PanganNews.id, Boyolali- Penyandang disabilitas di kaki Gunung Merapi berhasil manfaatkan kemampuan dalam budidaya dan pengolahan limbah
Desa Keposong, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali menjadi saksi inspiratifnya semangat para disabilitas yang tak terhenti oleh keterbatasan fisik.
Mereka telah berhasil meraih kemandirian melalui budidaya tanaman sayuran, peternakan, hingga pengolahan limbah kotoran sapi yang menghasilkan biogas rumah tangga.
Pendamping disabilitas Kecamatan Tamansari, Hariono, menjelaskan bahwa para disabilitas ini telah mendapatkan pelatihan dari pendamping tingkat kecamatan serta program Corporate Social Responsibility (CSR) dari Pertamina Patra Niaga Terminal Boyolali. Mereka kemudian menerapkan praktik penanaman budidaya sayuran secara kelompok.
"Sebelumnya mereka mendapat pelatihan bagaimana cara menanam sayuran. Setelah itu mempraktikkannya. Budidaya ini mendapat pendampingan dari CSR Pertamina Patra Niaga Terminal Boyolali,” ujar Hariono, Jumat 22 September 2023.
Di tempat ini, pengolahan pertanian dan peternakan dilakukan secara menyeluruh. Sisa tanaman digunakan untuk pakan ternak, sedangkan kotoran ternak diolah menjadi pupuk tanaman.
“Semua yang kami kelola di sini dapat dimanfaatkan. Sebagai contoh, sisa sayuran kami manfaatkan untuk ternak, kotoran ternak juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, bahkan kotoran sapi pun dapat diolah menjadi biogas,” jelas Hariono.
Selain budidaya tanaman sayuran secara hidroponik, para disabilitas juga diberikan pelatihan untuk menanam tanaman buah-buahan.
“Ditanam di sini ada sawi dengan hidroponik, sedangkan tanaman jenis buah-buahan pakai tanah. Di sini sebagai tempat pelatihan saja, nantinya mereka dapat mengembangkannya di pekarangan rumah masing-masing,” terang Hariono.
Tidak hanya dalam budidaya tanaman, para disabilitas juga berperan dalam pengolahan limbah kotoran sapi menjadi biogas. Mereka dengan tekun datang setiap hari untuk merawat tanaman dan mengelola limbah tersebut.
Hasil dari budidaya sayuran ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga kelompok, dan sisanya dijual untuk mendukung kelompok tersebut.
“Kalau dikonsumsi semua hasil sayuran ini jelas sisa karena kelompok disabilitas di Kecamatan Tamansari ini hanya 14 orang. Jadi nanti sisanya dijual, hasilnya untuk kesejahteraan kelompok itu,” tambah Hariono.
Salah satu anggota kelompok disabilitas, Suyadi, mengungkapkan kebahagiaannya dapat bergabung dalam kelompok ini. Baginya, ini bukan hanya pelajaran, tetapi juga peluang untuk mengurangi pengeluaran keluarganya.
“Tentunya banyak ilmu yang didapat dari tempat ini. Kalau kita menanam sayuran ini juga dapat mengurangi belanja sayuran setiap harinya, bahkan kita malah bisa menjualnya nanti,” ucapnya.
Dengan adanya tempat pelatihan budidaya sayuran dan pengolahan limbah kotoran sapi ini, Suyadi merasa bersyukur. Pasalnya, selama ini mereka hanya bergantung pada turunnya hujan untuk berkebun.
“Bertanam di ladang atau kebun selama ini hanya mengandalkan air hujan karena tanahnya kering dan tidak bisa ditanami. Setelah mendapatkan ilmu dari tempat ini, Insyaa Allah nanti saya kembangkan di pekarangan rumah,” ungkapnya.
Area Manager Communication, Relations dan CSR Regional Jawa Bagian Tengah Pertamina Patra Niaga Boyolali, Brasto Galih Nugroho, menyatakan bahwa wisata edukasi pertanian dan peternakan inklusi ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui program berkelanjutan.
“Ini merupakan satu-satunya program yang ada di Kabupaten Boyolali. Sementara di kecamatan ini merupakan peningkatan kesejahteraan ekonomi para disabilitas,” katanya.
Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah memberikan bantuan berupa pemanenan air hujan (PAH), biogas yang dikonversikan untuk listrik, peternakan ayam, peternakan kambing, rumah kaca hidroponik, peralatan tanaman, serta bibit tanaman buah.
“Kami berharap adanya wisata edukasi pertanian dan kelompok peternakan inklusi ini dapat meningkatkan perekonomian dan sumber daya bagi kelompok Pandawa Patra Desa Keposong,” tambah Brasto Galih Nugroho.
Bupati Boyolali, Muhammad Said Hidayat, merespons baik terkait adanya wisata edukasi pertanian dan kelompok peternakan inklusi ini.
“Aksi nyata berkelanjutan ini perlu diapresiasi. Sampai saat ini, mereka mempunyai program pendidikan, kesehatan, pemberdayaan kelompok penyandang disabilitas serta UMKM,” jelasnya.
Pengentasan kemiskinan bagi kelompok marginal memerlukan kolaborasi antara pemerintah dan berbagai pihak, termasuk dunia bisnis.
“Tentu harus ada aktor dari dunia bisnis. Mari kita sama-sama mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Boyolali ini. Semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat bagi kelompok Pandawa Patra,” pungkas Bupati.
Penulis: Ajat Nicko
Editor: R Muttaqien


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.