TMC Makin Sulit, Kemenhut Gunakan Sumur Bor untuk Padamkan Karhutla

Pers Pangannews

21 jam yang lalu

news
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan. (Foto : dok. Kemenhut)

Pangannews.id - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengubah strategi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah krisis pasokan air yang terjadi di sejumlah wilayah rawan Sumatera dan Kalimantan. Sumur bor kini dimaksimalkan untuk menyediakan sumber air bagi tim pemadam.

Kepala Bagian Pelayanan dan Penyajian Informasi Publik Kemenhut, Agus Yasin, mengatakan kondisi kemarau yang berlangsung panjang membuat upaya pemadaman melalui hujan buatan semakin sulit dilakukan.

Ia menyebut, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebelumnya masih dapat digunakan untuk membantu menghasilkan hujan. Namun, seiring berlanjutnya musim kemarau, ketersediaan bibit awan semakin menipis.

“Kalau kemarin-kemarin kita masih bisa menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk hujan buatan, cuman semakin ke sini bibit-bibit awan semakin menipis,” kata Agus.

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla lebih banyak mengandalkan kekuatan personel di lapangan. Agus mengatakan semakin banyak pasukan darat yang diterjunkan, semakin efektif pula penanganan kebakaran.

Krisis air menjadi tantangan lain yang harus dihadapi. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diterima Kemenhut, sejumlah wilayah telah mengalami hampir 30 hari tanpa hujan. Kondisi itu diperkirakan masih dapat berlangsung hingga 60 hari.

“Jadi musim kemarau ini, kemarin kami dikabari dari BMKG, sudah hampir 30 hari tanpa hujan. Ini kemungkinan bisa jadi sampai 60 hari tanpa hujan,” ujarnya.

Untuk mendapatkan sumber air, tim satuan tugas gabungan yang terdiri atas Kemenhut, TNI, Polri, dan instansi terkait kini membuat sumur bor hingga menembus bagian dalam lapisan lahan gambut.

Langkah tersebut dilakukan karena kawasan gambut memiliki kesatuan hidrologis yang masih menyimpan cadangan air pada kedalaman tertentu. Dengan mengebor hingga ke lapisan tersebut, petugas dapat memperoleh sumber air yang dibutuhkan untuk pemadaman.

“Jadi kita tinggal tusuk buat sumur bor secara langsung itu bisa dapat airnya. Jadi itulah yang saat ini dimaksimalkan dalam pengendalian kebakaran khususnya di Sumatera dan Kalimantan,” kata Agus.

Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga meminta penambahan sumur bor untuk menghadapi krisis air dalam penanganan karhutla di Kalimantan Selatan. Penambahan itu dinilai penting menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada September.

Sejumlah sumur bor telah digunakan petugas untuk mendukung pemadaman, salah satunya di kawasan sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor yang dinilai rawan terbakar.

“Sumur bor ini menjadi sumber air utama saat sulitnya mendapatkan air untuk pemadaman,” kata Raja Juli.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...