Kemarau Ekstrem Bikin Jagung Petani Demak ‘Stunting’, Hasil Panen Anjlok

Pers Pangannews

15 jam yang lalu

news
Lahan pertanian jagung di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, mengalami kekeringan akibat kemarau.

Pangannews.id – Buah jagung berukuran kecil menjadi pemandangan di sejumlah lahan pertanian di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kekurangan air selama musim kemarau ekstrem membuat tanaman tidak tumbuh dan berbuah secara optimal.

Petani di Kecamatan Mranggen dan Karangawen mengaku kondisi tersebut berdampak langsung terhadap hasil panen. Produktivitas jagung bahkan disebut turun hingga sekitar 50 persen dan menyebabkan petani mengalami kerugian.

Hambali, petani di Desa Sumberejo, Kecamatan Mranggen, mengatakan banyak tanaman jagung di lahannya tidak menghasilkan buah. Sementara tanaman yang masih berbuah menghasilkan ukuran yang jauh lebih kecil dibandingkan kondisi normal.

“Ini padahal aslinya jagung besar, tetapi karena sejak awal tanam sampai sekarang kekurangan pasokan air, buahnya menjadi kecil. Iya kayak stunting. Jadi yang mengalami stunting tidak hanya anak, tanaman jagung juga bisa stunting karena kekurangan air,” jelasnya, dikutip dari laman resmi Pemkab Demak.

Menurut Hambali, persoalan utama terjadi karena pasokan air tidak mencukupi selama masa pertumbuhan tanaman. Padahal, jagung membutuhkan air yang cukup, terutama sejak fase pertumbuhan hingga pembentukan buah.

Dalam kondisi normal, satu hektare lahan jagung dapat menghasilkan sekitar 1,5 ton. Namun, saat ini hasil yang diperoleh diperkirakan hanya sekitar lima kuintal per hektare.

“Kalau biasanya satu hektare bisa mendapatkan 1,5 ton, sekarang lima kuintal saja tidak terpenuhi. Penurunannya sekitar 50 persen dan tentu menjadi kerugian bagi petani,” katanya saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Kekeringan ekstrem yang melanda Demak memang tidak hanya menyulitkan warga mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Lahan pertanian juga ikut terdampak karena tanaman tidak memperoleh pasokan air yang dibutuhkan.

Bagi Hambali, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena pertanian menjadi salah satu penopang ketahanan pangan. Menurut dia, upaya meningkatkan ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan mendorong produksi, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar petani untuk mengelola lahannya terpenuhi.

“Bagaimana bisa mewujudkan Asta Cita Presiden terkait ketahanan pangan kalau petaninya tidak diperhatikan? Kami berharap persoalan pengairan juga menjadi perhatian,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah melalui BBWS dapat melakukan normalisasi Bendung Mbarang agar kembali berfungsi secara optimal. Dengan demikian, kebutuhan air untuk lahan pertanian di wilayah tersebut diharapkan dapat lebih terpenuhi.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...