Masuki Musim Panen, Petani Millenial Buktikan Pertanian Ramah Lingkungan Mampu Tingkatkan Produktivitas

Pangannews.id

Sabtu, 02 Maret 2024 09:23 WIB

news
Masuki Musim Panen, Petani Millenial Buktikan Pertanian Ramah Lingkungan Mampu Tingkatkan Produktivitas. (Foto: Dok. Kementan)

PanganNews.id Kediri - Kabupaten Kediri merupakan salah satu wilayah penghasil beras di Jawa Timur. Bagaimana tidak, tanah yang subur membuat hasil produk pertanian Kabupaten Kediri tak hanya untuk mencukupi kebutuhan lokal. Melainkan juga jadi penopang lumbung pangan Jawa Timur (Jatim) hingga nasional.

Salah satu produsen beras di Kediri adalah Kelompok Tani "Tani Makmur Tosaren" yang mengembangkan varietas Sertani 13A dengan umur tanaman sekitar 100 hari. Hasil ubinan Kelompok Tani Makmur Tosaren mampu mencapai 4,94 kg setara 7,9 ton per hektar. Dari hasil ubinan tersebut dapat dikatakan bahwa produktivitas padi di Kota Kediri tersebut masuk dalam kategori bagus.

“Hasil itu masih dapat ditingkatkan, kami mengejar potensi beras sehat, bukan kuantitasnya,” ujar Ketua Kelompok Tani Makmur Tosaren, Yohan Pramuda Arifianto yang juga Ketua KTNA Kota Kediri Lokasi Kel.Tosaren Kec.Pesantren Kota Kediri ketika ditemui disela-sela panen Kamis lalu (28/02/2024).

Terkait penggunaan pupuk, Agus Fatony Tohari selaku penyuluh yang mendampingi Yohan mengatakan bahwa rata-rata petani di Kediri telah memanfaatkan pupuk kalium humat serta pupuk organik. 

“Kami berupaya untuk menjaga kualitas tanah dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan seperti pupuk. Selain memproduksi panen kita juga terus berupaya memperbaiki tanah", ujarnya Fatony.

Fatoni menambahkan bahwa makanan yang sehat berasal dari budidaya yang sehat. Selanjutnya mendukung pola hidup sehat bagi kita dan generasi selanjutnya. 

“Untuk itu saya memberi keyakinan kepada petani bahwa membudidayakan tanaman yang ramah lingkungan tanpa bahan kimia bisa diterapkan,” tambahnya. 

Hasilnya menurut Fatony, sangat memuaskan, seperti diterapkan Yohan. Rata-rata pH tanah mengalami kenaikan dari sebelumnya. Jika semula pH 4 – 5, kini menjadi pH 5,5 – 6, kandungan bahan organik didalam tanah juga meningkat, penggunaan pupuk dan pestisida kimia sangat minim, serta hasil panen rata-rata menunjukkan peningkatan antara 10-20 persen.

Tak hanya pupuk, Yohan juga menggunakan asap cair serta bahan formulasi dari limbah rumah tangga. Bahan-bahan tersebut menjadi andalan millenial kelahiran tahun 1981 ini untuk meningkatkan hasil produksi dan penanganan hama penyakit.

Sebagai millenial, Yohan beserta anggota kelompoknya memanfaatkan penggunaan mekanisasi pertanian, seperti rice transplanter di awal tanam dan combine harvester di waktu panen. Dengan demikian, sangat mempengaruhi efisiensi biaya dan efektivitas waktu serta tenaga kerja yang digunakan. 

“Kami yakin dengan memanfaatkan alat dan mekanisasi pertanian, bibit dan pupuk dengan kualitas baik maka akan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi kita. Dan kami selalu mengajak rekan-rekan petani untuk menghasilkan beras terbaik agar kualitas pangan yang tersaji di meja makan pun terjaga”, tutupnya.

Hal ini tentunya sejalan dengan program-program Kementerian Pertanian (Kementan) dalam peningkatkan produksi dan produktivitas di sektor pertanian seperti smart farming dan pertanian ramah lingkungan. (*/Adv)


Kolom Komentar

You must login to comment...