Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Kisah Dua Petani Bojonegoro Raup Cuan Usai Terapkan Pertanian Organik

Bagikan
Rohim (kanan) dan Sholikin (kiri) menunjukkan obat daun bahan organik buatan sendiri. (suarabanyuurip.com)
Rohim (kanan) dan Sholikin (kiri) menunjukkan obat daun bahan organik buatan sendiri. (suarabanyuurip.com)

PanganNews.id, Bojonegoro- Kisah Zainur Rohim dan Muhammad Sholikin adalah contoh inspiratif tentang keberhasilan mereka dalam menerapkan pertanian organik.

Dua petani asal Bojonegoro  tersebut, mengalami peningkatan hasil panen dan mengurangi biaya produksi dengan menggunakan teknik pertanian organik.

Rohim menjelaskan bahwa dia belajar tentang pertanian organik karena adanya keluhan dari masyarakat terkait masalah pupuk mahal dan dosis yang tinggi dalam pertanian konvensional.

"Dan ia pun bergabung dalam jamaah pengajian yang diasuh oleh K.H. Ahmad Saifur Rohmah Dhimyati (Gus Sef), yang juga anggota jamaahnya adalah petani. Dalam lingkungan ini, mereka membahas masalah-masalah pertanian dan mendapatkan tugas khusus dari Gus Sef untuk menerapkan pertanian organik," Rohim melansir dari laman Suarabanyuurip.com, Kamis 25 Mei 2023.

Untuk teknik pertanian organik yang kita terapkan menggunakan bahan-bahan organik sepenuhnya, tanpa menggunakan bahan non-organik. Memanfaatkan sumber daya alam untuk mengurangi biaya produksi.

Misalnya, menggunakan mikroba untuk mengolah lahan, pestisida nabati untuk pengendalian hama, dan bahan-bahan alami untuk obat daun," jelas Rohim.

Dalam hal ini, Rohim mencatat bahwa biaya produksi menjadi lebih rendah daripada pertanian konvensional.

Rohim juga mengungkapkan bahwa dengan pertanian organik, tanaman padi yang ditanam tumbuh lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan dengan varietas yang sama dalam pertanian konvensional. Masa tanam padi juga lebih singkat.

Dia mencatat bahwa hasil panennya pada musim tanam pertama hanya selisih 50 kg dibandingkan dengan tetangganya, tetapi biaya produksi lebih kecil. Dengan demikian, kita berhasil memperoleh keuntungan yang signifikan.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Sholikin, yang menggunakan teknik organik untuk tanaman palawija, terutama jagung.

Ia mencatat bahwa dengan pertanian organik, hasil panen jagung meningkat menjadi 2,1 ton dari 3 kg bibit, sementara pertanian konvensional hanya mencapai maksimal 1,5 ton. Hal ini berdampak pada peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraan keluarga petani.

Keberhasilan Rohim dan Sholikin dalam menerapkan pertanian organik mendorong petani lain yang tergabung dalam jamaah pengajian di beberapa kecamatan untuk meminta mereka berdua untuk menularkan ilmu dan pengalaman tersebut. Lebih dari 20 petani telah menerapkan pertanian organik secara mandiri di berbagai kecamatan.

Perlu dicatat bahwa Rohim dan Sholikin tidak mencari keuntungan pribadi melalui penjualan bahan pertanian organik. Mereka hanya berkomitmen untuk menularkan ilmu dan pengalaman mereka dalam pertanian organik dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan para petani.

Kisah ini menunjukkan potensi dan manfaat yang dapat diperoleh melalui pertanian organik. Pertanian organik dapat mengurangi biaya produksi, meningkatkan hasil panen, dan secara keseluruhan. (Nicko)

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal