Pangannews.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Maluku Utara melakukan kajian bertajuk Life Cycle Assessment (LCA) Aktivitas Pertambangan Nikel IWIP dan Pengaruhnya terhadap Ekologi Lingkungan di Halmahera Tengah.
Kajian ini menyoroti tidak hanya dampak ekologis dari aktivitas tambang, tetapi juga perubahan sosial-ekonomi di masyarakat sekitar.
Hasil awal menunjukkan pergeseran minat generasi muda dari sektor pertanian ke pertambangan.
Kondisi ini membuat banyak lahan sawah terbengkalai, padahal fasilitas seperti irigasi dan lahan subur masih tersedia.
Kasubbag Tata Usaha BRMP Maluku Utara, Lubna Baguna, menjelaskan bahwa sekitar 80 persen kebutuhan pangan di Halmahera masih dipasok dari luar daerah, sementara tambang nikel menyumbang hingga 32 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) wilayah tersebut.
Ia menilai ketimpangan ini berisiko terhadap ketahanan pangan jangka panjang.
“Suatu saat pertambangan akan habis, dan jika generasi muda tidak lagi mengenal pertanian, maka kita akan kehilangan pijakan ekonomi lokal,” ujarnya, dikutip Senin, 10 November 2025.
Sebagai tindak lanjut, BRMP meluncurkan strategi Back to Agriculture Sector untuk membangkitkan kembali minat bertani di kalangan muda.
Program ini mengusung konsep pertanian modern dengan dukungan teknologi mekanisasi seperti drone untuk penebaran benih dan pupuk secara efisien.
“Kami sedang mengintegrasikan pertanian dengan teknologi modern seperti precision farming, mekanisasi berbasis drone, dan sistem irigasi cerdas untuk meningkatkan efisiensi lahan yang selama ini terbengkalai. Harapannya, generasi muda melihat bahwa pertanian bisa setara menariknya dengan sektor industri jika dikelola dengan sains dan teknologi,” jelas Lubna.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menambahkan bahwa dukungan riset dan pendidikan penting agar transformasi pertanian modern dapat berjalan nyata.
“Kami ingin memastikan transformasi menuju pertanian modern tidak berhenti di konsep, tetapi benar-benar diterapkan melalui pendidikan vokasi, riset terapan, dan dukungan teknologi seperti mekanisasi dan digital farming. Dengan demikian, sektor pertanian dapat menjadi pilihan karier yang menarik, produktif, dan berdaya saing,” kata Nugroho.
Melalui program beasiswa Degree by Research (DBR), BRIN memberi kesempatan bagi pegawai BRMP dan masyarakat lokal untuk melanjutkan studi di universitas mitra seperti Universitas Hasanuddin.
Program ini berfokus pada riset pengembangan wilayah Halmahera dan hilirisasi komoditas lokal, termasuk rempah-rempah khas daerah tersebut.
“Kolaborasi antara BRIN dan BRMP Maluku Utara ini menjadi langkah nyata dalam menyeimbangkan kemajuan industri dengan keberlanjutan sosial dan ekologis. Melalui kajian LCA, strategi revitalisasi pertanian, serta penguatan pendidikan dan hilirisasi komoditas lokal, diharapkan generasi muda Halmahera dapat melihat bahwa masa depan daerah mereka tidak hanya bergantung pada tambang, tetapi juga pertanian dan sumber daya alam yang dikelola secara cerdas, inovatif, dan berkelanjutan,” pungkas Nugroho.
Editor: Mahipal


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.