12 jam yang lalu
Pangannews.id - Fenomena El Niño selama ini identik dengan kekeringan, berkurangnya curah hujan, dan ancaman terhadap sektor pertanian. Namun di laut, kondisi yang sama justru dapat menciptakan peluang bagi sektor perikanan karena meningkatkan produktivitas perairan di sejumlah wilayah Indonesia.
Peneliti kelautan dari University of Maryland, R. Dwi Susanto, menjelaskan bahwa saat El Niño berkembang, suhu permukaan laut di beberapa kawasan Indonesia cenderung menurun. Perubahan tersebut memicu penguatan proses upwelling, yakni naiknya massa air kaya nutrien dari lapisan laut dalam ke permukaan.
Akibatnya, kandungan unsur hara di perairan meningkat dan mendorong pertumbuhan fitoplankton yang menjadi dasar rantai makanan laut. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya konsentrasi klorofil di permukaan laut.
"Pada saat El Niño, produktivitas perairan di selatan Jawa dan Sumatra meningkat karena konsentrasi klorofil menjadi lebih tinggi. Kondisi ini mendukung ketersediaan pakan alami dan berpotensi meningkatkan kelimpahan ikan," kata Dwi dalam forum ilmiah yang digelar BRIN dan University of Maryland, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, pola tersebut bukan fenomena baru. Sejumlah kejadian El Niño pada masa lalu menunjukkan peningkatan produktivitas biologis di perairan selatan Jawa, Bali, hingga Sumatra. Wilayah-wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan penangkapan ikan penting di Indonesia.
Peningkatan produktivitas primer itu kemudian merambat ke tingkat trofik yang lebih tinggi, termasuk populasi ikan yang menjadi target penangkapan nelayan. Dengan ketersediaan pakan yang melimpah, peluang meningkatnya stok ikan di wilayah tertentu menjadi lebih besar.
Tak hanya memengaruhi jumlah ikan, El Niño juga dapat mengubah pola persebaran spesies bernilai ekonomi tinggi seperti tuna.
Secara umum, sebagian populasi tuna mengikuti pergerakan massa air hangat ke arah timur Samudra Pasifik. Namun di sejumlah perairan Indonesia, perubahan kondisi laut selama El Niño justru dapat menguntungkan aktivitas penangkapan.
Dwi menjelaskan bahwa kedalaman termoklin, lapisan pembatas antara air hangat di permukaan dan air dingin di bawahnya, cenderung menjadi lebih dangkal saat El Niño. Kondisi tersebut membuat tuna berada lebih dekat ke permukaan laut sehingga lebih mudah dijangkau nelayan.
"Pada beberapa wilayah, tuna menjadi lebih dekat ke permukaan sehingga lebih mudah ditangkap. Karena itu, dampak El Niño terhadap sektor perikanan tidak selalu negatif," ujarnya.
Meski membuka peluang bagi sektor perikanan, para peneliti mengingatkan bahwa dampak El Niño tidak seragam di seluruh wilayah perairan Indonesia. Perubahan kondisi oseanografi dapat memberikan manfaat di satu kawasan, tetapi menimbulkan tekanan pada ekosistem laut di kawasan lain.
Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah gangguan terhadap ekosistem terumbu karang akibat perubahan suhu dan kondisi lingkungan laut. Karena itu, pemantauan laut secara berkelanjutan dinilai penting agar pemerintah dan pelaku perikanan dapat mengantisipasi risiko sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul.
Editor : Adi Permana
Selasa, 02 Juni 2026 10:56 WIB
Jumat, 29 Mei 2026 11:07 WIB
Selasa, 19 Mei 2026 12:35 WIB
Senin, 18 Mei 2026 11:50 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...