Mengenal Buah Tin dan Potensinya sebagai “Breast Cancer Treatment”

Pangannews.id

Sabtu, 23 Juli 2022 09:45 WIB

news
Foto : Dosen Departemen Biokimia, IPB University, Puspa Julistia Puspita.

PanganNews.id Jakarta - Oleh : Puspa Julistia Puspita, M.Sc (Dosen Departemen Biokimia, IPB University)

Tin (Ficus carica L.) istilah lain ara maupun fig merupakan tanaman yang berasal dari Asia Barat dan banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Selain itu merupakan salah satu tanaman yang telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan hingga pengobatan tradisional. Berbagai bagian tanaman tin bermanfaat dan memiliki senyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan. Beberapa penelitian baik secara in vitro maupun in vivo telah membuktikan bahwa tanaman tin memiliki pengaruh sebagai antikanker. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa ekstrak buah, daun, dan lateks pada Ficus carica L. memiliki efek sitotoksisitas pada sel kanker, salah satunya sel HeLa. Efek antikanker pada tin dipengaruhi oleh senyawa yang terkandung di dalamnya.

 Tanaman tin memiliki banyak manfaat pada tiap bagiannya, baik daun, buah, maupun akarnya, diantaranya sebagai antioksidan, antiinflamasi, antikanker, serta penyakit lain seperti gangguan pernapasan dan pencernaan. Tin mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti asam fenolik, asam klorogenik, flavonoid, antosianin, xanthol, arabinosa, serta senyawa aktif lainnya yang tinggi antioksidan. 

Penelitian yang dilakukan oleh Veberic dan Mikulic-Petkovsek (2015) menunjukkan buah tin diketahui tinggi akan senyawa sianidin-3-rutinosida dengan kadar sekitar 15,42-901,03 mg/kg FW. Selain itu, daun tin memiliki senyawa dengan kadar lebih dari 100 mg/kg FW antara lain katekin, psoralen, bergapten, asam ferulat, kuersetin-3-O-glukosida, dan asam 5-kafeoilkuinik. Menurut Zhang et al. (2018) daun tin memiliki kandungan bergapten dan psoralen yang berpotensi sebagai antikanker. Badgujar et al. (2014) dalam studi literaturnya menyebutkan bahwa luteolin menjadi komponen flavonoid terbesar pada daun dengan total kadar 680 mg/kg. Selain itu, daun tin juga mengandung banyak kuersetin dengan kadar 630 mg/kg. Sedangkan beta sitosterol diketahui menjadi komponen terbanyak di getah tin. Kadar beta sitosterol pada getah sekitar 54% dari kadar total. Dari hasil penelitian terhadap kandungan tanaman tin menjadi alasan mengapa tanaman tin dikenal memiliki banyak manfaat bagi masyarakat. Berbagai sumber bacaan menyebutkan banyaknya manfaat dari buah tin, tetapi pada artikel ini akan fokus pada potensi buah dan daun tin sebagai terapi kanker payudara. Salah satu penelitian yang mendukung manfaat tin dalam mengatasi kanker yaitu penelitian yang dilakukan pada tikus, yang menunjukkan bahwa getah tin mampu mengurangi ukuran tumor pada sel kanker payudara di tikus

Kanker payudara menempati urutan pertama terkait jumlah kanker terbanyak di Indonesia serta menjadi salah satu penyumbang kematian pertama akibat kanker. Berdasarkan, data Globocan tahun 2020, jumlah kasus baru kanker payudara mencapai 68.858 kasus (16,6%) dari total 396.914 kasus baru kanker di Indonesia. Sementara itu, untuk jumlah kematiannya mencapai lebih dari 22 ribu jiwa kasus. Penyebab yang terjadi kebanyakan karena kanker yang diderita sudah stadium lanjut atau tidak dilakukan deteksi dini. 

Saat ini prioritas penanganan oleh Pemerintah Indonesia adalah penanganan terhadap kanker payudara, tetapi tidak menutup penanganan terhadap kanker lainnya, bahkan Kemenkes melakukan upaya penanggulangan terhadap penyakit kanker lainnya, yang tertuang dalam Rencana Aksi Nasional Kanker 2022-2022. Kanker payudara terjadi karena banyak faktor, pola hidup seperti konsumsi makanan yang kurang sehat atau yang banyak terpapar Reactive Oxygen Spesies (ROS) dan faktor genetik, yaitu gen p53, gen BRCA1, serta gen BRCA2 yang disinyalir dapat meningkatkan aktivitas proliferasi sel. Keberadaan estrogen dan metabolitnya, serta reseptor estrogen menjadi salah satu penyebab yang paling sering terjadi pada kanker payudara. 

Penanganan kanker payudara saat ini dilakukan dalam berbagai cara, yakni terapi radiasi, operasi, dan terapi adjuvan (pendamping). Menurut penelitian Maximov tahun 2013, Interaksi antagonis kompetitif pada reseptor estrogen-α (ERα) menjadi salah satu terapi hormonal dalam penanganan kanker payudara. Senyawa yang mampu berkompetisi dengan estrogen yaitu senyawa yang mampu bertindak sebagai SERM (selective estrogen receptor modulators) atau anti ERα, yaitu senyawa yang dapat berikatan dengan reseptor estrogen-α, sehingga sel kanker tidak berkembang dan mengalami apoptosis.

Terapi SERM telah lama dikembangkan dan efektif untuk mengobati kanker payudara secara hormonal. Penelitian in silico terbaru tahun 2021 oleh Kusmiarni yang menguji potensi senyawa aktif dari semua bagian Tin (daun, buah dan getah) sebagai alternatif dalam pengobatan kanker payudara dengan terapi SERM atau dapat dikatakan sebagai anti ERα. Penderita kanker payudara memproduksi estrogen yang tinggi, sehingga meningkatkan interaksi estrogen dengan ERα yang berdampak pada peningkatan poliferasi sel kanker. Metode penanganan kanker dengan terapi SERM artinya adalah menghambat interaksi estrogen dengan ERα, sehingga harapannya pembelahan sel kanker dapat dicegah. Mekanisme penghambatan interaksi estrogen dan ERα terjadi pada mekanisme tamoksifen dan raloksifen (obat komersial). Sehingga mekanisme ini menjadi dasar penelitian Kusmiarni dengan metode penambatan molekuler sebelum pengujian lebih lanjut, seperti in vitro dan in vivo.

Studi in silico dari penelitian tersebut menguji 64 senyawa aktif yang terdapat pada daun, buah dan getah tin. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa senyawa aktif pada daun, buah, dan getah tin berpotensi sebagai anti reseptor estrogen-α (ERα). Bahkan potensi terbaik terdapat pada epikatekin dan apigenin pada bagian buah dan daun. Senyawa aktif lainnya alfa gurjunen, beta kariofilen, alfa kariofilen, alfa guaien, beta kubeben, germacrene D, kopaen, asam 5-kafeoilkuinik, tau kadinen, bergapten, dan asam ferulat juga memiliki potensi sebagai anti ERα. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tanaman tin dapat berpotensi sebagai herbal untuk terapi kanker payudara. 

Hasil penelitian yang ada terkait tanaman Tin terhadap manusia memang masih perlu dikaji lebih dalam lagi. Konsumsi buah dan daun tin memang tidak langsung memberikan efek terhadap penderita kanker, karena perlu kajian yang lebih dalam. Akan tetapi, dari hasil penelitian yang ada, konsumsi buah dan daun tin memberikan hasil yang positif dan diklaim sangat menjanjikan. Masyarakat dapat memakan buahnya langsung, atau kemudian memanfaatkan rebusan air dari daun tanaman tin. 

Pemanfaatan daun tin telah banyak dikenal di masyarakat. Daun tin kering bisa digunakan sebagai teh, sama seperti menyeduh daun teh biasa, atau juga bisa menggunakan daun tin segar untuk membuat teh daun tin dengan merebusnya selama 15 menit dan setelah itu menyaringnya. Jika ingin dikonsumsi untuk lauk masakan, daun tin juga dapat di masak dalam air yang sedikit asin selama 20 menit atau sampai empuk, lalu gunakan sebagai pembungkus atau alternatif bayam hijau. Itulah manfaat buah Tin sebagai salah satu terapi kanker payudara serta bagaimana mengkonsumsi daun tin untuk diperoleh manfaatnya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk pembaca.


Kolom Komentar

You must login to comment...