Pangannews.id – Untuk menekan biaya pupuk kimia sekaligus membuka peluang usaha baru bagi petani di sektor hilir, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendorong petani kelapa sawit agar memanfaatkan limbah tandan kosong (tankos) sebagai bahan baku pembuatan pupuk hayati biochar.
Analis Senior Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) BPDP Anwar Sadat menjelaskan, bahan baku biochar di Indonesia sangat melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
“Setiap hari, diperkirakan ada sekitar 40 juta ton tandan kosong sawit yang bisa diolah menjadi arang aktif atau biochar. Ini potensi besar yang bisa dikelola langsung oleh petani,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Jumat (17/10/2025).
Menurut Anwar, penggunaan biochar mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan penyerapan pupuk, dan menjaga kesuburan lahan perkebunan sawit dalam jangka panjang.
Ia mendorong agar petani mulai memproduksi biochar secara mandiri dengan penerapan teknologi sederhana dan tepat guna.
Sebagai langkah konkret, BPDP menggelar pelatihan pembuatan biochar dari tandan kosong sawit di Desa Cinta Puri, Kecamatan Cinta Puri Darussalam, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Kamis (16/10/2025).
Kegiatan bertajuk “Praktik Pembuatan Biochar dari Tandan Kosong Sebagai Pembenah Tanah dan Produk Bernilai Ekonomis Skala UKMK” ini diikuti oleh para petani sawit dari berbagai wilayah.
Anwar mengatakan, kegiatan tersebut memberi manfaat langsung bagi petani, terutama di tengah melonjaknya biaya pupuk dan stagnasi produktivitas kebun.
“Dengan biochar, petani tidak hanya bisa menghemat biaya pupuk, tapi juga memperoleh sumber pendapatan tambahan dari penjualan produk ini,” katanya.
Selain meningkatkan efisiensi, produksi biochar juga membuka peluang bagi petani untuk terlibat dalam rantai pasok baru berbasis ekonomi hijau.
BPDP berencana menfasilitasi pameran produk biochar hasil karya petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) agar dapat menarik minat pembeli dari perusahaan dalam dan luar negeri.
“Kami berharap ada mitra usaha atau bahkan negara lain yang tertarik membeli biochar hasil produksi petani Aspekpir,” ujar Anwar.
Wakil Ketua Umum Aspekpir Roy Asnawie menyambut positif upaya BPDP tersebut. Menurutnya, limbah sawit yang selama ini dianggap tidak bernilai sebenarnya dapat menjadi sumber daya baru jika diolah dengan benar.
“Dari tandan kosong sawit, kita bisa menghasilkan biochar yang bermanfaat untuk tanaman sawit, pangan, dan hortikultura,” jelas Roy.
Ia menambahkan, pelatihan yang dilakukan bersama BPDP bertujuan menambah wawasan dan keterampilan petani dalam mengelola limbah perkebunan menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Ketua Aspekpir Kalimantan Selatan Jayadi bahkan mendorong peserta pelatihan untuk segera menerapkan pengetahuan ini di kebun masing-masing.
“Kami ingin petani tak berhenti di teori, tapi langsung praktik membuat biochar sendiri. Ini peluang besar,” kata Jayadi.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Pemerintah Kabupaten Banjar. Kepala Bidang Perizinan Dinas Pertanian Abdul Basit mengatakan, daerahnya tahun ini menargetkan pembukaan 3.000 hektare sawah baru, yang tentu membutuhkan pasokan pupuk dalam jumlah besar.
Ia juga mengimbau kelompok tani dan koperasi desa agar bekerja sama dengan pabrik kelapa sawit PT Palmina yang beroperasi di wilayah tersebut, untuk mendapatkan pasokan tandan kosong sawit sebagai bahan baku utama biochar.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.