Pangannews.id - Lonjakan harga daging ayam yang terus berlanjut dalam dua bulan terakhir membuat para pedagang di Pasar Ciracas, Jakarta Timur, semakin terdesak. Omzet menurun tajam, sementara biaya sewa lapak dan kebutuhan harian tetap berjalan.
Salah satu pedagang, Yuni (28), mengaku situasi kali ini adalah yang terberat selama ia berjualan. Harga ayam yang sebelumnya di kisaran Rp50 ribu per kilogram kini menembus Rp60 ribu, hingga membuat pembeli enggan datang.
“Sekarang orang banyak yang menunda beli. Dulu ramai, sekarang sepi sekali. Banyak teman pedagang sudah menutup lapaknya karena tak sanggup bayar sewa,” kata Sari.
Untuk tetap bertahan, ia mengubah strategi dagang. Ia kini membeli stok dalam jumlah lebih sedikit agar tidak banyak barang tersisa di penghujung hari.
Sebelum harga melonjak, ia bisa menjual 50 hingga 60 kilogram daging ayam setiap hari. Kini penjualan harian turun hampir separuhnya, hanya sekitar 30 hingga 40 kilogram.
Namun, menurutnya, harga ayam di pasaran kini tak menentu. Dalam beberapa waktu sempat turun sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram, tapi penurunan itu tidak bertahan lama.
“Turunnya cuma sebentar, setelah itu naik lagi malah lebih tinggi. Jadi susah buat menyesuaikan harga jual ke pembeli,” keluhnya.
Kenaikan harga ayam tak hanya menyulitkan pedagang, tapi juga memukul pelaku usaha kuliner di sekitar pasar. Beberapa pelanggan yang biasa memasok dari lapak Yuni mulai mengurangi pesanan, bahkan ada yang menutup usaha sementara waktu.
Kondisi itu diperparah oleh persaingan yang makin ketat. Banyak pedagang ayam bermunculan di luar area pasar dengan harga lebih murah. Akibatnya, pedagang kecil di dalam pasar kehilangan sebagian pelanggan.
“Sekarang di luar pasar juga banyak kios jual ayam. Jadi pembeli terbagi, omzet makin menurun,” katanya.
Sejumlah pedagang akhirnya memilih mengubah usaha mereka, sebagian pindah lokasi, sementara yang lain mencoba beralih menjual produk berbeda yang dianggap lebih menguntungkan.
Para pedagang berharap pemerintah turun tangan mengendalikan harga ayam dan memastikan distribusi pasokan berjalan lancar, agar tidak ada spekulasi di tingkat pengepul.
“Kami cuma minta harga stabil. Kalau terus naik, pembeli kabur, pedagang bisa bangkrut. Mau dijual murah juga enggak bisa karena harga kulakan sudah tinggi,” pungkas Yuni.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.