Kebijakan Label “Bisphenol A (BPA) Free” dan Jebakan Regrettable Substitution

Pangannews.id

Jumat, 22 Juli 2022 11:37 WIB

news
Foto : PhD - Dosen Biokimia, FMIPA, IPB University, Syaefudin.

PanganNews.id Jakarta - Oleh: Syaefudin, PhD - Dosen Biokimia, FMIPA, IPB University

Sebulan lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) menerbitkan siaran pers tentang aturan pelabelan Bisfenol A (BPA) pada air minum dalam kemasan (AMDK). Setelahnya, pro kontra di masyarakat pun mencuat. Sebenarnya, apa itu BPA? Apakah BPA sangat berbahaya sehingga perlu mengatur pelabelannya dalam AMDK? Apakah alternatif pengganti BPA lebih aman bagi kesehatan?

Mengenal dan Menemukan BPA

Bisfenol A (BPA) adalah bahan kimia yang digunakan dalam industri pembuatan plastik dan resin epoksi untuk meningkatkan ketebalan dan daya tahan produk kemasan. Saat ini, BPA banyak ditemukan di plastik polikarbonat (PC) yang digunakan untuk memproduksi bahan optik, peralatan elektronik, peralatan makanan dan minuman (botol, botol plastik yang dapat digunakan kembali piring, mangkuk, gelas, dan wadah makanan), dan peralatan microwave. 

Selain itu, BPA juga digunakan dalam industri resin epoksi untuk meningkatkan daya tahan panas dan melindungi produk dari perkaratan. Resin epoksi umumnya digunakan sebagai pelapis kaleng bagian dalam pada produk makanan dan minuman. Selain industri makanan, BPA juga digunakan dalam pembuatan cat resin epoksi, kertas termal, penghambat nyala api (flame retardant), tinta cetak, peralatan olahraga, bahan kedokteran gigi, compact disc (CD), serta digital video disc (DVD). Tak hanya itu, beberapa produk perawatan pribadi, seperti losion tabir surya, pembersih wajah, dan cat kuku, juga mengandung BPA.

Mengkaji Paparan BPA di Indonesia

Alasan utama kekhawatiran terhadap BPA adalah adanya potensi bahan kimia ini dapat terlepas atau berpindah (migrasi) dari produk akhirnya (misal botol atau kaleng), baik selama produksi (production), penanganan (handling), pengemasan (packaging), maupun pengangkutan (transporting). Kekhawatiran migrasi BPA ini semakin besar terutama untuk makanan atau minuman yang disimpan dalam jangka waktu lama. Selain itu, wadah plastik yang dipanaskan dengan suhu tertentu juga berpeluang meningkatkan risiko migrasi atau paparan BPA.

Dalam acara Sarasehan Upaya Perlindungan Kesehatan Masyarakat melalui Regulasi Pelabelan Bisfenol A (BPA) pada Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), BPOM memaparkan hasil pengawasan kemasan galon yang dilakukan pada kurun 2021-2022. Baik dari sarana produksi maupun peredaran, BPOM menemukan 3.4% sampel AMDK yang beredar di Indonesia tidak memenuhi syarat batas maksimal migrasi BPA, yakni di atas 0.6 bpj. Tak hanya itu, 46.97% kemasan galon di sarana peredaran dan 30.91% di sarana produksi juga terdeteksi menganding BPA dengan kadar yang mengkhawatirkan, yakni 0.05 - 0.6 bpj. Sementara itu, hasil pengawasan kandungan BPA terhadap produk AMDK menunjukkan bahwa 5% sampel galon baru di sarana produksi dan 8.67% di sarana peredaran terbukti mengandung BPA di atas 0.01 bpj alias berisiko terhadap kesehatan.

Bahaya BPA bagi Kesehatan

Pada kadar yang rendah, paparan BPA tidak menimbulkan masalah kesehatan. Namun, bila seseorang terpapar BPA dalam konsentrasi yang tinggi, potensi terkena masalah kesehatan akan semakin besar. Hal tersebut diduga karena BPA mengganggu fungsi estrogen, hormon yang berperan penting dalam perkembangan seksual dan reproduksi, khususnya wanita. Oleh sebab itu, BPA dapat mengganggu reseptor estrogen dan mempengaruhi proses biokimiawi di alam tubuh, seperti pertumbuhan, perbaikan sel, perkembangan janin, dan reproduksi.

Sebuah artikel di Jurnal Fertility and Sterility menunjukkan keterkaitan antara konsentrasi BPA urin dan kualitas sperma. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sperma para pekerja yang terpapar BPA tinggi (rerata BPA urin = 38.7 g/L) mengalami penurunan, baik dari segi konsentrasi, jumlah, maupun aktivitas. Sementara itu, tim peneliti dari Department of Environmental Health, Harvard School of Public Health, Amerika Serikat melaporkan adanya hubungan antara kenaikan kadar BPA dan penurunan sel telur (oosit). Sebuah penelitian di China menemukan kadar BPA yang lebih tinggi pada wanita dengan keguguran berulang dibandingkan dengan kelompok kontrol. Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa paparan konsentrasi BPA yang tinggi dapat menyebabkan asma pada anak-anak.

Sementara itu, penelitian dengan menggunakan hewan coba menunjukkan bahwa paparan BPA terbukti meningkatkan risiko obesitas, disfungsi tiroid, dan penyakit kardiovaskular. Paparan BPA juga dilaporkan dapat menyebabkan diabetes tipe 2 dan resistensi insulin. Pada tikus hamil, paparan BPA akan memperburuk resistensi insulin, menurunkan toleransi kadar glukosa, serta meningkatkan kadar insulin plasma, trigliserida, dan leptin.

Regulasi BPA di Dunia

Sebenarnya, efek samping paparan BPA merupakan salah satu kajian yang kontroversial. Sampai saat ini, Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika (FDA) masih menggolongkan BPA sebagai ‘bahan kimia tambahan’ yang masih aman. Meski demikian, FDA melarang penambahan BPA pada berbagai produk perlengkapan bayi, seperti botol susu, gelas isap, dan kaleng susu formula. Tak hanya di Amerika, penggunaan BPA pada botol bayi juga dilarang di Kanada pada 2008, di Prancis pada 2010, dan di Uni Eropa pada 2011. Perbedaan kebijakan karena faktor usia ini bisa dipahami lantaran fungsi dan perkembangan organ tubuh pada bayi belum sempurna selayaknya organ tubuh pada orang dewasa.

Lalu, bagaimana dengan batasan kadar BPA yang masih terbilang aman bagi kesehatan tubuh? Berdasarkan laporan FDA, paparan BPA yang kurang dari 5 mg/kg BB tidak akan menimbulkan masalah kesehatan alias aman. Sementara itu, kajian yang dilakukan oleh Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) menunjukkan bahwa angka paparan BPA dari makanan, perlengkapan kosmetik, serta kertas termal masih jauh di bawah tingkat tolerable daily intake (TDI) yang aman (TDI = 4 g/kg BB/hari). Penelitian lain juga melaporkan bahwa umumnya manusia hanya terpapar 0.2 - 0.5 μg/kg BB tiap hari.

Sementara itu, penggunaan BPA di Indonesia diatur melalui Peraturan BPOM RI No. 20 tahun 2019 tentang Kemasan Pangan. Peraturan tersebut membatasi kadar paparan BPA pada kemasan plastik agar tidak melebihi 0.6 bpj. Baru-baru ini, BPOM memaparkan temuan migrasi BPA pada kemasan AMDK yang melebihi batas toleransi. Dengan temuan ini, BPOM berusaha untuk memperketat penggunaan BPA melalui pengaturan pemberian label ‘Bebas BPA’ atau ‘Berpotensi Mengandung BPA’ pada AMDK. 

Sebenarnya, selain jumlah BPA yang masuk, waktu paruh BPA juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan hubungan antara konsentrasi BPA dan efek sampingnya bagi kesehatan tubuh. Waktu paruh BPA adalah durasi/waktu yang dibutuhkan BPA untuk berkurang jumlahnya hingga menjadi setengah dari jumlah semula. Semakin singkat waktu paruh, semakin cepat bahan kimia tersebut ‘hilang’ dari tubuh yang terpapar BPA. Artinya, dalam kasus ini, BPA yang masuk ke dalam tubuh akan cepat dikeluarkan dari tubuh melalui reaksi biokimia yang rumit. Akibatnya, penumpukan BPA di dalam jaringan tubuh menjadi berkurang. Padahal, waktu paruh BPA di dalam tubuh amatlah singkat, yakni sekitar 5-6 jam. 

Jebakan ‘Regrettable Substitution’

Beberapa negara melarang penggunaan BPA pada beberapa produk. Hal ini didasarkan pada berbagai studi ilmiah yang melaporkan potensi dampak buruk BPA bagi kesehatan manusia. Produk-produk yang tidak menggunakan BPA tersebut kemudian diberi label “Bebas BPA”. Sekilas, istilah ini memberi kesan bahwa produk tersebut aman, tetapi hal ini perlu dikaji kembali. 

Apa yang banyak konsumen tidak tahu adalah bahwa BPA sering diganti dengan bahan kimia lain, seperti bisfenol F (BPF) atau bisfenol S (BPS), yang kurang dipelajari yang implikasi kesehatannya hampir tidak diketahui. Jenis situasi ini dikenal sebagai potensi 'substitusi yang disesalkan', karena bahan pengganti sebenarnya mungkin lebih buruk daripada bahan yang digantikannya. Padahal, kemiripan struktur kimia kedua bahan alternatif dengan BPA berpotensi memiliki efek yang sama dengan BPA.

Pada tahun 2017, sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Lancet Planet Health melaporkan bahwa BPS dan BPF memiliki dampak yang kurang berbahaya bagi kesehatan bila dibandingkan dengan BPA. Simpulan ini tidak berhenti di sini, laporan terbaru pada tahun 2019 di Journal of Diabetes and Metabolism menyatakan bahwa paparan BPF secara positif berkaitan erat dengan risiko obesitas yang lebih tinggi pada anak-anak dan remaja, terutama pada anak laki-laki di Amerika Serikat. Perbedaan hasil ini bisa dipahami karena penggunaan BPS dan BPF sebagai alternatif pengganti BPA belumlah lama. Butuh waktu yang lebih lama untuk melihat dampak bahan kimia pengganti BPA.

Edukasi dan Perlindungan Konsumen

Kewajiban mencantumkan tulisan cara penyimpanan pada label AMDK, seperti “Simpan di tempat bersih dan sejuk, hindarkan dari matahari langsung, dan benda-benda berbau tajam”, dan pencantuman label “Berpotensi Mengandung BPA” oleh BPOM RI sangat patut diapresiasi. Hal tersebut dapat dinilai sebagai langkah hati-hati demi melindungi kepentingan konsumen serta mengurangi dampak kesehatan rakyat dan ekonomi negara di kemudian hari. 

Meski demikian, alangkah lebih baik bila BPOM melakukan penelitian yang lebih menyeluruh, khususnya kondisi terkini paparan BPA dan bahan alternatifnya (seperti BPF, BPS). Jadi, kebijakan tersebut tidak hanya didasarkan pada hasil uji migrasi BPA di produk kemasan semata (in vitro) yang kurang merepresentasikan dampak buruk BPA bagi kesehatan, namun juga mempertimbangkan kajian tentang paparan BPA dan bahan alternatifnya di tubuh konsumen (in vivo). 

Bila ini dilakukan, argumentasi BPOM dalam menentukan kebijakan pelabelan akan lebih akurat dan mengurangi kontroversi di masyarakat. Masyarakat juga akan terhindar dari jebakan ‘regrettable substitution’, sekaligus akan memiliki kesadaran diri dalam menentukan produk yang aman bagi kesehatan. Bagi dunia industri, kebijakan yang didasarkan atas kajian lebih komprehensif akan memberikan kesadaran kolektif untuk bisa melindungi kesehatan bersama sekaligus menstimulasi daya inovasi perusahaan dalam mencari alternatif cara agar bisa menghasilkan produk yang lebih aman dan tetap menguntungkan.

Referensi:

• Almeida S, Raposo A, Almeida-González M, Carrascosa C (2018) Bisphenol A: food exposure and impact on human health. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety, 17: 1503-1517. https://doi.org/10.1111/1541-4337.12388

• BPOM RI (2022) Siaran pers dalam ‘Sarasehan upaya perlindungan kesehatan masyarakat melalui regulasi pelabelan bisfenol a (BPA) pada air minum dalam kemasan (AMDK)’. [terhubung berkala], Sumber: https://www.pom.go.id/new/view/more/pers/650/Sarasehan-Upaya-Perlindungan-Kesehatan-Masyarakat-Melalui-Regulasi-Pelabelan-Bisfenol-A--BPA--pada-Air-Minum-Dalam-Kemasan--AMDK-.html

• Healthline.Com (2022) What is BPA? Should I be concerned about it? [terhubung berkala], Sumber: https://www.healthline.com/nutrition/what-is-bpa#basics

• Li L, Wang Q, Zhang Y, Niu Y, Yao X, Liu H (2015) The molecular mechanism of bisphenol A (BPA) as an endocrine disruptor by interacting with nuclear receptors: insights from molecular dynamics (MD) simulations. PLoS ONE 10(3): e0120330. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0120330

• Liu B, Lehmler HJ, Sun Y, Xu G, Liu Y, Zong G, Sun Q, Hu FB, Wallace RB, Bao W (2017) Bisphenol A substitutes and obesity in US adults: analysis of a population-based, cross-sectional study. The Lancet Planetary health, 1(3), e114–e122. https://doi.org/10.1016/S2542-5196(17)30049-9

• Liu B, Lehmler HJ, Sun Y, Xu G, Sun Q, Snetselaar LG, Wallace RB, Bao W (2019) Association of bisphenol A and its substitutes, bisphenol F and bisphenol S, with obesity in United States children and adolescents. Diabetes & Metabolism Journal, 43(1), 59–75. https://doi.org/10.4093/dmj.2018.0045

• Moon MK (2019) Concern about the safety of bisphenol A substitutes. Diabetes & metabolism Journal, 43(1), 46–48. https://doi.org/10.4093/dmj.2019.0027

• Piringer O (2007) Mathematical modeling of chemical migration from food contact materials. In: Barnes KA, Sinclair CR, Watson DH, editors. Chemical migration and food contact materials. Cambridge: Woodhead, p.180–202.

• Wiraagni IA, Mohd MA, bin Abd Rashid R, Haron DEbM (2019) Validation of a simple extraction procedure for bisphenol A identification from human plasma. PLoS ONE 14(10): e0221774. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0221774


Kolom Komentar

You must login to comment...