Pangannews.id - Pemerintah memutuskan untuk tetap melanjutkan program food estate atau lumbung pangan nasional yang dimulai pada 2020 di era Presiden Jokowi.
Program ini bertujuan menjamin ketersediaan pangan nasional sepanjang tahun, termasuk di tengah krisis global. Sebelumnya, konsep serupa telah dijalankan di era Presiden Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Namun, program ini menuai kritik karena dianggap merusak lingkungan akibat penggundulan hutan dan pemangkasan lahan.
Selain itu, program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada produk impor dengan menciptakan produksi pangan yang stabil dan terkendali.
Dr. Poppy Diana Sari, Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Tekpang Umsida), menyatakan bahwa food estate adalah upaya penting untuk mengantisipasi krisis pangan dengan memastikan keberlanjutan ketersediaan pangan.
“Program ini dapat menjadi upaya yang berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia,” ujar Poppy Dian, dikutip Rabu, 18 Desember 2024.
Meski demikian, menurut Poppy Diana Sari, keberhasilan food estate bergantung pada sejumlah faktor.
“Faktor utama adalah pengembangan infrastruktur, pemanfaatan teknologi modern, keterlibatan tokoh masyarakat, kerjasama dengan pihak swasta, dan perhatian pemerintah terhadap pengelolaan sumber daya manusia,” tambahnya.
Poppy Dian juga memaparkan berbagai strategi untuk meningkatkan diversifikasi produk pangan hasil food estate. Sosialisasi menyeluruh, dukungan finansial dan teknis kepada petani, serta penerapan teknologi modern seperti irigasi canggih dan bioteknologi menjadi bagian penting dari strategi tersebut.
Menanggapi dampak negatif seperti penggundulan hutan, Poppy Dian menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah juga diminta mempertimbangkan potensi pangan lokal yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan sosial masyarakat setempat.
“Mereka perlu mempertimbangkan potensi pangan lokal sehingga masyarakat bersedia mengikuti program food estate,” ujarnya.
Ia juga menyarankan pengelolaan limbah menggunakan teknik konservasi tanah dan air, serta pemanfaatan fly ash bottom ash (FABA) sebagai amelioran tanah gambut.
Menurutnya, teknologi pangan berperan penting dalam program ini, mulai dari proses pemanenan hingga pengolahan produk pangan.
“Teknologi pangan dapat meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi limbah, serta menciptakan alternatif pangan berkelanjutan yang lebih aman dan bergizi,” jelasnya.
Editor: Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.