PanganNews.id, Jakarta - Budidaya apel kian berkembang di Indonesia. Buah apel dipercaya pertama kali ditanam di kawasan Asia tengah.
Kini, apel telah berkembang di banyak daerah di dunia yang bersuhu udaranya lebih dingin.
Apel merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah asaia barat dengan iklim subtropis.
Indonesia sendiri dipercaya mulau menanam apel sejak 1934 hingga saat sekarang ini.
Memang, budidaya apel membutuhkan perhatian khusus terhadap iklim, jenis tanah dan cara perawatan yang tepat.
Selain itu, pembudidaya apel juga harus mengenal hama yang biasanya menyerang tanaman apel. Jika tidak, bukannya untung, malah kerugian yang didapat pelaku budidaya apel.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini hama yang dapat menyerang tanaman apel dan cara mengatasi nya
1. Kutu hijau (Aphis pomi Geer)
Ciri : Kutu dewasa berwarna hijau kekuningan, Antena pendek, Panjang tubuh 1,8 mm, Ada yang bersayap dan ada pula tidak bersayap. Panjng sayap 1,7 mm, Berwarna hitam dan perkembangbiakan sangat cepat, telur dapat menetas dalam 3-4 hari.
Gejala :
1. Nimfa maupun kutu dewasa menyerang dengan menghisap cairan Sel-sel, Daun secara berkelompok di permukaan daun muda, terutama di ujung tunas muda, Tangkai cabang, bunga, dan buah,
2. Kutu menghasilkan embun madu yng akan melapisi permukaan daun dan merangsang tumbuhnya jamur hitam (Embun jelaga) Dan daun berubah bentuk Mengkerut, Leriting, Terlambat berbunga, Buah-buah muda gugur, Jika tidak mutu buahpun terlihat jelek.
Pengendalian
1. Sanitasi kebun dan pengaturan jarak tanam jangan terlalu rapat.
2. Dengan musuh alami coccinellidae lycosa.
3. Dengan penyemprotan Supracide 40 EC (Ba Metidation) Dosis 2 cc/liter air atau 1-1,6 liter.
4. Supracide 40 EC dalam 500-800 liter/ha air dengn interval penyemprotan 2 minggu sekali.
5. Convidor 200 SL (b.a. Imidakloprid) Dosis 0,125-0,250 cc/liter air.
6. Convidor 200 SL dalam 600 liter/h air dengan interval penyemprotan 10 hari sekali.
7. Convidor tersebut dapat mematikan sampai Telur-telurnya, Cara penyemprotan dari atas ke bawah. Dan penyemprotan di lakukan 1-2 minggu sebelum pembungaan dan di lanjutkan 1-1,5 bulan setelah bunga mekar sampai 15 hari sebelum Panen.
2. Tungau, Spinder mite, Cambuk merah, (panonychus Ulmi)
Ciri : Warna merah tua, Panjang 0,6 mm.
Gejala :
1. Tungau menyerang daun dengan menghisap cairan Sel sel daun.
2. Pada serangan hebat menimbulkan bercak kuning buram, cokelat, Dan mengering.
3. Pada buah yang menyebabkan bercak Keperak-perakan atau cokelat.
Pengendalian :
1. Dengan musah alami coccinellidae dan lycosa.
2. Penyemprotan Akarisida Omite 570 EC sebanyak 2 cc/liter air atau 1 liter Akarisida Omite 570 EC dalam 500 liter air/hektar dengan interval 2 minggu.
3. Trips
Ciri : Berukuran kecil dengan panjang 1 mm, nimfa berwarna putih Kekuning-kuningan , Dewasa berwarna cokelat kehitam-hitaman, Bergerak dengan cepat dan apabila di sentuh akan segera terbang menghindar.
Gejala :
1. Menjerang daun, kuncup/tunas, dan buah yang masih sangat muda.
2. Pada daun terlihat Berbintik-bintik putih, kedua sisi daun menggulung keatas dan pertumbuhan tidak normal.
3. Pada ujung daun tunas mengering dan gugur.
4. Pada daun meninggalkan bekas luka yang berwarna cokelat keabu-abuan.
Pengendalian :
1. Secara mekanis dengan membuang Telur-telur pada daun dan menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidak terlalu rapat.
2. Penyemprotan dengan intektisida seperti lannate 25 WP (b.a. Methomyl) dengan dosis 2 cc/liter air atau Lebaycid 550 EC (b.a. Fention) dengan dosis 2 cc/liter air pada saat tanaman sedang bertunas, Berbunga, Dan pembentukan buah.
4. Ulat Daun (Spodopteralitura)
Ciri : Larva berwarna hijau dengan Garis-garis Abu-abu memanjang dari abdomen sampai kepala. Pada lateral larva terdapat bercak hitam yang berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran. Meletakkan telur secara berkelompok dan di tutupi dengan rambut halus yang berwarna cokelat muda.
Gejala : Menyerang daun, Mengakibatkan Lubang-lubang tidak teratur hingga Tulang-tulang daun.
Pengendalian :
1. Secara mekanis dengan membuang Telur-telur pada daun
2. Penyemprotan dengan penyemprotan seperti Tamaron 200 LC (b.a. Metamidofos) Dan Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos).
5. Serangga Penghisap Daun (Helopelthis Sp)
Ciri : Helopelthis theivora dengan abdomen warna hitam dan merah, sedangkan helopelthis Antoni dengan abdomen warna merah dan putih, Serangga berukuran kecil,panjang nimfa yang baru menetes 1 mmdan panjang serangga dewasa 6-8 mm. Pada bagian thoraknya terdapat benjolan yang menyerupai jarum.
Gejala : Menyerang pada pagi hari, Sore atau pada saat keadaan berawan. Menyerang daun muda, tunas dan buah buah dengan cara menghisap cairan sel, Daun yang terserang menjadi coklat dan perkembanganya tidak simetris, Tunas yang terserang menjadi coklat, Mengering dan akhirnya mati juga, Serangan pada buah menyebabkan buah menjadi bercak bercak coklat, nekrose, dan apabila buah membesar, Bagian bercak bercak ini pecah, yang menyebabkan kualitas buah menurun.
Pengendalian :
1. Secara mekanis dengan cara pengerondongan atap plastik/pembelonsongan buah.
2. Penyemprotan dengan insektisida seperti : Lannate 25 WP (b.a. Metomyl), Baycarb 500 EC (b.a. BPMC) Yang di lakukan pada sore hari atau pagi hari.
6. Ulat Daun Hitam (Dasychira Inclusa Walker)
Ciri : Larva mempunyai 2 jambul dekat kepala berwarna hitam yang mengarah kerah samping kepala, Dan pada bagian badan terdapat 4 jambul yang merupakan kumpulan serta berwarna coklat Kehitam-hitaman. Di sepanjang 2 sisi tubuh terdapat rambut yang berwarna Abu-abu dan panjang larva 50 mm.
Gejala : Menyerang daun muda dan yang tua, Dan tanaman yang terserang tinggal tulang Daun daunya dengan kerusakan 30%. Dan pada siang hari larva bersembunyi di balik daun.
Pengendalian :
1. Secara mekanis dengan membuang telur telur yang biasanya di letakkan pada daun.
2. Penyemprotan insektisida Seperti : Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos) Dan matador 25 EC.
7. Lalat Buah (Rhagloletis Pomonella)
Ciri : Larva tidak berkaki, Setelah menetas dari telur 10 hari kemudian dapat segera memakan daging buah,Warna lalat hitam, Dan kaki Kekuning-kuningan lalu meletakkan telur pada buah,
Gejala : Bentuk buah menjadi jelek dan terlihat benjol-benjol.
Pengendalian :
1. Penyemprotan insektisida kontak seperti Lebacyd 550 EC.
2. Membuat perangkat lalat jantan dengan menggunakan Methyleugenol sebanyak 0,1 cc lalu di teteskan pada kapas yang sudah di tetesi Insektisida 2 cc.
Kapas tersebut di masukkan ke botol plastik (Bekas air mineral) Yang di gantungkan dengan ketinggian 2 meter,Karena aroma yang mirip Bau-bau yang di keluarkan sang betina, Maka si jantan tertarik dan menghisap kapas tersebut.


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.