Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Siapkan Tenaga Kerja Terampil di Industri Pangan, Ini Strategi Kemenaker

Bagikan
Kemenaker siapkan strategi pengembangan tenaga kerja terampil di sektor industri pangan. (Foto : Human initiative)
Kemenaker siapkan strategi pengembangan tenaga kerja terampil di sektor industri pangan. (Foto : Human initiative)

Pangannews.id - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) melalui Direktur Bina Standarisasi Kompetensi dan Program Pelatihan, Moh. Amir Syarifuddin, memaparkan berbagai strategi pengembangan tenaga kerja terampil di sektor industri pangan.

Salah satu langkah utama adalah melalui platform SIAPKerja yang mendukung Program Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Amir menjelaskan bahwa Kemenaker telah menyediakan berbagai program pelatihan dan sertifikasi kompetensi yang dapat meningkatkan keterampilan tenaga kerja di sektor pertanian.

"Kami juga menyediakan platform terkait Balai Latihan Kerja (BLK) dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), serta memberikan informasi terkait lowongan pekerjaan di sektor pertanian," ungkapnya di Jakarta, Selasa (3/12/24).

Sebagai bagian dari upaya pengembangan, Kemenaker juga mengelola data terkait program pelatihan dan skema sertifikasi kompetensi dalam sektor pertanian. Data tersebut mencakup 30 judul program dari Kemnaker dan 13 judul program dari Kementerian Pertanian (Kementan), yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja yang siap bersaing di industri pangan.

Dalam kesempatan yang sama, Duta Petani Milenial, Graha Abadi Pasaman, mengungkapkan pentingnya penerapan teknologi dalam pertanian, salah satunya melalui metode smart farming.

Menurut Graha, smart farming dapat meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam dan manusia dengan memanfaatkan teknologi mesin pertanian dan sensor yang dapat memantau kondisi lahan pertanian secara akurat.

"Kunci utama smart farming adalah data yang terukur berdasarkan sensor yang ada di lahan," katanya.

Graha juga menekankan pentingnya memotivasi generasi muda, khususnya Gen-Z, untuk bergabung dengan sektor pertanian. Untuk itu, beberapa aspek yang perlu disiapkan termasuk pendampingan, sarana yang memadai, transformasi masyarakat, konsolidasi pemangku kebijakan, serta inovasi teknologi yang menarik bagi generasi muda.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pertanian, Devi Erna Rachmawati, turut memberikan pandangannya terkait tantangan yang dihadapi oleh industri pangan di Indonesia.

Erna menyebutkan beberapa penyebab menurunnya hasil pertanian, di antaranya penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang merusak tanah, perubahan iklim yang drastis, serta serangan hama, bakteri, dan virus.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Erna mengusulkan beberapa solusi, di antaranya pembenahan tanah dan penggunaan teknologi nano dalam pemberian pupuk. Teknologi nano, menurut Erna, memungkinkan tanaman menyerap nutrisi secara instan tanpa melalui proses fotosintesis, yang sangat berguna dalam kondisi iklim yang tidak menentu.

Selain itu, ia juga mendorong penggunaan nutrisi yang dapat meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, serta mengoptimalkan penggunaan pestisida organik.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal