Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Sensus Pertanian Beri Dampak Positif buat Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Yogyakarta

Bagikan
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati melaporkan kegiatan sensus pertanian kepada Wagub DIY KGPAA Paku Alam X, Selasa (13/06) yang diterima di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. (Pemprov DIY)
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati melaporkan kegiatan sensus pertanian kepada Wagub DIY KGPAA Paku Alam X, Selasa (13/06) yang diterima di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. (Pemprov DIY)

PanganNews.id, Yogyakarta- Sensus pertanian yang sedang dilaksanakan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendapat sambutan baik dari Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X.

Menurut dia, pentingnya data pertanian untuk menentukan kebijakan yang berkaitan dengan pertanian dan pengembangan ekonomi di wilayah tersebut.

Wakil Gubernur DIY menganggap pertanian memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan inflasi di DIY.

Sebab itu, data yang akurat mengenai pertanian menjadi penting dalam menyusun strategi kebijakan.

Wakil Gubernur Sri Paduka juga menekankan pentingnya menjaga lahan pertanian yang terbatas di DIY dan menggali potensi pertanian berbasis inovasi, seperti pertanian hidroponik, untuk mengatasi keterbatasan lahan.

Oleh karena itu, data dari sensus pertanian ini menjadi penting dalam menyusun strategi kebijakan di bidang pertanian.

Masyarakat untuk mendukung sensus pertanian ini agar berjalan dengan lancar dan tepat waktu, karena sensus ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraan masyarakat," imbuhnya.

Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati melaporkan bahwa sensus pertanian telah berjalan selama 2 minggu dan berjalan dengan baik, meskipun hasilnya belum bisa dilihat. Pemantauan sensus pertanian juga telah dilakukan melalui dashboard yang berjalan dengan baik.

Herum menjelaskan bahwa sensus pertanian di DIY berlangsung selama 2 bulan, namun khusus untuk Kota Yogyakarta hanya diberikan waktu 1 bulan karena perbedaan lahan pertanian antara kota dan kabupaten.

Di Kota Yogyakarta, terdapat tradisi urban farming dan hanya tercatat sekitar 50 hektar lahan pertanian.

Metode yang digunakan untuk sensus pertanian di perkotaan adalah snowball, di mana petugas menanyakan informasi kepada aparat setempat seperti ketua RT dan tokoh masyarakat yang dapat memberikan informasi mengenai kegiatan pertanian.

Kemudian wawancara dilakukan kepada rumah tangga yang mengusahakan pertanian. Sedangkan di kabupaten, metode yang digunakan adalah door-to-door, di mana setiap petugas mendatangi rumah sesuai dengan wilayah kerja yang ditentukan," jelasnya.

Selain itu menurut dia, sensus pertanian ini juga mencakup urban farming dan akan menghasilkan data mengenai pola dan struktur pertanian di DIY. Data resmi yang dihasilkan dari sensus pertanian ini akan digunakan untuk kepentingan daerah dan sebagai bahan kebijakan dan evaluasi. Dalam hal ini, BPS memiliki peran penting dalam mengumpulkan dan menyajikan data tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Sugeng Purwanto, menyatakan bahwa data resmi dari sensus pertanian ini akan menjadi dasar yang legal untuk kebijakan di DIY. Data sektor yang sudah dimiliki DIY akan dikomunikasikan dengan BPS melalui mekanisme yang ditentukan untuk melengkapi dan menggabungkan data tersebut guna menindaklanjuti sektor pertanian di DIY.


Penulis: Ajat Nicko
Editor: R Muttaqien

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal