Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Distribusi Menggunakan Kendaraan Terbuka, Makanan MBG di Babel Rawan Kontaminasi

Bagikan
Ilustrasi : salah satu menu Makan Bergizi Gratis (MBG). (Foto : Pangannews,id)
Ilustrasi : salah satu menu Makan Bergizi Gratis (MBG). (Foto : Pangannews,id)

Pangannews.id - Ombudsman RI Perwakilan Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menemukan pelanggaran prosedur dalam pendistribusian program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Sejumlah sekolah dilaporkan masih menerima makanan menggunakan kendaraan terbuka, yang berpotensi membuat makanan terpapar debu dan polusi selama perjalanan.

Temuan tersebut muncul saat Ombudsman melakukan rangkaian pengawasan di beberapa titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Babel.

Kepala Perwakilan Ombudsman Babel, Shulby Yozar Ariadhy, menyatakan perlunya evaluasi menyeluruh agar keselamatan penerima manfaat tidak terabaikan.

“Kami mengajak semua pihak duduk bersama, melihat fakta di lapangan, dan memperbaiki celah sistem agar tidak ada risiko bagi penerima manfaat,” ujar Shulby.

Menurut Shulby, pihaknya mengapresiasi semangat para penyelenggara, mulai dari yayasan, mitra pelaksana, hingga tenaga lapangan, yang setiap hari memastikan makanan sampai kepada siswa.

Namun ia mengingatkan bahwa semangat tersebut harus dibarengi dengan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.

“Di tengah kerja keras para pelaksana, kami masih menemukan pendistribusian MBG ke sekolah menggunakan kendaraan terbuka. Ini harus segera diperbaiki agar keamanan makanan tidak terganggu,” tegasnya.

Selain persoalan kendaraan, Ombudsman juga menyoroti ketiadaan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk penanganan keluhan.

Beberapa sekolah disebut mengalami keterlambatan pengiriman makanan, namun tidak memiliki mekanisme yang jelas untuk menyampaikan pengaduan.

“Karena belum ada SOP pengaduan, pihak sekolah kebingungan ketika terjadi masalah seperti makanan datang terlambat,” kata Shulby.

Catatan lain yang muncul ialah belum dilakukannya survei pemilihan menu secara berkala. Kondisi ini dikhawatirkan membuat siswa cepat bosan dengan variasi makanan yang diberikan.

Shulby menegaskan bahwa seluruh temuan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyalahkan pihak tertentu, tetapi sebagai peringatan agar kualitas layanan terus ditingkatkan.

“Catatan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Namun kami berharap semuanya menjadi perhatian serius agar program ini benar-benar berjalan baik demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah ini,” ujarnya.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal