Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

BGN Bali Masih Susun Pola Distribusi MBG bagi Anak Jalanan

Bagikan
Menu MBG di salah satu sekolah. (Foto : Pangannews.id)
Menu MBG di salah satu sekolah. (Foto : Pangannews.id)

Pangannews.id - Rencana perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menjangkau anak jalanan dinilai menghadirkan tantangan baru di Bali. Penyebaran anak jalanan yang tidak menetap membuat skema penyaluran perlu dirancang lebih cermat agar bantuan benar-benar tepat sasaran.

Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Bali, Risca Christina, mengatakan penyaluran MBG kepada anak jalanan berbeda dengan mekanisme yang selama ini diterapkan di sekolah. Anak jalanan kerap berpindah lokasi dan tidak terpusat di satu titik.

“Ini tantangan baru bagi kami. Anak jalanan ada yang bergerombol di satu lokasi, tapi sebagian lainnya tersebar. Itu yang sedang kami pikirkan agar mereka bisa diarahkan ke satu tempat,” kata Risca.

Menurutnya, pengelompokan penerima diperlukan untuk memudahkan distribusi sekaligus pengawasan. Dengan lokasi yang jelas, pemberian makanan dapat dipastikan benar-benar diterima oleh anak jalanan.

“Kalau mereka berada di satu titik, pengawasannya lebih mudah. Kami bisa memastikan apakah MBG benar diberikan dan tepat sasaran,” ujarnya.

Sebelumnya, BGN pusat menyampaikan rencana perluasan penerima MBG yang mencakup lanjut usia, pemulung, anak jalanan, hingga masyarakat kategori miskin, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Namun hingga kini, petunjuk teknis pelaksanaan di daerah belum diterbitkan.

Kondisi tersebut membuat BGN Bali belum melakukan pendataan khusus terhadap calon penerima baru. Saat ini, fokus masih pada penyusunan strategi serta koordinasi dengan BGN pusat agar implementasi di lapangan dapat berjalan saat program mulai diterapkan.

Sementara itu, untuk penyaluran MBG kepada penyandang disabilitas, BGN Bali memilih bekerja sama dengan sekolah luar biasa. Skema ini dinilai lebih memungkinkan karena data penerima dan lokasi relatif jelas.

“Untuk disabilitas, kami juga sedang koordinasi dan mencari data riil. Kemungkinan besar berkolaborasi dengan Dinas Sosial karena data mereka lebih lengkap,” kata Risca.

Ia menambahkan, kebutuhan gizi anak jalanan dan penyandang disabilitas tidak bisa disamakan dengan siswa pada umumnya. Penyesuaian menu dinilai penting agar tidak menimbulkan dampak kesehatan.

“Beberapa disabilitas tidak boleh kelebihan tepung, garam, dan zat tertentu. Di SPPG nanti perlu ada peran ahli gizi untuk menghitung kebutuhan gizinya,” ujarnya.

Di luar rencana perluasan sasaran, BGN Bali menargetkan sekitar 507 ribu penerima harian MBG sepanjang tahun ini. Sasaran tersebut mencakup siswa, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita di seluruh wilayah Bali.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal