Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Universitas Jember Punya 3 Inovasi Pertanian, Salah Satunya Makanan Pengganti Beras

Bagikan
Kepala Staf Kepresidenan RI, Moeldoko saat memberi sambutan pada acara kuliah umum soal ketahanan pangan di Jember, Jawa Timur. (KSP)
Kepala Staf Kepresidenan RI, Moeldoko saat memberi sambutan pada acara kuliah umum soal ketahanan pangan di Jember, Jawa Timur. (KSP)

PanganNews.id Jember - Inovasi pertanian tiga doktor Universitas Jember (Unej) mendapat pujian dari Kepala Staf Kepresidenan RI Moeldoko.

Ia menyarankan kepada Unej agar menggandeng pihak swasta untuk memperluas manfaat inovasi tersebut. Pujian ini dilontarkan Moeldoko, dalam acara kuliah umum mengenai ketahanan pangan dan ketahanan energi di auditorium Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat 24 Maret 2023.

“Unej ini responsif. Temuan guru besar di Universitas Jember ini luar biasa,” katanya.

“Pertama, penemuan modified cassava flour (mocaf). Inovasi makanan pengganti beras yang diperoleh dari tepung singkong. Inovasi ini dimulai Profesor Achmad Subagio. Luar biasa,” kata Moeldoko, disambut tepuk tangan hadirin.

“Kedua, tebu varietas tahan kekeringan oleh guru besar Profesor Bambang Sugiarto. Hebatnya ini, dari rendemen 6,7 bisa menuju ke rendemen 9 sampai 15 persen. Ini pekerjaan tidak mudah. Apalagi bobotnya bisa mencapai 145 persen, 80-100 ton,” kata Moeldoko.

“Berikutnya ada kedelai Baluran. Inovasi Doktor Suyono, mampu menghasilkan sekitar 2,5-3,5 ton per hektare. Umur panennya hanya 80 hari dari biasanya 90 hari,” kata Moeldoko.

Menurut Moeldoko, budaya akademis yang telah dikembangkan Unej betul-betul menjawab persoalan pertanian. “Ini sejalan dengan yang diinginkan presiden. Presiden menginginkan masyarakat Indonesia menanam apa saja, karena kita menghadapi krisis pangan global,” katanya.

Moeldoko berharap semua inovasi di Unej bisa dikembangkan. “Satu kelemahan riset yang dikembangkan perguruan tinggi (hanya) sampai di riset, Mendevelopnya yang sulit. Temuan itu ada tindak lanjutnya, menuju sertifikasi melalui uji multilokasi yang tak mudah. Minimum ditanam di 12 tempat, dalam waktu, ruang, dan perlakuan yang sama,” katanya.

“Saran saya, kalau ini belum mendapatkan sertifikasi, maka (Unej) perlu bekerja sama dengan sektor swasta. Sektor swasta diajak bekerjasama untuk mendevelop itu. Tinggal hitung-hitungan bisnisnya bagaimana,” kata Moeldoko.

“Rektorat ini kan punya badan usaha. Tinggal matching saja. Sehingga ini nanti, riset-riset yang dilakukan tidak berhenti sampai di laci. Tapi betul-betul bisa dinikmati masyarakat petani Indonesia, sehingga riset itu punya daya pengungkit yang besar,” kata Moeldoko.

Penulis: Ajat Nicko
Editor: R Muttaqien

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal