PanganNews.id, Brasil - Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi menyebut penguatan stok pangan nasional menjadi keharusan untuk menghadapi tantangan dinamika dan persaingan pangan global.
Menurutnya, kondisi pasokan dan harga pangan yang fluktuatif di pasaran menjadi dua isu utama yang harus mampu dimitigasi secara berkelanjutan. Untuk itu, Arief mengatakan, sebagai negara besar dengan basis agroindustri, Brasil menjadi salah satu negara yang menarik untuk dipelajari, khususnya dalam proses bisnis dan manajemen stok pangan di negara tersebut dijalankan.
"Hal ini dapat menjadi benchmark bagi upaya penguatan ketahanan pangan Indonesia. Bagaimana mengatur stok pangan agar semua produk pangan utamanya yang memiliki umur simpan pendek dapat tersedia sepanjang waktu," kata Arief di kantor Enerfo dan mengunjungi retail modern di Sao Paulo, Brasil, Rabu 17 Mei 2023 dikutup dari badanpangan.com.
Brasil, kata Arief, dalam menjaga stok pangan nasionalnya adalah dengan peningkatan produksi pangan di dalam negeri. Maka dari itu, penguatan produksi dan industri pangan dalam negeri menjadi keniscayaan dalam rangka mengurangi ketergantungan impor.
"Kita harus secara paralel mulai mengurangi ketergantungan impor dengan meningkatkan produksi pangan di dalam negeri. Banyak hal yang dapat dipelajari seperti bagaimana Brasil berhasil mengelola produksi Tebu sampai dengan Raw Sugar." ujarnya.
Selain itu, langkah mempelajari dan membangun kerja sama dengan negara lain juga menjadi salah satu bentuk antisipasi menghadapi ancaman krisis pangan global.
"Jadi arahan Bapak Presiden agar krisis pangan jangan sampai terjadi. Beberapa komoditas pangan strategis memang masih dipenuhi dari luar dikarenakan produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan nasional," papar dia.
Oleh karenanya, selain meningkatkan produksi pangan dalam negeri, Indonesia juga harus membangun kerja sama dengan negara lain untuk menjaga kecukupan pangan.
Sementara, CEO Enerfo Grup Chandy Kusuma menyampaikan, pengembangan model komoditas yang terintegratif end to end dari hulu hingga hilir perlu dikembangkan.
"Pengembangan model usaha untuk komoditas tebu, kedelai dan jagung di Brasil dapat dijadikan model untuk diadaptasikan di Indonesia dengan menyesuaikan budaya dan kebiasaan yang ada. Upaya ini perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi produksi komoditas pertanian sehingga meningkatkan daya saing di dalam negeri," ujarnya. (egi)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.