PanganNews.id, Lombok Timur- Puluhan hektare tanaman tembakau di wilayah Lombok Timur bagian selatan terdampak oleh hujan deras yang turun sejak akhir Juni.
Anomali cuaca ini menyebabkan daun tembakau menjadi layu.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lombok Timur, Mirza Sophian, menyatakan bahwa petani seharusnya sudah terbiasa dengan kondisi tersebut dan dapat mengatasi dampaknya.
Jika hujan tidak turun lagi, tanaman yang berusia dua bulan masih bisa diselamatkan dengan biaya tambahan.
"Laporan sementara menyebutkan bahwa tanaman tembakau yang terdampak berada di empat kecamatan di wilayah selatan, yaitu Jerowaru, Keruak, Sakra Barat, dan Sakra," kata Mirza.
Mirza pun menjelaskan, namun dirinya belum menerima laporan mengenai Sakra Timur.
Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dalam beberapa tahun terakhir membuat Dinas Pertanian melakukan sosialisasi mengenai cara mengurangi dampaknya kepada petani, seperti pembuatan saluran drainase yang baik di ladang.
Pihak Dinas Pertanian belum dapat memastikan berapa hektare lahan tembakau yang terdampak anomali cuaca tersebut. Jumlah pasti baru bisa diketahui setelah melakukan pendataan secara menyeluruh.
"Petani yang tanaman tembakau mereka terdampak menyatakan kerugian besar, yang bisa mencapai dua kali lipat dari modal awal," jelas Mirza.
Di media sosial juga beredar video mengenai kondisi lahan tembakau yang kekeringan di Desa Landah, Kecamatan Praya Timur. Namun, Dinas Pertanian dan Perternakan Loteng membantah kebenaran video tersebut, mengatakan bahwa video tersebut adalah video lama.
"Ketika turun lapangan, kondisi tanaman tembakau terlihat mulai layu, sehingga petani berharap adanya hujan. Petani juga membutuhkan bantuan pupuk, karena tembakau tidak mendapatkan pupuk bersubsidi sesuai peraturan mentan terbaru," ujarnya.
Masih kata Mirza, pemerintah Kabupaten Loteng memberikan bantuan pupuk non-subsidi sebanyak 334 ton secara gratis melalui APBD. Pupuk tersebut dibagikan berdasarkan luas tanam dan kelompok tani.
Total luas tanam lahan tembakau di Loteng sekitar 9.500 hektare yang terbesar di tujuh kecamatan, yaitu Kopang, Janapria, Praya Timur, Praya Barat, Pujut, Praya, dan Praya Tengah.
"Dinas Pertanian menggunakan dana dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau untuk membeli pupuk dan membantu petani tembakau. Pembagian pupuk dilakukan sesuai dengan luas tanam dan kelompok tani, karena anggaran bantuan terbatas dan diperuntukkan bagi petani yang sudah masuk kelompok tani," tutup dia.
Penulis: Ajat Nicko
Editor: Ryan Muttaqien


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.