Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Amerika Dapat Akses Penuh Ekspor Daging hingga Gandum ke Indonesia Tanpa Perlu Bayar Apapun

Bagikan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Foto: Instagram @realdonaldtrump)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Foto: Instagram @realdonaldtrump)

Pangannews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penurunan tarif impor untuk produk asal Indonesia dari sebelumnya 32% menjadi 19%. Kebijakan ini menjadi bagian dari kesepakatan dagang baru antara kedua negara, di mana Indonesia sepakat memberikan akses pasar yang lebih luas kepada produk-produk AS.

“Mereka akan membayar 19% dan kami tidak akan membayar apapun ... kami akan memiliki akses penuh ke Indonesia, dan kami memiliki beberapa kesepakatan yang akan diumumkan,” ujar Trump, Selasa (15/7/2025), dikutip dari Reuters.

Dalam perjanjian tersebut, Indonesia menyatakan komitmennya untuk mengimpor energi dari AS senilai US$15 miliar, produk pertanian senilai US$4,5 miliar, serta 50 unit pesawat Boeing, termasuk Boeing 777. Nilai total impor produk pertanian setara dengan sekitar Rp79,6 triliun (kurs US$1 = Rp16.255), yang menandai lonjakan sebesar 55% dibandingkan tahun sebelumnya.

Data dari Departemen Pertanian AS (USDA) menunjukkan bahwa ekspor pertanian AS ke Indonesia pada 2023 mencapai US$2,9 miliar, turun 4% dari tahun sebelumnya. Meski begitu, Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan ekspor utama produk pertanian AS di kawasan Asia.

Kedelai menjadi komoditas pertanian unggulan yang diekspor ke Indonesia, dengan nilai mencapai US$1,3 miliar. Diikuti oleh gandum sebesar US$149 juta atau meningkat 74% dibandingkan tahun 2023. Sementara ekspor daging sapi, produk turunannya, dan makanan olahan mengalami kenaikan masing-masing 15% dan 30%. Di sisi lain, ekspor kapas dan bungkil kedelai justru menurun masing-masing sebesar 29% dan 27% pada 2024.

Menurut USDA dalam 2024 United States Agricultural Export Year Book, konsumsi tinggi masyarakat Indonesia terhadap produk tradisional berbahan dasar kedelai seperti tempe dan tahu, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pengimpor kedelai konsumsi terbesar di dunia, yaitu sekitar 2,5 hingga 2,6 juta metrik ton per tahun, dengan 90% diimpor dari AS.

Selain itu, peningkatan impor gandum juga menunjukkan pertumbuhan konsumsi domestik baik untuk pangan maupun pakan ternak. Namun, penurunan ekspor susu AS ke Indonesia mencapai 20% karena rendahnya permintaan lokal dan harga global yang menurun.

Amerika Serikat saat ini menjadi pemasok pertanian terbesar keempat bagi Indonesia, dengan pangsa pasar 10%, di bawah Brasil, China, dan Australia. Selama periode 2020 hingga 2024, nilai ekspor pertanian AS ke Indonesia stabil di angka hampir US$3 miliar per tahun.

USDA menilai Indonesia sebagai negara dengan populasi keempat terbesar di dunia dan kelas menengah yang terus berkembang. Faktor ini membuat Indonesia menjadi pasar strategis bagi eksportir AS di masa depan. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait sistem regulasi Indonesia yang dinilai rumit dan kurang transparan.

Salah satu hambatan utama yang dikeluhkan adalah sistem perizinan impor yang kompleks, terutama untuk produk daging sapi dan hortikultura. Ketidakpastian ini masih menjadi momok bagi eksportir AS, meskipun ada peluang besar untuk memenuhi permintaan domestik Indonesia yang terus meningkat.

Perjanjian Kerangka Kerja Perdagangan dan Investasi Bilateral (TIFA) antara AS dan Indonesia diharapkan dapat menjadi forum dialog untuk menyelesaikan hambatan-hambatan tersebut, guna mendorong pertumbuhan perdagangan yang lebih seimbang di masa depan.

Editor: Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal