Senin, 10 April 2023 19:45 WIB
PanganNews.id, Ciamis - Kisah inspiratif seorang petani muda asal Kabupaten Ciamis, Ujang Solehudin menjadi perhatian publik. Pasalnya, Ujang berhasil menjadi petani cabai di usia 21 tahun.
Dikutip dari idxchannel.com, Ujang berhasil membudidayakan cabai dengan kualitas supermarket. Ujang mengaku, cabai merupakan salah satu komoditas bahan pangan yang selamanya bakal dibutuhkan masyarakat, sehingga itu lah yang jadi salah satu alasan ia terjun dalam pertanian.
Diketahui, sebelum menekuni bidang pertanian, Ujang yang merupakan lulusan SMK pernah bekerja di salah satu perusahaan perorangan di Jawa Barat.
Berjalan kurang lebih satu bulan bekerja, Ujang berfikir jika menjadi seorang bos dalam suatu perusahaan, hidup akan berjalan menyenangkan, tenang, dan damai.
"Udah masuk sebulan lebih kerja, saya mulai mikir, saya yang kerja tiap hari gitu kan. Kok, atasan yang selalu dapet enaknya,” ucap Ujang, Senin 10 April 2023.
Setelah memikirkan hal tersebut, pada suatu waktu Ujang mendengar salah satu kalimat motivasi dari seorang narasumber yang mengatakan, “Jangan berharap jadi pekerja, tetapi berharaplah menjadi pemilik.”
Dari sana lah akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Ciamis.
“Nah, dari situ saya berpikir, oh iya yah dari pada memperkaya orang lain, lebih baik memperkaya diri sendiri kan,” ungkapnya.
Awalnya, setelah memutuskan untuk pulang ke kampungnya di Ciamis, Ujang sempat bingung hendak bekerja sebagai apa di kampung.
Namun pada 2019, berbekal uang hasil kerjanya selama dua bulan, Ujang memutuskan untuk mulai menekuni bidang pertanian dengan menanam 2.200 batang tanaman cabai.
Sambil menunggu masa dari penanaman sampai pemanenan cabe yang memakan waktu cukup lama, Ujang juga menanam sayuran jenis lain. Hal itu dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Seiring dengan perkembangan teknologi, bagi Ujang saat ini profesinya sebagai petani bukanlah sebuah pekerjaan yang kuno. Namun petani saat ini sudah berkembang lebih modern, praktis dan inovatif.
Saat ini populasi tanaman cabau milik Ujang sudah mencapai 20.000 batang tanaman. Proses penanaman cabai sampai panen diperkirakan menghabiskan waktu hingga tujuh bulan. Modal untuk menanam cabau berkisar di angka Rp5.000 sampai Rp7.000.
Ujang menargetkan produktivitas untuk satu tanaman bisa menghasilkan 1 kg cabai. Jadi apabila harga pasaran saat ini berkisar Rp20.000 per kg, maka berdasarkan jumlah tanaman yang dimilikinya, ia mampu menghasilkan omset hingga Rp400 Juta sekali panen.
“Jadi penghasilan kotor itu bisa sampai Rp400 jutaan, itu kotor. Tinggal dipotong modal cabai, populasi tanaman 20.000, modal Rp5.000, ya kalikan, berarti jadi Rp100 juta. Itu untuk modal sekali tanam. Jadi pendapatan bersihnya sekitar Rp300 jutaan lah, itu per tujuh bulan, jadi pendapatan saya sebulan itu di angka Rp42 juta,” jelas Ujang.
Di musim sekarang pertanian cabai Ujang memiliki lahan mencapai 1,5 hektare. Untuk pemasaran cabai hasil tanamnya, ia memasarkannya ke supermarket dan juga pasar tradisional sesuai kualitas dari masing-masing cabainya sendiri.
Bukan tanpa halangan, di tengah berjalannya budidaya cabe yang dijalani Ujang, ia pun pernah sempat tidak bisa membayar pekerjanya karena tanaman cabenya terkena serangan lalat buah.
Tetapi hal itu tidak membuatnya patah semangat, sampai akhirnya ia menanam kembali cabe yang berbeda jenis dari yang sebelumnya ditanam dan akhirnya percobaannya setelah sekian kali membuahkan hasil hingga bisa bertahan sampai sekarang.
Kunci sukses Ujang dalam menjalani usaha adalah senantiasa rajin menjalankan ibadah, menyayangi kedua orang tua, dan rajin memberikan sedikit rezeki kepada sesama.
Terakhir, Ujang menyampaikan pesan kepada generasi muda saat ini, untuk mengubah pola pikir dan bekerja keras, serta terus mengembangkan bakat dan mengasah kemampuan.
Demikianlah kisah inspiratif Ujang Solehudin, petani cabai milenial berkat kerja keras dan semangatnya.
Penulis: Egi Abdul Mughni
Editor: R Muttaqien
Rabu, 06 Mei 2026 17:24 WIB
Selasa, 05 Mei 2026 10:03 WIB
Senin, 04 Mei 2026 12:13 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...