Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Program Makan Bergizi Gratis Butuh 30 Ribu Ahli Gizi untuk Seluruh Provinsi

Bagikan
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana. (Foto: ANTARA/Mentari Dwi Gayati)
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana. (Foto: ANTARA/Mentari Dwi Gayati)

Pangannews.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan diluncurkan pada Januari 2025 memerlukan dukungan dari 30 ribu ahli gizi. Ahli gizi ini akan ditempatkan di berbagai satuan layanan BGN yang tersebar di seluruh Indonesia untuk memahami karakteristik dan kebutuhan gizi di setiap daerah.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki kondisi dan kebutuhan gizi yang berbeda, sehingga diperlukan pengetahuan mendalam tentang pola makan dan kebiasaan gizi setempat.

“Karakteristik setiap daerah berbeda, itu akan menjadi kewenangan ahli gizi di setiap daerah, minimal akan dibutuhkan 30 ribu ahli gizi untuk program ini,” ujar Dadan usai menghadiri Simposium Program Makan Bergizi Gratis di Jakarta pada Senin, (25/11/24).

Sebagai bagian dari program ini, BGN akan membentuk satuan layanan di 34 provinsi. Setiap satuan layanan tersebut akan diisi oleh tiga pegawai dari BGN pusat, terdiri dari satu pejabat pembuat komitmen (PPK), satu ahli gizi, dan satu ahli keuangan.

Dengan struktur ini, diharapkan program MBG dapat berjalan dengan efektif dan terkoordinasi di seluruh wilayah Indonesia.

Dadan menjelaskan bahwa target awal dari program MBG adalah 82,9 juta penerima manfaat yang diharapkan dapat diselesaikan paling lambat pada pertengahan 2025. Proyek ini akan dimulai pada 2 Januari 2025 dan akan dilakukan secara bertahap, dengan mencakup sekitar 930 titik dari Sabang hingga Merauke.

Setiap titik layanan akan menyediakan menu makanan bergizi seimbang yang disiapkan oleh ahli gizi setempat.

“Target 82,9 juta penerima manfaat insyaAllah selesai akhir tahun ini, paling telat pertengahan tahun depan,” jelas Dadan.

Ia menambahkan bahwa setiap provinsi akan memiliki satuan pelayanan dengan anggaran sekitar Rp8-11 miliar, tergantung pada kapasitas fiskal desa dan kebutuhan bahan yang bervariasi di masing-masing wilayah.

Kondisi Demografi dan Tantangan Gizi di Indonesia

Dadan membahas tantangan demografi di Indonesia, terutama terkait dengan keluarga miskin yang berpenghasilan di bawah Rp1 juta per bulan. Menurutnya, keluarga miskin ini kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang, apalagi dengan jumlah anggota keluarga yang rata-rata lebih besar dibandingkan keluarga kaya.

“Untuk memberi makan tiga anak, tidak mungkin bisa, kan. Untuk membiayai diri sendiri tidak cukup,” ujarnya.

Dadan juga memperingatkan bahwa jika masalah gizi ini tidak ditangani dengan serius, Indonesia berpotensi menghadapi bencana demografi di masa depan, mengingat jumlah keluarga miskin yang terus berkembang.

"Keluarga miskin rata-rata beranggotakan enam orang, dan mereka cenderung tumbuh lebih cepat dibandingkan keluarga kaya," katanya.

Program MBG juga diharapkan dapat memperkuat sistem pangan nasional dengan melibatkan sektor pertanian secara langsung. Menurut Dadan, 95 persen produk yang digunakan dalam program ini berasal dari petani lokal, sehingga investasi dalam program ini juga memberikan manfaat signifikan bagi sektor pertanian.

"Total target yang akan kita kejar itu 82,9 juta penerima manfaat, dengan dana investasi membutuhkan Rp400 miliar per tahun," ungkap Dadan.

Dengan demikian, selain mengatasi masalah gizi dan kesejahteraan masyarakat, program MBG diharapkan juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal