Presiden Prabowo: Indonesia Sudah Swasembada Delapan Komoditas Pangan

Pers Pangannews

16 jam yang lalu

news
Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/7/2026). (Foto : Kementan)

Pangannews.id - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa sektor pertanian menjadi fondasi utama pembangunan nasional. Di tengah gejolak global, Indonesia berhasil mencatat berbagai capaian strategis, mulai dari swasembada delapan komoditas pangan, cadangan beras pemerintah tertinggi sepanjang sejarah, hingga Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai level tertinggi sejak Indonesia merdeka.

Hal tersebut disampaikan Presiden saat memberikan taklimat pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/7/2026). Presiden menegaskan bahwa ukuran utama keberhasilan sebuah negara adalah kemampuannya menyediakan pangan bagi rakyatnya.

"Setiap negara, setiap perekonomian itu pasti diukur. Kita bertanya, apakah bangsa itu bisa memberi pangan, memberi makan untuk rakyatnya. Itu yang paling mendasar. Untuk apa kita merdeka kalau kita tidak bisa memberi yang paling dasar dari sebuah peradaban, yaitu pangan," ujar Presiden.

Menurut Presiden, tidak ada peradaban yang mampu bertahan tanpa ketahanan pangan. Karena itu, pemerintah menempatkan pembangunan pertanian sebagai prioritas utama melalui penyediaan lahan produktif, pengelolaan air, kebijakan yang berpihak kepada petani, serta ketersediaan pupuk yang terjangkau.

"Kita bertanya sekarang, apakah harga pangan terkendali, apakah pupuk tersedia untuk rakyat, untuk petani, dan dengan harga yang terjangkau. Itulah yang terus kita kerjakan," katanya.

Presiden menyampaikan bahwa berbagai kebijakan yang dijalankan Kabinet Merah Putih telah membuahkan hasil nyata.

"Tadi saya sudah sebut, kita sudah swasembada delapan komoditas pangan. Cadangan beras kita tertinggi selama sejarah NKRI. Nilai Tukar Petani kita tertinggi selama sejarah NKRI," tegas Presiden.

Presiden menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia mampu memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah kondisi dunia yang menghadapi ancaman krisis pangan akibat konflik dan perubahan iklim.

"Dunia sedang perang. Banyak negara risau dan panik menghadapi masalah pangan. Kita sudah lebih dahulu memperkuat ketahanan pangan kita," ujarnya.

Presiden juga menegaskan bahwa seluruh kebijakan pemerintah berlandaskan amanat Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 33, yang menempatkan pengelolaan sumber daya alam sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Menurut Presiden, kekuatan ekonomi nasional harus diwujudkan melalui keberpihakan kepada rakyat, termasuk memastikan seluruh masyarakat memperoleh akses terhadap pangan yang cukup, bergizi, dan terjangkau.

Selain memperkuat produksi pangan, pemerintah juga terus menjalankan program Makan Bergizi Gratis sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mengurangi kemiskinan dan stunting.

Presiden menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh takut membangun kekuatan sendiri, termasuk dalam mewujudkan kemandirian pangan dan energi.

"Kita percaya kepada kekuatan kita sendiri. Kita percaya kepada hal-hal yang mendasar. PBB pun telah mengingatkan bahwa tantangan terbesar dunia adalah pangan, energi, dan air. Karena itu tidak boleh ada rakyat Indonesia yang lapar," tegas Presiden.

Presiden pun mengajak seluruh jajaran Kabinet Merah Putih untuk terus bekerja lebih keras, menjaga momentum capaian sektor pertanian, serta belajar dari berbagai negara yang berhasil membangun ketahanan pangan, agar Indonesia semakin kokoh sebagai bangsa yang mandiri, berdaulat, dan mampu menjamin kesejahteraan seluruh rakyatnya.

Dalam setiap kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menjelaskan bahwa capaian sektor pertanian tersebut merupakan hasil kerja bersama pemerintah, petani, penyuluh, TNI/Polri, pemerintah daerah, akademisi, serta seluruh pelaku usaha pertanian. Menurut Mentan Amran, berbagai indikator utama sektor pertanian saat ini menunjukkan tren yang semakin positif.

"Capaian yang disampaikan merupakan hasil kerja keras seluruh pihak. Saat ini Indonesia telah mampu mencapai swasembada seperti yang disampaikan Bapak Presiden pada delapan komoditas pangan strategis. Cadangan Beras Pemerintah juga telah menembus lebih dari 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, sehingga ketahanan pangan nasional berada pada posisi yang sangat kuat," ujar Mentan Amran.

Mentan Amran menambahkan, kesejahteraan petani juga terus meningkat. Nilai Tukar Petani (NTP) mencatat level tertinggi sepanjang sejarah senilai 127,73 didorong oleh kebijakan pemerintah yang menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah, memperbaiki tata kelola distribusi pupuk, serta menurunkan harga pupuk sekitar 20 persen tanpa menambah beban anggaran negara.

Selain itu, Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh 5,74 persen, menjadi yang tertinggi dalam sekitar 25 tahun terakhir.

Pemerintah juga memastikan produksi bulanan berada di atas kebutuhan konsumsi nasional sehingga pasokan pangan tetap aman dan stabil.

"Ke depan kami akan terus mengawal arahan Bapak Presiden agar produksi meningkat, kesejahteraan petani terus naik, harga pangan kita dorang agar tetap stabil dan membaik, dan Indonesia semakin kokoh sebagai negara yang berdaulat di bidang pangan," pungkas Mentan. (*ADV)


Kolom Komentar

You must login to comment...