Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Paradok Mudik Lebaran

Bagikan
Foto: berkumpul bersama keluarga. (Dok. M. Chairul Arifin)
Foto: berkumpul bersama keluarga. (Dok. M. Chairul Arifin)

PanganNews.id Depok, - Oleh M. Chairul Arifin Purnabakti Kementrian Pertanian, Alumni Unair

Di tahun 1970-an ketika saya menimba ilmu di Fakultas Kedokteran Hewan Unair, saya sempat dan sangat menikmati perjalanan mudik ke Bondowoso dari Surabaya. Bus dari Terminal Purbaya waktu itu menaiki bis Akas yang mengarah ke jurusan timur nampak sepi walaupun aktivitas sedikit meningkat selalu ada tempat duduk. Sesekali di tahun antara 1970-1980 saya juga ikut toron ke pulau Madura yang sejatinya kampung halaman saya di kota Pamekasan jauh sebelum jembatan Suramadu dibuat. Kalau aktivitas toron meningkat luar biasa karena perantau Madura memang banyak di seantero pelosok negeri . Mereka pada ingin.mudik juga ke kampung halaman pulau Madura.

Tetapi yang ingin saya ceritakan sekarang adalah mulai berubahnya peta orang mudik . Semenjak saya lulus Dokter Hewan, saya sudah ditempatkan di Jakarta selama 26 tahun sampai pensiun di tahun 2006..Jadi saya sampai sekarang sudah tinggal di kota Depok, dekat Jakarta lebih dari 45 tahun. Apa yang terjadi selam kurun waktu tersebut.? 

Ternyata, berubah rupa kota-kota besar Indonesia dalam arti kata orang yang hampir seusia saya yang masih hidup sudah menjadi orang tua beranak cucu dan semua anak cucu tinggal dj Jabodetabek atau kota lainnya di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri. Keadaan ini telah menjungkir balikkan peta mudik saat ini. 

Menjadi orang tua baru

Tetapi budaya dan pola mudik tetap sama yaitu mengunjungi orang tua atau orang yang dituakan dalam suatu keluarga besar. Akhirnya Orang tua kita dulu telah tiada, lama menitnggalkan kita. Akibatnya dulu, kita yang pernah sama muda di kampung sering berkunjung beranjang sana mudik untuk silaturrahim dalam rangka Idul Fitri ke kota kecil tempat orang tua atau orang yang dituakan kami, sekarang berubah. Mereka yang dulunya pernah sama muda (sekarang tinggal di berbagai kota karena alasan pekerjaan) berubah haluan untuk mencari orang tua baru/dituakan yang kebetulan saya sendiri. Saya sendiri sudah berusia 75 tahun sehingga secara tak sadar saya dianggap sebagai pengganti orang tua yang telah lama wafat. 

Mereka saling janjian untuk lebaran tahun ini dipusatkan di kota tertentu kalau masih ada saudara yang dituakan. Lalu lintas pemudik pergerakannya menjadi dari arah ke timur ke barat, ke selatan dan utara dan dari kanan ke kiri. Dari semua arah. Demikian juga arus balik. Hanya saja belum di hitung dan di analisa dari arah tujuan masing individu selama mudik lebaran.

Orang selalu disuguhi dengan berita arus mudik dari kota besar seperti Jakarta kearah kota lainnya di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Padahal kalau di tanya kepada para pemudik pergerakan nya mereka pasti akan menjawab menuju "orang tua" atau yang dituakan di kota tertentu. Indikatornya arus kendaraan yang menuju pulau Sumatera yang antri membludak dari Merak, menunjukkan juga bahwa orang tua dan atau dituakan itu telah berada di pulau Sumatera. Pulang basamo misalnya menjadi contoh arus untuk tetap mencari orang tua baru. 

Paradok

Menurut Survei Potensi Pergerakan Angkutan Lebaran 2024 Kementrian Perhubungan sebanyak 28,43 juta orang bakal bergerak keluar dari Jabodetabek selama lebaran 2024. Pada saat yang sama ada orang tak mudik dan tinggal di Jakarta. Bahkan 64.000 orang menuju Jakarta selama libur lebaran. Orang yang tak mudik dan tinggal di Jakarta inilah sebagian di antara nya adalah orang tua baru/dituakan yang selama ini dicari dan hendak dikunjungi oleh para keluarga besar masing-masing. 

Sehingga terjadi secara diam diam paradok arus mudik lebaran dari yang semula dari kota kota besar berganti arus balik menuju kota besar tempat teman muda dulu yang sekarang telah. menjadi orang tua baru. 

Pada keluarga besar saya malah diputuskan pertemuan silaturrahim lebaran pada setiap tahunnya bergantian disetiap kota besar yang mudah di jangkau akses transportasi dan akomodasi bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan. Generasi berikutnya ada kalanya sudah saling kenal dan tidak saling kenal. Orang tua baru tersebut lantas membacakan riwayat asal usul keluarga besar hingga saat ini. 

Pola Reunian

Di Reuni alumni SMP/SMA saya yang sejatinya, di kota Pamekasan Madura, malah tempat reuni yang dikaitkan juga dengan acara halal bil halal diputuskan ditempat bergantian jauh dari kota asal sekolah dulu. Pernah di Malang, Surabaya, Jogja, Bandung dan Jakarta hanya untuk merasakan atmosfer yang berbeda. 

Akhirnya seperti kita tahu dewasa ini hasrat berburu silaturrahim di musim lebaran ditunjukkan pula oleh berbagai pertemuan Halal bi Hal (HBH) orang se perantau an di kota-kota besar seperti HBH keluarga asal Madura se Jabotabek atau HBH keluarga marga tertentu di Jakarta karena masing-masing sudah tidak memiliki kampung halaman dan orang tua. Kampung halaman pinjam kampung halaman orang lain yang sudah jadi kampung halaman baru. 

Tetapi baik paradok mudik lebaran dan pertemuan reuni atau HBH bagi semua pihak itu menunjukkan sifat karakter budaya orang yang selalu ingin berkumpul bersama. Kata Aristoteles manusia itu mahluk yang zoon politicon ",hewan" yang selalu ingin berkumpulberkumpul dan ber interaksi. 

Depok, Akhir Ramadhan 1445 H

M.Chaiful Arifin

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal