Pangannews.id - Dua lembaga negara yang selama ini berperan penting dalam pengawasan produk konsumsi masyarakat, Badan Karantina Pertanian (Barantin) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat pengawasan terhadap pangan dan obat-obatan.
Kesepakatan yang diteken oleh Kepala Barantin, Sahat M. Panggabean, dan Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mencakup kerja sama strategis dalam berbagai aspek, mulai dari inspeksi lapangan, pertukaran data digital, harmonisasi regulasi, hingga peningkatan kapasitas laboratorium.
“MoU ini menjadi langkah strategis memperkuat koordinasi antarlembaga dalam menjaga keamanan pangan dan kesehatan masyarakat,” kata Sahat Panggabean.
Barantin dan BPOM menyatakan komitmennya untuk meningkatkan efektivitas pengawasan, khususnya terhadap produk pangan dan obat yang berasal dari hewan, ikan, dan tumbuhan, kategori yang rentan terhadap kontaminasi dan menjadi sorotan utama dalam lalu lintas perdagangan global.
Langkah konkret dari kerja sama ini adalah inspeksi bersama di titik-titik perbatasan. “Kami akan segera bergerak ke lapangan untuk melakukan pengawasan bersama di pintu-pintu masuk,” ujar Panggabean.
Namun kerja sama tak berhenti di situ. Kedua lembaga juga sepakat memperkuat digitalisasi layanan untuk mendukung pertukaran data dan informasi secara real time. Selain itu, harmonisasi standar dan regulasi antarinstansi juga menjadi bagian penting dari kesepakatan.
Sebagai tindak lanjut, Barantin telah menggandeng Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional milik BPOM untuk menjalin kemitraan dengan Balai Besar Uji Standar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBUSKHIT).
Kolaborasi ini dirancang untuk mendukung program prioritas Barantin sekaligus menjadi wujud nyata implementasi MoU di lapangan. Fokus utamanya adalah memperkuat kapasitas laboratorium dalam mendeteksi potensi bahaya dalam produk pangan dan obat.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menekankan bahwa kerja sama ini mendesak untuk dijalankan, terlebih dengan maraknya produk pangan dan obat yang masuk ke pasar Indonesia melalui jalur daring.
“Kerja sama yang lebih kuat di tahap pra-perbatasan sangat penting untuk memastikan barang impor yang masuk benar-benar aman bagi konsumen Indonesia,” kata Taruna.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.