Pangannews.id - Sebanyak 35,9 persen anak penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengaku pernah mendapatkan makanan rusak, basi, atau mentah. Temuan itu muncul dalam survei nasional yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), bekerja sama dengan CISDI dan Wahana Visi Indonesia (WVI).
Survei bertajuk “Suara Anak: Mengedepankan Perspektif Anak dalam Program Makan Bergizi Gratis” tersebut melibatkan 1.624 responden anak dari 12 provinsi.
Mayoritas proses kajian dilakukan dengan pendekatan Child-Led Research (CLR), di mana penyusunan instrumen, diskusi, hingga pengolahan data dipimpin langsung oleh peneliti anak.
Ketua KPAI Margaret Aliyatul Maimunah menyebut selama ini pelaksanaan MBG lebih banyak dibahas dari perspektif orang dewasa. Karena itu, kajian ini digelar untuk memastikan suara penerima manfaat utama tidak diabaikan.
“Kami ingin mendengar langsung apa yang dialami anak. Hasil ini penting sebagai masukan perbaikan program,” ujarnya.
Selain masalah kualitas makanan, survei menemukan adanya intimidasi terhadap anak yang berupaya merekam dan melaporkan menu tidak layak di sekolah.
Margaret menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hak anak untuk menyampaikan pendapat secara aman. Ia meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh dan memperkuat mekanisme pengawasan.
“Tidak boleh ada pembiaran atas kelalaian yang membuka peluang kekerasan baru,” tegasnya.
Chief of Research and Policy CISDI Olivia Herlinda mengatakan pelibatan anak dalam MBG masih sangat terbatas. Di negara lain, menurut dia, anak dilibatkan dalam penyusunan menu, edukasi gizi, hingga evaluasi program.
“Di Indonesia, anak masih diposisikan sebagai objek, bukan peserta aktif,” ujarnya.
Selain temuan negatif, survei juga mencatat sisi positif. Banyak anak merasakan manfaat sosial-ekonomi dari MBG, seperti kebiasaan makan bersama, penghematan uang jajan, dan bantuan untuk keluarga kurang mampu.
Olivia menyebut temuan itu menegaskan MBG dibutuhkan terutama di wilayah berpendapatan rendah.
Namun persoalan keamanan pangan tidak bisa diabaikan. CISDI mencatat 12.820 kasus keracunan makanan MBG hingga 30 Oktober 2025.
Dampaknya berkisar dari gangguan pencernaan, penurunan nafsu makan, hingga risiko peradangan kronis akibat infeksi berulang.
WVI melalui Child Protection and Participation Manager, Satrio Dwi Raharjo, menekankan pentingnya memastikan kualitas makanan yang aman dan melibatkan anak dalam proses evaluasi.
“Anak adalah penerima manfaat utama. Suara mereka harus menjadi dasar perbaikan,” pungkasnya.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.