Kampus Rakyat

Pangannews.id

Rabu, 03 Agustus 2022 07:31 WIB

news
Foto : Entang Sastraatmadja.

PanganNews.id Jakarta - Oleh : Entang Sastraatmadja.

Sahabat baik saya Mas Bambang Sadono sebagai Host Inspirasi Bangsa Grup, hari Sabtu tanggal 16 April 2022 pukul 12.00 sd 12.30, meminta waktu untuk wawancara melalui Zoom. Kegiatan ini merupakan "kepanjangan tangan" Program 59 Tahun IPB". Saya menyambut baik ajakan tersebut. 

Alasan nya, bukan hanya saya merupakan alumni IPB, lulus tahun 1981, namun dari dulu saya pun ingin membewarakan pengalaman sejarah bahwa IPB sempat dikenal sebagai "Kampus Rakyat". Saya ingin menjelaskan mengapa kata-kata Kampus Rakyat ini sangat disukai para aktivis mahasiswa dan sempat menjadi penghias kaos-kaos oblong yang dicetak oleh para mahasiswa itu sendiri.

Istilah ini mengemuka ketika berlangsung penolakan mahasiswa terhadap SK O28 yang inti nya Pemerintah ingin menerapkan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) lengkap dengan pembentukan BKK nya sebagai pengganti Dewan Mahasiswa, yang saat itu ditengarai sangat vokal menentang berbagai kebijakan Pemerintah Soeharto.

Banyak pertanyaan yang disiapkan Beliau. Setidak nya beberapa pertanyaan yang cukup menarik untuk dibincangkan lebih lanjut. Mulai dari persoalan kebijakan pertanian hingga ke nasib dan kehidupan petani yang memprihatinkan. Untuk lebih jelas nya apa-apa yang digali dalam wawancara tersebut secara lengkap dapat dilihat di bawah ini :

01. Bisa diceritakan pengalaman bapak waktu kuliah di IPB, berkarir di berbagai bidang, sampai saat ini dikenal sebagai pengurus HKTI, penulis buku, dan pengamat pertanian ? 

02. Sebagai pengamat menurut bapak di mana letak kesalahan ketika mengelola komoditas unggulan seperti sawit, sampai menimbulkan krisis minyak goreng di dalam negeri ?

03. Pemerintah sampai saat ini juga belum berhasil mewujudkan swasembada gula, apa masalah pokoknya ? 

04. Pupuk subsidi sampai sekarang juga terus menjadi kontroversi dan beban petani. Adakah solusi yang ideal secara permanen ?

05. Apa sebenarnya peran HKTI. Kesannya HKTI lebih politis daripada secara teknis membantu petani. Apa yang terjadi di HKTI, yang muncul hanya jika terjadi perebutan pengurus ?

06. Pernah ada gurauan, pertanian Indonesia terus bermasalah, karena banyak alumni IPB yang tidak bekerja di pertanian, tetapi menjadi bankir atau wartawan . Apakah kesan ini masih terjadi sampai sekarang ?

07. Bisa digambarkan peran IPB dalam menghasilkan para tokoh berpengaruh baik di bidang pemerintahan, BUMN, maupun bisnis di lingkungan pertanian ?

08. Mungkin juga bisa disebutkan tokoh tokoh alumni IPB yang akhirnya dikenal bukan sebagai tokoh di bidang pertanian ?

09. Sebenarnya pembekalan apa saja termasuk penyiapan karakter yang dilakukan di IPB menurut bapak, sehingga alumninya bisa diterima di mana mana ?

10. Harapan dan saran apa saja yang bisa diberikan pada almamater, mahasiswa, maupun para alumni baru IPB, agar bisa menyesuaikan dengan tantangan di dunia kerja yang tersedia ?

Itulah seabreg pertanyaan yang diajukan Mas Bambang Sadono kepada saya. Jawaban yang saya berikan tentu cukup realistik berdasarkan pengalaman yang dialami. Terkait dengan sebutan IPB sebagai Kampus Rakyat, semangat para aktivis mahasiswa IPB mengumandangkan nya, karena IPB memang dihuni oleh para mahasiswa yang berasal dari seluruh Nusanrara. 

Dengan Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru versi Prof. Andi Hakim Nasution, IPB sengaja mengundang putera puteri terbaik se Indonesia untuk dapat merasakan bagaimana asyik nya kuliah di IPB. Cara baru penerimaan mahasiswa seperti ini, seiring dengan perjalanan waktu, akhir nya banyak diikuti pula oleh Perguruan Tinggi lain.

Seleksi melalui rapor SMA sejak kelas 1 sampai dengan 3, tanpa harus melalui test macam-macam segala, membuat kampus IPB semarak dan dihuni hampir oleh seluruh suku bangsa. Jawa, Sunda, Betawi, Minang, Batak, Ambon, Irian, Bali, Lombok, Bugis, Dayak dan lain sebagai nya hadir di kampus IPB. 

Saat itulah saya, seorang lulusan SMA Cianjur mengenal sosok Rohmin Dahuri yang berangkat dari SMA Cirebon. Bagi saya, Rohmin Dahuri adalah sosok yang mampu membawa kaum nelayan ke sebuah suasana hidup yang lebih baik, ketika Kang Rohmin ini dipercaya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan RI. 

Kemudian saya juga mengenal Titayanto Pieter yang menanatkan SMA nya di Irian. Saya dikenalkan dengan sosok Munawar sahabat baik yang sering makan bareng di Rumah Makan Padang Salayano di Pasar Bogor, yang sekolah SMA nya di Daerah Aceh. Itulah sebagian kecil dari mahasiswa angkatan Genksi yang jumlah nya diatas 1000 orang.

Sebutan Kampus Rakyat juga tak bisa dipisahkan dari nasib dan kehidupan petani, yang merupakan profesi paling banyak digeluti bangsa kita. Petani inilah rakyat terbesar neheri ini. IPB sebagai Perguruan Tinggi pertanian seharus nya mampu menelorkan terobodan cerdas untuk mempercepat tercipta nya kehidupan kaum tani yang sejahtera.

Demikian, sedikit pandangan terhadap istilah Kampus Rakyat yang sempat menjadi kebanggaan para aktivis mahasiswa IPB di jaman nya. Kita percaya masih ada saksi hidup yang bisa melengkapi pengalaman yang saya sampaikan lewat wawancara via Zoom dengam sahabat baik Mas Bambang Sadono. (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).


Kolom Komentar

You must login to comment...