Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Penerima MBG Diperkirakan Lampaui 40 Juta Hingga Akhir Oktober

Bagikan
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindyana. (Foto : Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindyana. (Foto : Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Pangannews.id - Jumlah penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperkirakan akan melampaui 40 juta jiwa sebelum Oktober 2025 berakhir. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindyana, menyebut capaian ini sejalan dengan pesatnya pertumbuhan dapur penyedia makanan di seluruh Indonesia.

Menurutnya, hingga akhir Oktober, jaringan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah menjangkau hampir seluruh daerah.

“Saat ini terdapat 13.514 unit dapur layanan di 38 provinsi, 509 kabupaten, dan 7.022 kecamatan. Dengan kapasitas ini, program telah menyentuh sekitar 39,5 juta penerima, dan kemungkinan besar akan mencapai 40 juta dalam waktu dekat,” ujar Dadan seusai melapor kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (29/10/2025).

Lebih dari sekadar memperluas jangkauan, program MBG dinilai membawa dampak ekonomi signifikan di tingkat daerah.

Dadan menjelaskan, rantai pasok bahan pangan kini banyak melibatkan petani lokal, pelaku UMKM, dan tenaga dapur daerah, yang secara keseluruhan telah menyerap sekitar 600 ribu tenaga kerja.

Ia menambahkan, penyerapan anggaran program hingga saat ini telah mencapai Rp35,6 triliun, atau sekitar 50 persen dari total pagu. Pemerintah menargetkan hingga akhir tahun, jumlah penerima dapat meningkat hingga 82,9 juta orang.

Untuk memperkuat pelaksanaan tahun depan, BGN menyiapkan alokasi tambahan senilai Rp268 triliun pada 2026.

Dana tersebut akan difokuskan pada perluasan cakupan wilayah, peningkatan kualitas gizi, serta penyempurnaan sistem distribusi bahan pangan.

Meski demikian, pelaksanaan program belum sepenuhnya tanpa hambatan. Beberapa laporan independen menyebut adanya kendala pembangunan dapur dan distribusi logistik di sejumlah daerah, termasuk kasus keracunan makanan yang sempat menjadi perhatian publik.

Dadan mengakui, tantangan logistik di lapangan cukup besar, terutama di wilayah terpencil yang sulit dijangkau.

“Kami berkomitmen memastikan pelayanan tetap berjalan, tapi tanpa menurunkan standar keamanan dan mutu pangan,” tegasnya.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal