Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Anggaran Makan Siang Gratis Dipangkas, Ahli Gizi Usul Manfaatkan Bahan Pangan Lokal

Bagikan
"Ilustrasi" Bahan pangan lokal. (Foto: pixabay.com)
"Ilustrasi" Bahan pangan lokal. (Foto: pixabay.com)

Pangannews.id - Pemerintah Indonesia baru-baru ini mendapat sorotan terkait kebijakan pemangkasan biaya makan siang gratis yang dicanangkan sebesar Rp10.000 per porsi.

Kebijakan tersebut menuai kontroversi di masyarakat, terutama menyangkut kualitas gizi yang dapat diberikan dengan anggaran terbatas.

Menanggapi hal ini, Mahmud Aditya Rifqi, PhD, dosen gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR), menilai kebijakan tersebut kemungkinan besar telah melalui berbagai pertimbangan.

Namun, ia mengakui bahwa perubahan ini menimbulkan tantangan tersendiri, khususnya bagi ahli gizi dalam menyediakan menu bernilai gizi baik dengan biaya yang minim.

“Adanya perubahan itu justru akan memberikan tantangan terutama pada ahli gizi untuk dapat memberikan menu yang memiliki nilai gizi baik dengan biaya yang terbatas,” ujar Mahmud, dikutip pada Jum'at, 20 Desember 2024.

Sebagai solusi, Mahmud merekomendasikan penggunaan bahan pangan lokal. Menurutnya, bahan pangan lokal tidak hanya lebih ekonomis tetapi juga memiliki kandungan gizi yang setara dengan bahan pangan konvensional.

“Dalam penyediaan makanan yang bergizi dan berimbang kita perlu perhatikan porsi, zat gizi, dan komposisi. Umumnya dalam satu piring yang paling mahal adalah protein. Hal ini dapat disiasati dengan menggunakan bahan pangan lokal, contohnya seperti menggunakan protein dari ikan,” jelas Mahmud.

Ia menambahkan bahwa ikan air tawar seperti nila, gurami, dan lele dapat menjadi sumber protein yang ekonomis dan mudah didapatkan di masyarakat.

“Kandungan protein ikan lele, gurami, dan nila juga tidak kalah dengan ayam maupun daging,” tegasnya.

Tidak hanya protein hewani, Mahmud juga menekankan pentingnya sumber protein nabati seperti kacang-kacangan. 

“Kacang hijau, kacang merah, dan produk olahannya dapat menjadi contoh. Kedelai lokal kita dapat digunakan sebagai bahan tempe dan tahu. Selain itu di Indonesia sudah banyak dikembangkan kacang edamame. Keduanya memiliki kandungan protein yang baik,” paparnya.

Selain ekonomis, pangan lokal dinilai lebih aman karena minim pengawetan.

“Pertimbangan penggunaan bahan lokal dapat dilihat dari proses farm to table. Semakin panjang prosesnya maka butuh banyak perlakuan dan pengawetan. Sedangkan pangan lokal yang ada di sekitar kita masih segar dan tidak perlu banyak perlakuan dan pengawetan sehingga dapat meminimalisir penggunaan pengawet dan penurunan zat gizi,” tambahnya.

Namun, Mahmud juga mengakui bahwa masih ada tantangan dalam mendorong masyarakat menggunakan pangan lokal.

“Perlu adanya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi dalam meningkatkan penggunaan bahan pangan lokal sebagai bahan makanan yang bergizi dan terjangkau dengan promosi yang masif untuk dapat menjangkau berbagai kalangan masyarakat,” katanya.

Mahmud menyoroti perlunya realisasi penelitian terkait pangan lokal agar dapat dimanfaatkan secara luas. 

“Sebagai akademisi, sudah cukup banyak penelitian terkait pangan lokal. Namun dalam proses hilirisasinya masih menjadi suatu permasalahan. Kelanjutan dari paper, artikel, dan jurnal ini perlu diperhatikan, tidak hanya menjadi tulisan belaka namun perlu direalisasikan untuk dapat menjadi suatu produk di masyarakat,” pungkasnya.

Editor: Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal