Pangannews.id - Kolaborasi riset tengah digencarkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Maluku Utara guna mengkaji dampak aktivitas pertambangan nikel di Halmahera Tengah.
Kajian bertajuk Life Cycle Assessment (LCA) Aktivitas Pertambangan Nikel IWIP itu menelusuri pengaruh tambang terhadap kondisi ekologis sekaligus perubahan sosial ekonomi di wilayah tersebut.
Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah beralihnya minat generasi muda dari sektor pertanian ke sektor tambang yang dinilai lebih cepat menghasilkan pendapatan.
Pergeseran ini menyebabkan banyak lahan sawah tidak terkelola, padahal sarana irigasi dan lahan subur telah tersedia. Di saat yang sama, sekitar 80 persen kebutuhan pangan Halmahera masih dipasok dari luar daerah.
Kasubbag Tata Usaha BRMP Maluku Utara, Lubna Baguna, menjelaskan ketergantungan pada pasokan pangan luar wilayah semakin berisiko ketika perekonomian lokal terlalu bergantung pada tambang.
Dikutip dari laman BRIN, sektor nikel berkontribusi sekitar 32 persen terhadap PDRB Halmahera Tengah, sementara sumber daya tambang bersifat tidak terbarukan.
“Pertambangan pasti memiliki batas. Ketika itu terjadi, dan generasi muda tidak lagi terhubung dengan pertanian, kita akan kehilangan pijakan ekonomi dasar,” ujarnya.
Menyikapi kondisi tersebut, BRMP mulai mendorong gerakan kembali ke sektor pertanian. Upaya ini tidak sekadar mengajak masyarakat bertani seperti pola lama, tetapi memperkenalkan model pertanian modern yang dinilai lebih sesuai dengan minat generasi muda.
Teknologi mekanisasi pertanian seperti drone untuk distribusi benih dan pupuk menjadi salah satu terobosan yang kini diuji coba.
Lubna menuturkan, pengembangan sistem irigasi cerdas dan precision farming menjadi bagian dari strategi tersebut.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pertanian bisa menarik, modern, dan memberikan nilai ekonomi jika dikelola berbasis teknologi,” katanya.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menekankan bahwa modernisasi pertanian harus diperkuat pendidikan vokasi serta riset terapan agar tidak berhenti pada konsep.
BRIN juga membuka kesempatan beasiswa Degree by Research bagi pegawai BRMP dan masyarakat lokal untuk melanjutkan studi berbasis riset di universitas mitra seperti Universitas Hasanuddin.
Selain itu, hilirisasi komoditas unggulan daerah, termasuk rempah-rempah lokal, tengah didorong agar memiliki nilai tambah ekonomi.
“Langkah bersama ini penting untuk memastikan Halmahera tidak hanya memiliki masa depan dari industri tambang, tetapi juga dari pertanian cerdas dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan,” ujar Nugroho.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.