Pangannews.id - Kerusakan lahan sawah dan tambak akibat timbunan lumpur pascabencana di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) mulai dipetakan pemerintah. Pemulihan ditargetkan berlangsung segera setelah Lebaran 2026, dengan fokus mengembalikan fungsi lahan sebagai sumber penghidupan warga.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan, lahan pertanian dan tambak yang terdampak tidak bisa dibiarkan terlalu lama terbengkalai. Selain mengganggu produksi pangan, kondisi itu juga memutus mata pencaharian masyarakat pesisir dan petani.
Pemerintah, kata dia, telah mengidentifikasi titik-titik lahan yang tertutup lumpur. Tahap berikutnya adalah menentukan apakah lahan tersebut masih bisa direhabilitasi atau harus dibuka ulang.
“Yang masih memungkinkan akan diperbaiki. Tapi kalau sudah rusak berat, akan dilakukan pencetakan lahan baru,” ujar Tito usai rapat koordinasi, Selasa.
Pendekatan serupa diterapkan pada sektor tambak. Tambak udang yang tertimbun lumpur akan dibersihkan dan diaktifkan kembali. Jika kerusakan terlalu parah, pemerintah membuka opsi pembangunan tambak baru di lokasi yang lebih layak.
Upaya ini melibatkan lintas kementerian, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Pertanian. Koordinasi dilakukan untuk memastikan pemulihan berjalan serentak dan tidak terhambat aspek teknis di lapangan.
Pemulihan lahan menjadi krusial karena sebagian besar warga terdampak menggantungkan ekonomi pada hasil sawah dan tambak. Tanpa percepatan, risiko penurunan pendapatan hingga krisis ekonomi lokal bisa terjadi.
Pemerintah menargetkan pekerjaan dimulai tepat waktu agar proses produksi bisa kembali berjalan dalam waktu singkat. Dengan begitu, siklus tanam dan budidaya tidak terlalu lama terhenti.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.