Pangannews.id - Ancaman kekeringan bukan hal baru bagi para petani di Tuban. Hampir setiap musim kemarau, lahan pertanian di wilayah ini kerap kesulitan air, hasil panen anjlok, dan musim tanam terancam gagal.
Melihat pola yang terus berulang, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky mengambil langkah antisipatif, bertindak sebelum krisis datang.
Tahun ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban menggelontorkan anggaran Rp 1,9 miliar untuk merehabilitasi tiga waduk yang selama ini tak lagi berfungsi optimal. Tujuannya untuk memperkuat cadangan air sebelum musim kemarau panjang melanda tahun depan.
“Kalau timbunan air cukup, petani bisa tenang. Meski hujan berhenti, lahan tetap bisa ditanami. Hasil panen tetap maksimal,” ujar Aditya Halindra Faridzky.
Langkah ini bukan semata proyek infrastruktur, melainkan strategi jangka panjang menghadapi perubahan iklim yang semakin tak bisa diprediksi. Bagi daerah tadah hujan seperti Tuban, ketergantungan pada curah hujan semata jelas menjadi risiko yang tak lagi bisa ditoleransi.
Tiga waduk yang masuk dalam daftar prioritas adalah Waduk Padasan di Kecamatan Kerek, Waduk Dermawuharjo di Kecamatan Grabagan, dan Waduk Winong di Desa Margomulyo.
Ketiganya selama ini mengalami pendangkalan dan kerusakan pada struktur penahan air, sehingga tidak mampu menyimpan air dalam jumlah memadai.
Pekerjaan rehabilitasi akan difokuskan pada normalisasi waduk, pengerukan sedimen, serta penguatan dinding dengan bronjong.
Proyek-proyek ini kini tengah dalam proses lelang. Pemkab menargetkan pekerjaan fisik bisa dimulai segera setelah kontraktor pemenang ditetapkan.
“Normalisasi waduk ini bentuk kesiapan. Kita harus pastikan masyarakat, khususnya petani, tetap bisa berproduksi. Air yang tertampung bisa digunakan tidak hanya untuk pertanian, tapi juga kebutuhan rumah tangga,” tambah Halindra.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.