Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Terobosan Diagnosa Cepat Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Lapangan

Bagikan
Foto :  drh. Pudjiatmoko, Ph.D, Medik Veteriner Ahli Utama, Direktorat Kesehatan Hewan .
Foto : drh. Pudjiatmoko, Ph.D, Medik Veteriner Ahli Utama, Direktorat Kesehatan Hewan .

PanganNews.id Jakarta - Oleh drh. Pudjiatmoko, Ph.D, Medik Veteriner Ahli Utama, Direktorat Kesehatan Hewan

Perkembangan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) masih berlangsung di beberapa daerah di 24 Provinsi di Indonesia. Satgas Penanganan PMK telah mempertahankan status kesehatan hewan di 10 Provinsi masih bebas PMK. Pada tanggal 2 September 2022 Satgas Penanganan PMK telah membuat Surat Edaran nomor 5 tahun 2022 tentang pengendalian lalu lintas hewan rentan PMK dan produk hewan rentan PMK berbasis kewilayahan. Di dalamnya terdapat pengaturan lalu lintas hewan rentan PMK dari Kabupaten/Kota zona hijau menuju Kabupaten/Kota Zona hijau diwajibkan menunjukkan hasil negatif uji laboratorium hewan bebas PMK melalui random sampling prevalensi 10% menggunakan metode RT-PCR atau ELISA NSP maksimal 1 minggu sebelum keberangkatan.

Dalam Surat Edaran sebelumnya nomor 2 tahun 2022 tentang protokol kesehatan pengendalian PMK, disebutkan untuk memastikan status kesehatan hewan rentan PMK, dapat dilakukan deteksi virus PMK secara berkala sesuai dengan risiko penularan dengan dua ketentuan. Pertama, bagi hewan rentan PMK yang berada di Kabupaten/Kota Zona Hijau, dapat melakukan deteksi virus PMK dengan menggunakan RT PCR dan ELISA NSP. Kedua, bagi hewan rentan PMK yang berada di Kabupaten/Kota Zona Kuning dan Merah, dapat menjalankan deteksi virus PMK dengan menggunakan rapid test Antigen, RT PCR, atau ELISA NSP.

Pemantauan perkembangan PMK

Begitu Indonesia terserang PMK pada bulan Mei 2022, Kementerian Pertanian menyatakan keadaan wabah PMK. Di negara-negara yang baru terserang wabah PMK biasanya melakukan respon utama diarahkan pada pengendalian penyakit yang cepat, fokus ke zona tertular dan pemberantasan dalam waktu secepat mungkin untuk menghindari penyebaran penyakit PMK dan pada gilirannya melakukan peningkatan ke status kesehatan menjadi endemis.

Kegiatan terpenting dalam pengendalian penyakit PMK memantau perkembangan penyakitnya. Cara memantau termudah penyakit ini dengan melihat tanda-tanda penyakit. Lalu diikuti test meneguhkan diagnosa dengan test di laboratorium. Dan diantara dua cara tersebut perlu terobosan test diagnosa secara cepat dan mudah di peternakan tempat hewan sakit berada.

Cara memastikan hewan terkena PMK

Cara memastikan hewan terkena PMK, kita melihat tanda-tanda penyakit yang timbul yaitu lepuh-lepuh pada sekitar mulut dan kuku kakinya. Namun pada kasus pertama kali disuatu wilayah yang sebelumnya bebas, kita perlu mengonfirmasi dengan pengujian sampel di laboratorium rujukan diagnosa PMK. Labolatorium rujukan di Indonesia adalah Pusat Veteriner Farma (Pusvetma). Sebelum terjadinya wabah Pusvetma setiap tahun selalu melakukan surveilans dan memantau peternakan sapi di sejumlah kabupaten/kota yang berisiko terhadap serangan PMK dari luar negeri. Caranya dengan menguji sampel serum sapi untuk mendeteksi adanya antibodi PMK menggunakan metode ELISA protein non-struktural (non-structural protein / NSP).

Namun sekarang setelah terjadinya wabah PMK, petugas lapangan perlu mendiagnosa secara cepat dan akurat untuk mengendalikan virus yang mudah menular ini. Hasil diagnosa yang cepat ini akan menjadi dasar yang kuat pemangku kepentingan melakukan respons cepat sehingga virus tidak menyebar ke tempat lain yang masih bebas.

Pentingnya mendiagnosa yang cepat dan akurat di lapangan 

PMK menyebar sangat cepat sehingga diperlukan keputusan untuk merespon dengan cepat ketika diketahui terdapat wabah di suatu daerah, sedangkan waktu untuk menerima sampel rata-rata lebih dari 24 jam. Maka dari itu penting untuk mempersingkat rentang waktu pengambilan sampel dan hasil uji, sehingga indikasi awal dugaan kasus dapat diketahui tepat waktu. Caranya dengan mendiagnosa secara cepat di tempat kandang ternak dugaan wabah PMK. Metode agar dapat membedakan 7 serotipe PMK yang ada di dunia yaitu serotipe O, A, C, Asia 1, SAT 1, SAT 2 dan SAT 3.

Cara ini lebih baik dibandingkan diagnosa yang hanya mengandalkan tanda-tanda penyakit saja karena terkadang gejala klinisnya mirip dengan beberapa penyakit lain. Interpretasi cepat hasil uji lapang yang cermat dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik wabah dan memantau masuknya serotipe baru. Namun, pada kasus pertama serotipe baru PMK ditemukan di suatu daerah perlu dikonfirmasi oleh labolatorium rujukan nasional.

Deteksi hewan yang terinfeksi di antara hewan yang divaksinasi

Deteksi hewan yang terinfeksi di antara hewan yang divaksinasi penting untuk pelaksanaan program pengendalian yang tepat. ELISA berbasis NSP sekarang dianggap sebagai metode yang paling sensitif untuk deteksi hewan terinfeksi pada populasi yang divaksinasi. Kit ELISA tidak langsung menggunakan protein non-struktural PMK (3AB3, 2C, 3D dan 3ABC) dan ELISA kompetitif menggunakan protein rekombinan 3ABC. Monitoring kemungkinan kejadian serotipe PMK yang berbeda dilakukan dengan cara pengambilan sampel dari lapangan lebih banyak.

Test diagnosa PMK secara cepat dan mudah

PMK menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di negara-negara yang terserang PMK sehingga mendiagnosa di lapangan secara cepat dan akurat akan membantu surveilans PMK dalam pengendalian wabah. Di era digital saat ini, RT-PCR dan RT-LAMP berkembang menuju versi seluler, yang bertujuan untuk mendiagnosa virus PMK di tempat kandang hewan sakit. Namun metode ini memerlukan alat khusus dan masih memerlukan SDM dengan skil khusus dalam mengoperasikannya.

Tuntutan pada saat ini, identifikasi cepat serotipe virus PMK sangat diperlukan dalam mencocokan vaksin yang tepat. Menurut Chuan Loo Wong dkk (2020) selain RT-PCR dan RT-LAMP, terdapat test diagnosa lain yang dirancang khusus untuk mendiagnosa di lapangan berbasis test strip imunokromatografi (lateral flow immunochromatographic / LFI). Test strip LFI ini dapat menjadi test identifikasi serotipe virus PMK cepat yang dirancang khusus untuk mendiagnosa di tempat perawatan hewan sakit di peternakan. Test strip LFI ini juga dapat digunakan untuk menyaring sampel dari lapangan dengan cepat sebelum dilanjutkan test konfirmasi akhir di laboratorium. 

Test strip LFI memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan metode diagnostik lainnya, proses kerjanya tidak memerlukan bantuan perangkat tambahan sehingga menurunkan biaya per pengujian. Selain itu, test diagnostik di tempat hewan sakit ini dapat dengan mudah dilakukan oleh personel yang tidak terlatih termasuk peternak, dan hasilnya dapat diperoleh dalam beberapa menit.

Skrining rutin dengan perangkat uji strip ini telah diketahui sebagai perangkat mendiagnosa yang cepat dan ekonomis untuk menentukan kajadian infeksi virus di negara-negara di mana tingkat kemunculan virus PMK tinggi dengan sumber daya yang terbatas. Kebijakan penggunaan uji strip ini perlu dipertimbangkan dan ditetapkan oleh pejabat otoritas veteriner nasional.

Prinsip kerja test strip LFI 

Test strip LFI ini telah banyak digunakan untuk mendiagnosa penyakit menular dan deteksi molekul bioaktif. Tanpa memerlukan instrumen khusus, test strip LFI merupakan metode diagnostik berbiaya rendah, yang mudah dilakukan, memberikan hasil langsung dalam waktu yang sangat singkat sekitar 20 menit. Menurut Bok Kyung Ku dkk (2017) test strip LFI untuk PMK mempunyai sensitivitas tinggi (103 – 104 TCID50) dengan akurasi yang tinggi (RT-PCR, Ag ELISA).

Pada dasarnya, metode ini merupakan perangkat diagnostik untuk mengonfirmasi ada atau tidak adanya agen target, seperti antibodi virus PMK. Prinsipnya, menggunakan uji imunokromatografi. Test strip LFI untuk PMK ini merupakan perangkat analisis cepat berbasis kertas membran nitroselulose yang ditempeli antigen PMK untuk mendeteksi antibodi yang berasal dari sampel serum ternak. Pada kertas membran nitroselulose juga ditempeli anti-bovine IgG sebagai kontrol. Hasil uji dilihat melalui lubang pengamatan setelah 10 – 20 menit penetesan sampel. Hasil dinyatakan positif apabila muncul perubahan warna dua garis dan hasil dinyatakan negatif bila muncul satu garis saja pada posisi kontrol. 

Setelah menjadi Rapid test Kit secara ringkas diterangkan bahwa Kit ini merupakan uji imunokromatografi dengan menggunakan metode colloidal gold immunoassay, untuk mendeteksi antibodi terhadap virus PMK dalam serum sapi dan kambing. Setelah meneteskan sampel, maka sampel akan bergerak bersama dengan antigen PMK berlabel emas koloid, jika ada antibodi PMK dalam sampel, akan bergabung dengan antigen ditunjukkan terdapat perubahan warna; jika tidak ada antibodi PMK, maka tidak ada reaksi warna. Perangkat mendiagnosa ini mirip sekali dengan test kehamilan strip.

Gambaran lain, test strip LFI terdiri dari membran yang dipasang pada kartu pendukung. Sampel serum atau darah yang mengandung agen yang dideteksi bergerak melalui membran selulosa dengan gaya kapiler dan ditangkap oleh molekul antigen yang terikat yang berinteraksi dengan agen di sepanjang membran. Partikel berwarna atau berfluoresensi yang terkonjugasi dengan antibodi berinteraksi secara spesifik dengan antigen target yang digunakan sebagai pelacak untuk pengembangan sinyal sehingga terjadi perubahan warna.

Test strip LFI untuk PMK yang tersedia secara komersial yang dilaporkan menunjukkan kinerja pengujian yang serupa dengan Ag-ELISA berbasis laboratorium ketika diterapkan di lapangan selama wabah PMK di Inggris tahun 2007. Dalam hal biaya operasional, penggunaan test strip LFI untuk PMK lebih menguntungkan dibandingkan dengan RT-PCR portabel. Test strip LFI untuk PMK ini merupakan tes di lapang yang sederhana dan murah karena tanpa perlu menyediakan persiapan sampel dan peralatan canggih. Test ini telah diaplikasikan dalam berbagai kondisi lapangan dimana skrening penyakit secara cepat diperlukan.

Kelebihan Test strip FLI untuk PMK

Kemampuan test strip LFI untuk PMK dapat memberikan hasil yang cepat dengan spesifisitas yang tinggi menjadikannya alat diagnosa bernilai tinggi. Alat ini telah digunakan secara intensif untuk deteksi dini PMK serotipe O, A dan Asia dan SAT di lapangan di Amerika Serikat. Test strip LFI untuk PMK juga telah digunakan di Belgia, Perancis, Korea, Jerman, dan Singapura. Test strip LFI untuk PMK memiliki keuntungan meliputi biaya rendah, diperoleh hasil cepat, interpretasi hasil mudah, tidak perlu peralatan khusus dan personel terlatih.

Test strip LFI untuk PMK memiliki keterbatasan yaitu tidak bisa memberikan hasil kualitatif atau semikualitatif. Meskipun demikian untuk menuju penerapan test strip LFI untuk PMK, kita perlu mempertimbangkan secara menyeluruh tentang kinerja pengujian, kecepatan, pembiayaan, kesederhanaan, dan ketahanannya.

Semoga Satgas Penanganan PMK dapat tetap mempertimbangkan perangkat diagnosa Test strip LFI untuk memantau perkembangan PMK di lapangan dengan cepat, mudah dan akurat untuk menuju Indonesia bebas PMK kembali.

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal