Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Dinkes Grobogan Ambil Sampel MBG Usai Ratusan Orang Alami Keracunan

Bagikan
Petugas Dokpol melakukan pemeriksaan dan pencatatan sampel menu MBG sebagai bagian dari proses pengawasan dan pendokumentasian kualitas makanan sebelum didistribusikan. (Foto: ANTARA/HO-Biddokes Polda Jateng)
Petugas Dokpol melakukan pemeriksaan dan pencatatan sampel menu MBG sebagai bagian dari proses pengawasan dan pendokumentasian kualitas makanan sebelum didistribusikan. (Foto: ANTARA/HO-Biddokes Polda Jateng)

Pangannews.id - Jumlah korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, terus bertambah. Dinas Kesehatan setempat mencatat, dari total 658 orang yang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan, sebanyak 113 orang harus dirujuk ke sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Djatmiko, mengatakan rujukan terbanyak dilakukan ke RSUD Ki Ageng Getas Pendowo dengan 47 pasien, disusul RSUD R Soedjati Purwodadi sebanyak 29 pasien.

Selain rumah sakit, sejumlah pasien juga dirujuk ke beberapa puskesmas, antara lain Puskesmas Karangrayung 1 sebanyak 12 orang, Puskesmas Kedungjati tujuh orang, dan Puskesmas Gubug 1 tiga orang. Rujukan lainnya tersebar di RS Permata Bunda, Puskesmas Toroh 1, Puskesmas Klambu, Puskesmas Grobogan, serta Puskesmas Godong.

“Tercatat dua pasien pulang atas permintaan sendiri dari RSUD Ki Ageng Getas Pendowo, sementara dua pasien dari Puskesmas Toroh 1 dipindahkan ke RSUD untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Djatmiko, Senin (12/1/2026).

Dinas Kesehatan mencatat, mayoritas korban merupakan siswa sekolah dasar hingga santri pondok pesantren yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG pada Jumat (9/1/2026). Makanan tersebut diketahui disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron.

Korban berasal dari sejumlah satuan pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMK, yang tersebar di Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, dan Trisari. Hingga Minggu (11/1) pagi, sebanyak 79 orang dilaporkan masih menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan.

“Sebagian besar sudah ditangani, baik rawat jalan maupun perawatan lanjutan. Data ini masih dinamis dan kami perbarui setiap 12 jam,” kata Djatmiko.

Ia menyebutkan, keluhan yang paling banyak dialami para korban berupa mual dan muntah, yang mulai dirasakan sejak Jumat sore hingga Sabtu pagi. Dugaan sementara, gejala muncul setelah mengonsumsi MBG berupa nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek.

Selain melakukan penanganan medis, Dinas Kesehatan Grobogan juga melakukan inspeksi kesehatan lingkungan serta mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Djatmiko mengingatkan seluruh penyedia layanan makanan, khususnya SPPG, agar mematuhi standar laik higiene dan sanitasi, termasuk ketepatan waktu distribusi makanan.

“Pemberian makanan tidak boleh terlalu lama. Jika melebihi empat jam, kualitas makanan bisa menurun dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan,” ujarnya.

Hingga kini, Dinas Kesehatan Grobogan bersama puskesmas setempat masih terus memantau kondisi para korban sekaligus menelusuri sumber dugaan keracunan MBG tersebut.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal