diperkenalkan untuk menanggapi permintaan yang datang dari negara yang tidak diprioritaskan.

Anggota WOAH harus terlibat dalam pembahasan secara intensif dengan Perwakilan Regional dan Sub-Regional WOAH untuk membahas pengembangan dan penerapan strategi pengendalian penyakit, untuk menjangkau peluang mendapatkan manfaat dari Bank Vaksin WOAH sebagai bagian dari strateginya, dan mengembangkan struktur dan permintaan lengkap untuk diserahkan ke WOAH. Setelah Delegasi Nasional untuk WOAH atau Menteri Nasional mengirimkan surat permintaan vaksin secara resmi kepada WOAH, kemudian WOAH akan mengevaluasi permintaan tersebut. Semua permintaan vaksin harus melampirkan dokumen strategi pengendalian nasional yang menjelaskan bagaimana vaksin berkontribusi dan mendukung strategi nasional.

Persyaratan Anggota yang meminta vaksin asal Bank Vaksin WOAH:

Surat dari Delegasi Nasional kepada Direktur Jenderal WOAH.

Satu halaman yang merangkum strategi pengendalian nasional.

Garis besar tentang rencana penggunaan vaksin yang diminta (Mengapa? Di mana? Siapa yang memvaksinasi?).

Strategi keberlanjutan dan kemampuan (mencakup referensi untuk strategi pengadaan selanjutnya yang di luar dukungan WOAH).

Laporan penggunaan vaksin dan pencapaiannya.

Mendorong implementasi strategi nasional secepat mungkin

Secara umum, pemberian vaksin kepada Anggota WOAH melalui Bank Vaksin WOAH bertujuan untuk mendorong implementasi strategi nasional dalam waktu singkat. Penyediaan vaksin ke Negara Anggota WOAH ini untuk mendukung pelaksanaan satu atau dua kali vaksinasi massal selama tahun pertama dari strategi pengendalian (secara indikatif tidak lebih dari dua tahun), dan setelahnya dilanjutkan menggunaan pendanaan nasional masing-masing. Maka dari itu Negara Anggota WOAH yang mendapat manfaat dari Bank Vaksin WOAH harus memikirkan rencana program vaksinasi selanjutnya, mencakup strategi berkelanjutan yang menjelaskan bagaimana melanjutkan pelaksanaan vaksinasi massal tanpa menggunakan vaksin yang disediakan oleh Bank Vaksin WOAH.

Bank Vaksin WOAH tidak boleh menggantikan prosedur pengadaan nasional, tetapi harus digunakan sebagai alat pelengkap Anggota WOAH untuk memperoleh akses jangka panjang terhadap vaksin berkualitas tinggi dan merangsang pendanaan nasional serta komitmen pengendalian penyakit hewan.

Rincian penggunaan vaksin dan pelaksanaan vaksinasi massal harus dilaporkan kembali ke WOAH oleh Negara Anggota WOAH. Hal ini penting bagi WOAH untuk memantau penggunaan vaksin, melaporkan potensi hasil dan kemajuan serta berbagi pengalaman dengan negara lain tentang praktik dan pembelajaran terbaik. Laporan tersebut harus diserahkan ke WOAH dalam waktu enam bulan setelah menggunakan vaksin untuk berkontribusi pada program pengendalian penyakit yang sudah terstruktur dengan baik dan diakui. Beberapa permintaan untuk mendapatkan manfaat dari Bank Vaksin WOAH merupakan bagian dari program pengendalian penyakit tersebut dilaksanakan dalam konteks proyek yang diawasi atau dilaksanakan oleh Negara Anggota bekerjasama dengan WOAH dan mitra pendanaan. WOAH dapat memberikan akses negara penerima ke Bank Vaksin WOAH selama jangka waktu proyek. Dalam hal ini, proses untuk meminta vaksin asal Bank Vaksin WOAH disederhanakan, caranya Anggota WOAH cukup menyerahkan surat resmi permintaan vaksin dan membuat referensi yang sesuai dengan proyek tersebut. Untuk memberikan tanggapan tepat waktu terhadap wabah darurat WOAH dan merespons secara positif dalam mengatasi wabah darurat, atau tanpa adanya strategi nasional / program terstruktur yang spesifik.

Seperti halnya permintaan lainnya, Delegasi Nasional WOAH harus mengirimkankan surat resmi kepada Direktur Jenderal WOAH yang meminta akses ke Bank Vaksin WOAH untuk pengadaan vaksin. WOAH berusaha untuk memastikan respon yang cepat dan efisien dan menghubungi produsen vaksin untuk memastikan pengiriman vaksin telah diprioritaskan.

Untuk PMK, ketersediaan vaksin hanya untuk strain yang ada di (atau tersedia) Bank Antigen WOAH. Bila dianggap perlu, WOAH membentuk Komite Penasihat untuk memberikan rekomendasi konsultatif kepada Direktur Jenderal WOAH untuk menginformasikan pengambilan keputusan. Komite ini dapat dibentuk hanya untuk kasus-kasus tertentu, misalnya, ketika tidak ada program pengendalian terstruktur, atau dalam kasus wabah penyakit darurat. Anggota Komite Penasihat bergantung pada penyakit yang diminta vaksinnya, dan memperkirakan partisipasi pakar internal dan eksternal. Konsultasi dilakukan melalui konferensi atau melalui email.

4. Bank Vaksin WOAH fleksibel dan aman secara finansial 

WOAH bukanlah produsen vaksin atau pemasok vaksin. Bank Vaksin WOAH adalah mekanisme hibrida yang sesuai dengan perjanjian pasokan antara WOAH dan produsen vaksin untuk menyediakan vaksin kepada Anggota WOAH. Bank Vaksin WOAH bersifat virtual karena WOAH tidak menyimpan stok fisik apa pun di lokasinya, melainkan meminta mekanisme penarikan vaksin dari pemasok vaksin. Mengenai Bank Antigen PMK, perjanjian pasokan saat ini dengan pabrikan tidak memerlukan biaya sewa.

Perjanjian yang ditandatangani dengan produsen vaksin memungkinkan WOAH untuk segera meminta produsen untuk memasok vaksin ke Anggota WOAH yang telah diberikan akses ke Bank Vaksin. Ketersediaan stok vaksin bergulir ditambah dengan proses pengambilan keputusan yang cepat WOAH menjamin layanan yang secara cepat dalam menyediakan vaksin berkualitas tinggi kepada Anggota WOAH.

Anggota WOAH dapat mengakses vaksin asal Bank Vaksin WOAH melalui tiga modalitas berikut: 

(a) Pembelian vaksin dan biaya transportasi dibayar oleh WOAH dengan dukungan keuangan dari mitra sumber daya WOAH dalam kerangka hibah yang dikelola oleh WOAH. Namun perlu diketahui bahwa uang dari Anggaran Reguler WOAH tidak digunakan untuk membiayai Bank Vaksin WOAH atau untuk pengadaan dan suplai vaksin ke Negara Anggota WOAH.

(b) Pembelian vaksin dan biaya transportasi disediakan oleh organisasi internasional atau mitra pelaksana. Contoh sampai saat ini organisasi internasional yang membeli vaksin dari Bank Vaksin WOAH yaitu FAO, WHO atau Grup Bank Dunia.

(c) Pembelian vaksin dan biaya transportasi dibayarkan langsung ke pemasok vaksin oleh Negara Anggota WOAH yang telah diberikan akses ke Bank Vaksin WOAH oleh Direktur Jenderal WOAH (Pembelian Langsung).

Terlepas dari modalitas akses yang digunakan, semua permintaan akses ke Bank Vaksin WOAH harus dikembangkan bekerja sama dengan Layanan Veteriner Nasional negara penerima. Selain itu, dari awal WOAH telah menggarisbawahi bahwa pendirian dan pengelolaan Bank Vaksin WOAH tidak menimbulkan risiko keuangan bagi organisasi. Sebelum memberikan akses ke Bank Vaksin WOAH, modalitas pembelian (yang akan membayar vaksin dan biaya transportasi terkait) dikonfirmasi untuk menghilangkan semua ketidakpastian baik itu untuk WOAH atau untuk produsen vaksin.

Ketika pembayaran tidak dikeluarkan oleh WOAH, tetapi melalui pihak ketiga (organisasi internasional, mitra pelaksana atau langsung oleh Negara Anggota), produsen vaksin berhak menerima atau menolak jaminan keuangan yang diajukan oleh pihak ketiga. Kejelasan tersebut sangat penting untuk keberlanjutan jangka panjang dan kredibilitas mekanisme. Sampai saat ini, pembelian dari Bank Vaksin WOAH untuk PMK semuanya terjadi melalui modalitas (a) pembelian vaksin dan biaya transportasi dibayar oleh WOAH dengan dukungan keuangan dari mitra sumber daya WOAH.

5. Dampak Bank Vaksin WOAH ditingkatkan melalui kemitraan 

Kemitraan merupakan kunci dalam pelaksanaan mandat WOAH. WOAH mengembangkan sinergi dan melibatkan banyak mitra institusional dan regional internasional antara lain WHO, FAO, dan Grup Bank Dunia. Kemitraan tersebut mendorong dan mendukung kolaborasi di bidang kepentingan bersama, dan ketika diperlukan WOAH secara aktif melakukan pengembangan kemitraan tambahan dengan organisasi lain.

Pengalaman pada dekade pertama yang diperoleh dalam pengelolaan Bank Vaksin WOAH, menunjukkan pentingnya kolaborasi dengan berbagai mitra internasional, regional dan lokal, untuk mendukung Negara Anggota WOAH baik ketika melaksanakan vaksinasi massal dalam merespon wabah darurat maupun dalam program pengendalian penyakit nasional.

WOAH menekankan bahwa dalam kerangka Aliansi Tripartit, serangkaian kerjasama telah dilaksanakan dengan FAO dan WHO. Kolaborasi dengan WHO fokus pada penyediaan vaksin rabies dalam jumlah besar untuk vaksinasi anjing, sedangkan dengan FAO, WOAH telah bekerja sama dalam penyediaan vaksin PPR dan Rabies.

WOAH terus membangun kolaborasi ini dan membuka peluang baru pada waktu mendatang. Kolaborasi dengan mitra pelaksana lainnya juga telah berhasil di masa lalu untuk memanfaatkan upaya lain untuk mendukung Anggota WOAH dalam pelaksanaan upaya pengendalian penyakit secara nasional. Berdasarkan kasus per kasus, dan bila didukung oleh alasan yang kuat, WOAH akan mempertimbangkan kerjasama dengan organisasi internasional lainnya, organisasi regional dan Lembaga Swadaya Masyarakat, untuk mendukung pelaksanaan vaksinasi massal.

WOAH mempertimbangkan pentingnya jaminan bahwa layanan veteriner terlibat secara penuh dalam vaksinasi massal dari vaksin yang disediakan oleh Bank Vaksin WOAH. Dalam pengelolaan Bank Vaksin WOAH, perlu adanya kolaborasi yang kuat dan efisien dengan sektor swasta, khususnya dengan produsen vaksin. WOAH terus memperkuat hubungan ini berdasarkan transparansi, efisiensi dan keberlanjutan untuk keberhasilan memerangi penyakit lintas batas.

Kesimpulan

Prinsip Panduan dalam kebijakan WOAH ini digunakan sebagai kerangka kerja menyeluruh, WOAH terus memberikan akses ke Bank Vaksin WOAH kepada Anggotanya. Upaya tersebut berlanjut berdasarkan kebijaksanaan WOAH dan tergantung pada dukungan mitra sumber daya. Dalam semua kasus, Bank Vaksin WOAH memberikan dukungan untuk penerapan strategi pengendalian penyakit hewan global yang didukung oleh Anggota WOAH. 

Implementasi mekanisme Bank Vaksin yang sesuai dengan tujuannya dan kebutuhan Anggota, WOAH berupaya membangun kemitraan yang efisien dan berkelanjutan untuk mengendalikan dan menghilangkan penyakit hewan lintas batas secara efektif.

Mekanisme untuk memperoleh vaksin dari WOAH yang dijelaskan di atas dapat menjadi pertimbangan negara yang baru mengalami wabah Penyakit Mulut dan Kuku pada saat ini untuk memperoleh akses Bank Vaksin WOAH tersebut pada tahap awal pengendalian dan pemberantasannya. 

Semoga Kementerian Pertanian dapat berhasil mendatangkan vaksin PMK dalam jumlah yang memadai yang mengandung serotipe O sesuai masukan para pakar Komisi Ahli Obat Hewan yaitu vaksin yang mengandung strain O1-MANISA + O 3039 yang cocok dengan virus lapangan PMK di Indonesia, dengan harapan program vaksinasi massal berjalan lancar sehingga wabah PMK di Indonesia dapat segera dikendalikan dengan baik.


Kolom Komentar

You must login to comment...