Ayoo Mulih Rek; Fenomena Mudik Lebaran

Pangannews.id

Senin, 01 April 2024 08:17 WIB

news
Fenomena Mudik Lebaran. (Foto: Dok. M. Chairul Arifin)

PanganNews.id Depok, - Oleh M. Chairul Arifin

Setiap pulang kerja bertugas dari Kantor Pusat Kementrian Pertanian pada bulan Ramadhan khususnya menjelang selesainya ibadah puasa pada minggu ke empat saya merasakan lalulintas jalanan telah mulai menyusut dan sepi. Jakarta,dan sekitarnya (Jabodetabek) kehilangan hampir separuh penduduknya ditinggal mudik. Berarti pula banyak penduduk adalah perantau yang berasal.dari berbagai daerah di Indonesia. Aroma dan atmosfer lebaran telah menggelayuti masyarakat, seiring pula dengan menyusutnya jumlah saf sholat jamaah tarawih di mesjid'.

Berita- berita di berbagai media memang banyak mewartakan betapa banyak orang mudik pada tahun ini, yang oleh Kementrian Perhubungan diprediksi lebih dari 193,6 juta orang bakal memenuhi pergerakan berbagai moda transportasi darat, laut dan udara. Jumlah ini meningkat dari 128,3 juta orang tahun yang lalu. Arus mudik diperkirakan terjadi pada 5-8 April dan arus balik. 13-16 April tahun ini.

Arus Mudik

Sedemikian banyaknya orang bergerak yang lebih dari separuh penduduk Indonesia akan memenuhi jalan tol, arteri dan jalan pedesaan sehingga polisi terpaksa melakukan rekayasa lalulintas demi lancarnya arus mudik maupun arus balik. 

Diberitakan telah ludesnya tiket kereta api jarak jauh jauh hari sebelum lebaran tiba. Program mudik gratis banyak diadakan oleh berbagai instansi pemerintah dan swasta hanya untuk membantu orang dapat mudik ber lebaran di kampung halamannya.. Demikian juga moda angkutan laut dan udara yang masing-masing pada menambah extra angkutan. Angkutan laut dengan mengerahkan kapal perang dan angkutan udara dengan menambab extra penerbangan. 

Tidak diketahui secara pasti berapa uang beredar waktu itu termasuk tambahan pangan yang diperlukan dan remitansi uang yang mengalir dari masyarakat pada mudik ke kampung halamannya, sambil bercerita suka duka nya keberhasilannya hidup di rantau. 

Budaya mudik

Fenomena mudik ini tidak saja melanda Indonesia, kalau orang Jawa dengan mudik tetapi otang Madura dengan budaya toron yang berarti turun ke kapal dulu menuju daratan Madura sebelum jembatan Suramadu dibuat,.Di Sumatera.Barat orang Minang mengenal dengan pulang basamo . Orang Batak dengan tulak tu bona pasogit dan orang Bugis dengan mengatakan talisuna Orang Banjar kadang menyebut tulak labuh dan orang Sunda dengan balik ka lembur dan orang Bima NTB dengan 1

Di. banyak negara lainnya di Asia, di. Pakistan, India dan Bangladesh sudah sering nampak masyarakat yang berjubel di jalur angkutan kereta api dan bus sampai di atap dan pintu dan bahkan rela berdiri di dekat lokomotif yang panas. Di China, Korea, Jepang, dan Singapura fenomena orang mudik itu terjadi waktu liburan merayakan tahun baru lunar yang.biasanya jatuh di bulan Pebruari, musim dingin di belahan bumi utara. Tak jarang kita melihat betapa orang China rela menembus badai salju yang menerpa negeri nya. 

Masyarakat agraris dan memori masa kecil

Budaya orang Asia termasuk Indonesia terbentuk dari budaya agraris khususnya budaya padi. Rice eater culture mengakibatkano orang selalu teringat kepada lahan dan kampung halamannya. Mereka dulunya adalah anak' petani generasi lama (prae boomers dan baby boomers lama) yang telah bermetamorfosis menjadi berbagai profesi sebagai pegawai negeri, guru dan pegawai swasta, menjadi dokter, insinyur wartawan dan prajurit serta aneka pekerja lainnya. Tidak aneh misalnya seorang pejabat tinggi jadi buah bibir masyarakat bahwa dirinya berasal dari anak seorang petani..

Keterikatan kepada tanah leluhur ditunjukkan pula oleh permintaannya kalau sudah wafat kelak untuk dimakamkan di kampung halaman yang menjadi tanah leluhurnya pada orang tertentu. Jadi dimana berawal disitu pula dia ingin berakhir.

Memori masa kecil dulu, bermain bersama sekarang sudah sama dewasa membekas pada pemudik walaupun ada tehnologi WA, Zoom, Instagram, dan Twitter tetap saja orang mudik. Tetapi akhirnya hidup entah ci rantau atau di kampung halaman itu sama rejeki dan suka dukanya yang penting sama bahagia. Kata pepatah Minang Dimana bumi dipijak, di situ langit di junjung bermakna dimana pun kita berada disitu pula kita akan memperoleh rejeki dan kebahagiaan dari Allah SWT. 

Ngabuburit ramadhan 1445 H

M. Chairul Arifin


Kolom Komentar

You must login to comment...