3 jam yang lalu
Pangannews.id - Pemerintah membuka peluang mengubah skema bantuan pangan nasional agar tidak lagi terpaku pada beras dan Minyakita. Ke depan, isi bantuan pangan dapat disesuaikan dengan kondisi produksi dan harga komoditas di pasar, mulai dari telur, ikan, hingga daging ayam.
Kebijakan tersebut disiapkan sebagai instrumen baru untuk menyerap kelebihan produksi pangan sekaligus menjaga harga di tingkat petani, peternak, dan nelayan. Dengan cara itu, program bantuan pangan tidak hanya berfungsi membantu masyarakat penerima manfaat, tetapi juga menjadi penyangga saat harga komoditas anjlok akibat pasokan berlebih.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah tengah menyiapkan mekanisme agar komoditas yang mengalami surplus produksi dapat masuk dalam skema bantuan pangan.
"Ketika harga telur sedang turun, maka bantuan pangan tidak mesti Minyakita atau beras, tetapi bisa juga telur. Jadi ini dalam rangka menyerap produk-produk makanan kita atau bahan pokok kita yang produksinya sedang meningkat," kata Budi.
Gagasan tersebut muncul setelah harga telur di sejumlah sentra produksi mengalami tekanan akibat melimpahnya pasokan. Salah satu daerah yang terdampak adalah Blitar, Jawa Timur, yang merupakan salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia.
Menurut Budi, pemerintah telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah surplus produksi dapat menyerap telur untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kami sudah berkoordinasi dengan BGN agar SPPG di daerah tersebut diwajibkan menyerap telur sehingga harga bisa mendekati atau sesuai HET," ujarnya.
Langkah tersebut diharapkan mampu mengangkat harga telur yang sempat turun dan memberikan ruang keuntungan yang lebih layak bagi peternak.
Data pemerintah menunjukkan produksi telur nasional saat ini mengalami surplus sekitar 12 persen. Di satu sisi kondisi ini menunjukkan kapasitas produksi yang meningkat, namun di sisi lain dapat menekan harga jika tidak diimbangi dengan penyerapan yang memadai.
"Produksi telur sekarang surplus 12 persen. Penyerapannya sebenarnya ada, tinggal bagaimana mengatur manajemennya dengan baik sehingga telur bisa terserap optimal," kata Budi.
Pemerintah menegaskan pola serupa tidak hanya akan diterapkan pada telur. Komoditas lain seperti ikan dan daging ayam juga berpotensi masuk ke dalam program bantuan pangan maupun MBG apabila mengalami kelebihan pasokan yang berujung pada penurunan harga.
"Misalnya ikan atau ayam. Ketika harga turun di bawah HET, maka BGN juga akan kita minta menyerapnya melalui SPPG," pungkas Budi.
Editor : Adi Permana
Kamis, 04 Juni 2026 12:27 WIB
Kamis, 04 Juni 2026 12:19 WIB
Kamis, 04 Juni 2026 09:14 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...