Bukan Sekadar Kemarau, Pendangkalan Irigasi Picu Kekeringan di Sentra Padi Nagan Raya

Pers Pangannews

13 jam yang lalu

news
Bendung Jeuram berada di Lhok Seumot Nagan Raya, tahun 2025. (Foto : dok. Kementerian PU)

Pangannews.id - Kekeringan mulai mengancam sektor pertanian di Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Sedikitnya 600 hektare sawah di dua kecamatan mengalami kekurangan air akibat menurunnya debit aliran Irigasi Jeuram yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan air bagi ribuan hektare lahan pertanian di daerah tersebut.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran terhadap kelangsungan musim tanam dan produksi padi di salah satu daerah sentra pertanian di pantai barat Aceh. Pemerintah Kabupaten Nagan Raya pun mendesak Balai Pengairan Provinsi Aceh segera melakukan normalisasi saluran irigasi yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi pasir dan lumpur.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Nagan Raya, Marzuki, mengatakan berkurangnya kapasitas saluran membuat distribusi air ke areal persawahan tidak lagi optimal. Akibatnya, ratusan hektare sawah di Kecamatan Kuala dan Suka Makmue mulai mengalami kekeringan.

"Debit air yang mengalir saat ini sangat kurang karena saluran sudah dangkal akibat sedimen pasir dan lumpur," kata Marzuki.

Padahal, daerah Irigasi Jeuram merupakan salah satu jaringan irigasi utama yang melayani sekitar 12 ribu hektare lahan pertanian. Sistem ini memasok air melalui Saluran Induk Seunagan dan sejumlah saluran sekunder yang menjangkau kawasan persawahan di berbagai kecamatan.

Di Kecamatan Kuala, lahan terdampak tersebar di 11 desa. Desa Ujong Pasi menjadi wilayah dengan luasan terdampak terbesar mencapai 105 hektare, disusul Alue Ie Mameh 80,25 hektare, Simpang Peut 76,5 hektare, dan Blang Muko 73 hektare. Sementara di Kecamatan Suka Makmue, kekeringan melanda Desa Macah seluas 68,38 hektare dan Desa Seumambek 30,34 hektare.

Sebagian wilayah yang terdampak merupakan sawah tadah hujan yang memang rentan ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang. Namun menurut pemerintah daerah, faktor utama yang memperparah kondisi saat ini adalah menurunnya fungsi saluran irigasi akibat sedimentasi yang belum ditangani.

Masalah tersebut dinilai tidak bisa dianggap sepele. Selain menghambat pengairan pada musim tanam berjalan, pendangkalan irigasi juga berpotensi mengganggu persiapan musim tanam berikutnya. Petani membutuhkan pasokan air yang cukup untuk mengolah lahan sebelum penanaman dilakukan.

Jika situasi berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan pada penurunan produktivitas pertanian, tetapi juga berpotensi memicu persoalan sosial di tingkat petani. Keterbatasan pasokan air di bagian hilir kerap memunculkan persaingan dalam pembagian air irigasi.

Marzuki mengingatkan, kelangkaan air yang terus terjadi dapat memicu gesekan antarpetani yang sama-sama membutuhkan pasokan untuk menyelamatkan tanaman mereka.

"Kalau tidak segera ditangani, petani akan kesulitan mengolah tanah. Bahkan berpotensi terjadi perselisihan karena berebut air untuk sawah," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Nagan Raya berharap pemerintah provinsi segera turun tangan melakukan pengerukan sedimen secara menyeluruh agar fungsi Irigasi Jeuram kembali normal. Langkah tersebut dinilai mendesak untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan daerah sekaligus mencegah kerugian yang lebih besar di tingkat petani.

Bagi Nagan Raya, Irigasi Jeuram bukan sekadar saluran air. Infrastruktur itu merupakan urat nadi yang menentukan hidup-matinya aktivitas pertanian di wilayah yang selama ini bergantung pada sektor pangan sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...