4 jam yang lalu
Pangannews.id - Di tengah maraknya pengembangan sapi hasil persilangan yang berukuran lebih besar dan memiliki nilai jual tinggi, keberadaan Sapi Peranakan Ongole (PO) atau yang dikenal sebagai Sapi Jawa semakin terancam.
Populasi sapi lokal yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung peternakan rakyat itu terus terdesak oleh preferensi peternak terhadap sapi silangan.
Padahal, sapi PO memiliki sejumlah keunggulan yang sulit ditandingi. Selain mampu beradaptasi dengan baik terhadap iklim tropis, sapi ini dikenal tahan terhadap kondisi lingkungan yang beragam dan memiliki tingkat reproduksi yang relatif baik.
Dilansir dari laman resmi UGM, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung Budiyanto, menyebut sapi PO merupakan salah satu plasma nutfah ternak asli Indonesia yang perlu dijaga keberlangsungannya.
"Keunggulannya sangat adaptif dan mudah bunting. Namun kelemahannya memang ukuran tubuhnya lebih kecil dibanding sapi hasil persilangan," kata Agung.
Kondisi tersebut membuat banyak peternak beralih ke sapi silangan yang dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi karena bobotnya lebih besar. Akibatnya, populasi sapi PO terus menghadapi tekanan dan berisiko semakin berkurang apabila tidak dilakukan upaya pelestarian secara serius.
Persoalan ini tidak hanya menyangkut keberadaan satu jenis ternak lokal, tetapi juga menyangkut ketahanan genetik peternakan nasional. Hilangnya sapi PO berarti berkurangnya sumber daya genetik yang selama ini terbukti mampu bertahan pada kondisi lingkungan tropis Indonesia.
Untuk mencegah penurunan populasi, tim Fakultas Kedokteran Hewan UGM mulai menerapkan berbagai teknologi reproduksi dan manajemen peternakan modern di tingkat peternak. Langkah yang disiapkan meliputi sinkronisasi birahi, inseminasi buatan, hingga transfer embrio guna mempercepat peningkatan populasi sapi PO.
Selain aspek reproduksi, perhatian juga diarahkan pada kualitas pakan dan kesehatan ternak. Peternak diperkenalkan pada teknologi pembuatan pakan fermentasi berbasis bahan lokal yang dinilai mampu meningkatkan kualitas nutrisi sekaligus memanfaatkan limbah pertanian.
Digitalisasi juga mulai masuk ke kandang. Sistem pencatatan berbasis QR Code diterapkan untuk memantau kesehatan dan reproduksi setiap ekor sapi secara lebih akurat. Melalui sistem ini, riwayat kesehatan, pengobatan, hingga status reproduksi ternak dapat diakses dengan lebih mudah.
Langkah penyelamatan sapi PO dinilai penting di tengah upaya pemerintah meningkatkan produksi daging nasional. Selain menjaga keberagaman genetik ternak lokal, peningkatan populasi sapi PO juga dapat menjadi salah satu alternatif memperkuat ketahanan pangan berbasis sumber daya dalam negeri.
Bagi kalangan akademisi dan peternak, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar meningkatkan jumlah ternak, melainkan memastikan sapi lokal yang telah lama beradaptasi dengan lingkungan Indonesia tidak hilang akibat dominasi sapi hasil persilangan yang semakin masif.
Editor : Adi Permana
Jumat, 05 Juni 2026 14:22 WIB
Kamis, 04 Juni 2026 15:26 WIB
Senin, 01 Juni 2026 14:05 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...