Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Jelang Nataru, Pelaku Usaha Pangan Sepakat Jaga Harga dan Pasokan

Bagikan
Jelang Nataru, pelaku usaha pangan sepakat jaga harga dan pasokan. (Foto: Kominfo Jatim)
Jelang Nataru, pelaku usaha pangan sepakat jaga harga dan pasokan. (Foto: Kominfo Jatim)

Pangannews.id - Pemerintah bersama pelaku usaha pangan menegaskan komitmen menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan menjelang Hari Raya Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan yang lazim terjadi pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Harga Pangan yang digelar Badan Pangan Nasional (Bapanas) di Jakarta. Sejumlah komoditas utama, seperti daging sapi dan telur ayam ras, menjadi fokus pengawasan karena berperan penting dalam konsumsi masyarakat selama libur akhir tahun.

Dari sektor peternakan sapi potong, Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (GAPUSPINDO) memastikan pasokan daging sapi nasional berada dalam kondisi aman. Distribusi juga dipastikan berjalan normal meski permintaan diproyeksikan meningkat.

Perwakilan GAPUSPINDO, Joni Liano, mengatakan harga sapi hidup yang dipasarkan pelaku usaha masih berada di bawah harga acuan pemerintah. Menurut dia, harga beli sapi hidup impor saat ini berada di kisaran 3,65 dolar AS per kilogram.

“Untuk periode Nataru, stok mencukupi. Harga yang terjadi bukan kenaikan, melainkan penyesuaian, dan tetap di bawah harga acuan,” ujar Joni.

Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan kepentingan seluruh pelaku rantai pasok. Menurutnya, harga yang wajar memungkinkan pedagang dan peternak tetap berusaha tanpa membebani konsumen.

Sebagai rujukan, Bapanas telah menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) dan Harga Acuan Penjualan (HAPen) melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024. Untuk sapi hidup di tingkat produsen, HAP ditetapkan pada kisaran Rp56.000 hingga Rp58.000 per kilogram.

Sementara di tingkat konsumen, HAPen daging sapi segar atau chilled ditetapkan Rp130.000 per kilogram untuk paha depan dan Rp140.000 per kilogram untuk paha belakang. Adapun daging sapi beku paha depan dipatok Rp105.000 per kilogram, sedangkan daging kerbau beku Rp80.000 per kilogram.

Kondisi relatif stabil juga dilaporkan dari sektor perunggasan. Pinsar Petelur Nasional mencatat harga telur ayam ras cenderung melandai menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Ketua Umum Pinsar Petelur Nasional Yudianto Yosgiarso menyebut kabar lonjakan harga telur hingga di atas Rp30.000 per kilogram tidak bersumber dari tingkat peternak. “Harga di kandang mulai turun. Kalau ada harga tinggi, itu bukan dari peternak,” katanya.

Pinsar menilai fluktuasi harga telur dan ayam yang sempat terjadi beberapa waktu lalu dipicu aktivitas perantara dalam rantai distribusi. Praktik tersebut dinilai mengganggu mekanisme pasar dan merugikan konsumen.

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan memberi ruang bagi praktik middleman yang mempermainkan harga pangan. Penegakan aturan akan dilakukan secara tegas melalui Satgas Pangan.

“Jangan melanggar HET. Kalau melanggar, kita tindak. Imbauan sudah selesai, Satgas Pangan langsung turun,” tegas Amran.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal