Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Kemenhaj Kembangkan Platform Digital Oleh-Oleh Haji Berbasis Produk Lokal

Bagikan
Kemenhaj kembangkan platform digital oleh-oleh haji berbasis produk lokal. (Foto : Pixabay)
Kemenhaj kembangkan platform digital oleh-oleh haji berbasis produk lokal. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tengah merancang sistem belanja oleh-oleh haji berbasis digital yang memungkinkan jamaah membeli produk khas Indonesia tanpa harus memborongnya langsung dari Arab Saudi. Skema ini disiapkan untuk memperkuat peran pelaku usaha dalam negeri sekaligus memberi kemudahan bagi jamaah.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj, Jaenal Effendi, mengatakan inisiatif tersebut lahir dari temuan bahwa sebagian besar barang yang selama ini diburu jamaah di Tanah Suci justru diproduksi di Indonesia.

Namun, produk-produk itu masuk ke pasar Saudi melalui jalur distribusi panjang yang membuat nilai tambahnya dinikmati pihak lain.

“Kami ingin jamaah tetap bisa membawa pulang oleh-oleh, tapi manfaat ekonominya kembali ke dalam negeri. Banyak produk yang dibeli di sana sebenarnya buatan Indonesia,” kata Jaenal.

Melalui platform yang tengah dikembangkan, jamaah nantinya dapat memesan oleh-oleh sejak masih di asrama haji atau selama menjalankan ibadah. Pesanan akan diproses di Indonesia dan dikirim langsung ke alamat rumah jamaah menggunakan jasa logistik nasional, sehingga tidak perlu lagi membawa barang berlebih dari Arab Saudi.

Menurut Jaenal, pendekatan ini sekaligus menghindarkan pemborosan devisa karena transaksi sepenuhnya dilakukan di dalam negeri.

“Kami tidak perlu investasi besar ke luar negeri. Produknya dibeli dari produsen lokal dan diedarkan dari Indonesia,” ujarnya.

Sejumlah komoditas telah dipetakan sebagai calon unggulan oleh-oleh haji. Kurma dari Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu contoh yang dinilai memiliki kualitas tinggi di tingkat global. Selain itu, tasbih produksi perajin Jepara yang selama ini mendominasi pasar Makkah juga masuk dalam daftar, bersama produk cokelat dari Garut.

“Selama ini jamaah membeli tasbih di Saudi, padahal asalnya dari Jepara. Cokelat juga banyak yang dari Garut. Ini potensi besar yang harus diorganisasi dengan baik,” tutur Jaenal.

Untuk memastikan kualitas dan kesiapan produk, Kemenhaj berencana menggelar Expo UMKM Oleh-Oleh Haji. Pameran ini akan dibagi ke dalam tiga wilayah besar, Indonesia barat, tengah, dan timur, sebagai ajang kurasi bagi produk yang layak ditawarkan kepada jamaah.

Berdasarkan catatan Kemenhaj, jamaah haji Indonesia umumnya memiliki alokasi belanja yang cukup besar untuk oleh-oleh, bahkan mencapai puluhan kilogram per orang. Jika potensi tersebut dialihkan ke produk dalam negeri melalui platform resmi, dampaknya diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah sentra produksi.

“Kami optimistis skema ini akan diminati. Jamaah lebih praktis, UMKM berkembang, dan ekonomi haji bisa memberi manfaat lebih luas,” pungkas Jaenal.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal