Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Bulog Salurkan Beras SPHP 327 Ribu Ton, Distribusi Masih Dikebut

Bagikan
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal saat kunjungan kerja ke Gudang dan Sentra Pengolahan Beras Bulog, Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (6/9/2025). (Foto : ANTARA/Rizka Khaerunnisa)
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal saat kunjungan kerja ke Gudang dan Sentra Pengolahan Beras Bulog, Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (6/9/2025). (Foto : ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Pangannews.id - Perum Bulog terus mempercepat penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di tengah tingginya permintaan dan naiknya harga beras di pasaran.

Hingga 6 September 2025, sebanyak 327.718 ton beras telah terdistribusi atau setara 22 persen dari total target penugasan sebesar 1,5 juta ton sepanjang tahun ini.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa percepatan ini tak lepas dari kerja sama berbagai pihak. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, serta jaringan pengecer turut dilibatkan dalam mendistribusikan beras ke seluruh wilayah Indonesia.

“Kami memang melibatkan semua pihak agar distribusi bisa berjalan lebih cepat dan menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujar Rizal di Gudang dan Sentra Pengolahan Beras Bulog di Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (6/9/2025).

Terkait keluhan masyarakat soal harga beras yang tinggi meski stok dinyatakan aman, Rizal menegaskan bahwa proses distribusi memerlukan waktu.

Ia menjelaskan bahwa Bulog menyalurkan beras SPHP melalui tujuh jalur distribusi, mulai dari pasar tradisional, koperasi desa, hingga swalayan modern.

“Permintaan sangat besar, sementara penyaluran tentu bertahap. Tapi kami terus bergerak, termasuk lewat Gerakan Pangan Murah yang sudah berjalan serentak di 7.000 titik. Hasilnya cukup signifikan,” katanya.

SPHP merupakan program penyaluran beras dari stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang ditujukan untuk menekan lonjakan harga. Pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) SPHP sebesar Rp12.500 per kilogram untuk wilayah Jawa, Lampung, dan Sulawesi; Rp13.100 untuk sebagian Sumatera, Kalimantan, dan NTT; serta Rp13.500 untuk kawasan Maluku dan Papua.

Bulog juga memastikan kualitas beras tetap terjaga selama penyimpanan di gudang. Pemeriksaan dilakukan berkala dan menyeluruh, termasuk fumigasi dan pengendalian hama. Distribusi beras mengikuti prinsip first in, first out (FIFO) dan first expired, first out (FEFO) untuk memastikan kualitas tetap optimal saat diterima masyarakat.

Saat ini, total stok beras pemerintah yang dikelola Bulog mencapai 3,9 juta ton. Dari jumlah itu, sekitar 75 persen berasal dari pengadaan dalam negeri, sedangkan sisanya hasil impor berdasarkan penugasan tahun sebelumnya.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal