23 jam yang lalu
Pangannews.id - Harga telur ayam ras yang sempat terpuruk dalam beberapa pekan terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut meningkatnya permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), berakhirnya bulan Suro, serta dimulainya kembali aktivitas sekolah menjadi faktor utama yang mengangkat harga di tingkat peternak.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan harga telur sebelumnya sempat jatuh hingga sekitar Rp15.000 per kilogram di tingkat kandang. Kondisi tersebut membuat peternak menghadapi tekanan karena harga berada jauh di bawah biaya produksi.
"Telur naik alhamdulillah, karena kemarin harganya di kandang sampai Rp15.000," ujar Ketut saat meninjau Pasar Tebet Timur, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, situasi mulai berubah setelah permintaan kembali meningkat. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kembali menyerap telur untuk mendukung program MBG, sementara berakhirnya bulan Suro dan dimulainya tahun ajaran baru ikut mendongkrak konsumsi masyarakat.
"Nah ini sudah tepat sekali dengan mulainya SPPG, bulan Suro sudah kita lewati, anak-anak sekolah sudah mulai masuk dan harga linier mulai naik," katanya.
Saat ini, harga telur di tingkat peternak telah bergerak ke kisaran Rp22.000 hingga Rp23.000 per kilogram. Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah harga yang dinilai ideal, yakni sekitar Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram.
Sementara itu, Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia menunjukkan harga rata-rata telur ayam ras di tingkat produsen pada 20 Juli 2026 mencapai Rp25.750 per kilogram.
Ketut menegaskan pemerintah berupaya menjaga agar harga tetap berada pada level yang sehat. Menurutnya, harga yang terlalu rendah akan merugikan peternak dan berpotensi menurunkan produksi dalam negeri.
"Jangan sampai peternak kita, petani kita, harganya terlalu jatuh sekali. Nanti mereka tidak mau berproduksi, masa kita impor lagi," ujarnya.
Di sisi lain, Bapanas juga mewaspadai potensi kenaikan inflasi pangan seiring membaiknya harga telur. Namun, pemerintah menilai kondisi tersebut masih terkendali selama harga bergerak dalam kisaran harga acuan.
"Pemerintah menjaga ritmenya. Jangan terlalu tinggi, jangan terlalu rendah. Pada saat rendah intervensi, pada saat tinggi intervensi. Selama masih di harga acuan berarti masih bagus," kata Ketut.
Di tingkat konsumen, tren harga juga mulai bergerak naik. Berdasarkan data PIHPS Nasional, harga rata-rata telur ayam ras di pasar tradisional tercatat sebesar Rp29.250 per kilogram pada 6 Juli 2026, turun tipis menjadi Rp29.000 per kilogram pada 14 Juli, lalu kembali meningkat menjadi Rp31.300 per kilogram pada 20 Juli 2026.
Editor : Adi Permana
Kamis, 16 Juli 2026 12:46 WIB
Rabu, 15 Juli 2026 11:21 WIB
Senin, 13 Juli 2026 07:34 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...