Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Petani Bojonegoro Milih Berutang Demi Hadapi Mahalnya Harga Pupuk

Bagikan
Ilustrasi mahalnya harga pupuk dialami petani Bojonegoro. (ist)
Ilustrasi mahalnya harga pupuk dialami petani Bojonegoro. (ist)

PanganNews.id, Bojonegoro - Petani di berbagai wilayah menghadapi masalah pertanian, mulai dari masalah distribusi air hingga harga pupuk yang melambung tinggi.

Hal itu juga dialami para petani d Bojonegoro, Jawa Timur.

Bahkan, untuk menghadapi mahalnya harga pupuk, para petani lebih memilih untung berutang

’’Daerah sini dari tahun ke tahun masalahnya masih terkait air,” ujar petani asal Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, mengutip radarbojonegoro, akhir pekan lalu.

Menurut Lilik, daerahnya merupakan lahan tadah hujan, sedangkan cuaca saat ini sulit diprediksi. 

Jadi, sangat berdampak pada produktivitas dan keberhasilan tanaman pertanian.

 ’’Kalau pupuk alhamdulillah masih dapat subsidi, meski jumlahnya terbatas," kata dia.

Namun, kata dia, hal itu tidak mencukupi kebutuhan lahan sawahnya dengan luasan kurang dari 0,5 hektare. 

Sehingga, lanjut dia, tetap membeli pupuk nonsubsidi dengan harga lebih mahal. ’

’Biasanya utang. Nanti bayarnya kalau sudah panen,” ungkapnya.

Dia menambahkan, panen padi terakhir dilakukan Mei lalu. Dilanjutkan, tanam jagung dan diprediksi mulai panen sekitar satu bulan lagi. 

’’Panen padi Mei dan tidak tanam lagi karena sudah kekeringan,” ujarnya.

Eka Nugraha petani asal Desa Clebung, Kecamatan Bubulan menambahkan, rerata wilayahnya bertanam jagung dan padi hanya diproduksi untuk beras sebagai kebutuhan makan sehari-hari. 

Menurutnya, jika dirupiahkan petani desa setempat mengalami kerugian karena air tidak teratur. 

’’Kalau musim hujan saja sudah rugi. Mengandalkan air irigasi apalagi kalau kemarau susah,” ujar Eka. 

Ia melanjutkan, saat ini daerahnya tengah dilanda gagal panen jagung karena sejak Mei intensitas hujan sedikit. 

Untuk memperoleh pupuk subsidi, pihaknya harus mengajukan ke kelompok tani (poktan) masing-masing sesuai luas tanah garapan san surat pajak.

Sedangkan, rerata petani berhutang untuk mendapat pupuk nonsubsidi. Eka menambahkan, untuk harga pupuk subsidi sesuai kesepakatan poktan dan petani sekitar Rp 130 ribu per sak atau karung.

Lalu, pupuk nonsubsidi tergantung kualitas. Mulai dari Rp 300 ribu sampai Rp 800 ribu per 50 kilogram.

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal